ANAK HIPERAKTIF

ANAK HIPERAKTIF

PENDAHULUAN
      Gangguan Pemusatan Perhatian (Hiperaktivitas) - disingkat GPP/H - sering pula disebut Attention Defisit and Hyperactivity Disorder - disingkat ADHD - adalah gangguan perilaku yang sering terjadi pada anak. Gangguan ini ditandai dengan adanya gejala ketidakmampuan anak untuk memusatkan perhatiannya pada sesuatu yang dihadapi, sehingga rentang perhatiannya sangat buruk atau sangat singkat waktunya dibandingkan anak-anak lain yang seusianya. Gejala lain yang menyertai adalah adanya tingkah laku yang hiperaktif dan tingkah laku yang impulsif (tidak dipikir lebih dulu kepentingan dan akibatnya). Gangguan ini dapat menimbulkan akibat buruk yang menghambat perkembangan anak, baik dalam perkembangan kognitif (penalaran), emosi, perilaku, sosialisasi maupun komunikasi.
Gangguan ini dapat terjadi sejak dari usia bayi sampai 12 tahun. Sering didapatkan pada anak-anak usia sekolah, sehingga menimbulkan kesulitan belajar. Prevalensinya antara 2-5%, dengan perbandingan anak laki-laki dan perempuan 3:1.
    Gangguan ini bisa sembuh spontan tanpa terapi, akan tetapi sering berlanjut, sehingga mengganggu proses perkembangan anak.

PENYEBAB
Penyebab secara pasti sampai saat ini belum diketahui. Ada beberapa dugaan, antara lain :

  1. Genetik (keturunan).
  2. Cidera otak.
  3. Gangguan pada neurotransmitter (hormon otak). Diduga ada gangguan fungsi sistem adrenergik dan dopaminergik.      
  4. Gangguan neurologis (jaringan syaraf).
  5. Gangguan psikososial (pengaruh lingkungan).

Ada kemungkinan beberapa faktor tersebut di atas saling berinteraksi.

GAMBARAN KLINIS
     Anak hiperaktif mempunyai gambaran klinis yang bersifat spektrum, artinya dari gejala yang paling ringan sampai gejala yang paling berat. Demikian pula gambaran klinis yang ditampilkan berbeda-beda untuk tiap anak. Perbedaan ini dapat diakibatkan oleh karena usia anak, usia onset (awal gangguan) dari gangguan dan juga berat ringannya gangguan.
    Pada usia bayi, akan nampak bayi sangat sensitif terhadap suara, cahaya, temperatur dan perubahan lingkungan. Bayi akan menjadi mudah rewel, aktif ditempat tidur, tidurnya sedikit dan sering menagis. Orang tua, terutama ibunya akan mengeluh bahwa bayinya sangat sulit dalam perawatannya (difficult child).      Akan tetapi ada pula bayi-bayi yang menampakkan gejala tenang, sulit untuk menyusu, lemah, banyak tidur dan perkembangannya terlambat.
    Pada anak-anak pra sekolah, tampak kurang konsentrasi, aktivitas berlebihan dan tidak dapat diam. Sehingga anak memerlukan pengawasan dari pengasuh atau gurunya yang berlebih dibandingkan dengan anak lain yang normal. Anak tidak mampu untuk menunggu giliran, apabila ada kegiatan yang memerlukan giliran. Anak dalam bermain tidak pernah selesai dengan baik, dan ada kecenderungan untuk ganti-ganti mainan. Emosinya sangat sensitif, sehingga mudah marah dan meledak kemarahannya. Oleh karena tingkah lakunya yang hiperaktif, maka anak sangat rentan untuk terjadinya kecelakaan.
  Pada anak usia sekolah, nampak perilaku agresif, khususnya terhadap teman-teman bermainnya. Perilaku menentang terhadap guru dan temannya juga bisa terjadi. Akibatnya, di sekolah anak akan mengalami kesulitan dalam belajar dan bergaul dengan teman-teman sebayanya.
  Para orang tua sering mengalami kesulitan dalam mengasuh anak dan mengeluhkan tentang anaknya tersebut, antara lain :

  1. Hiperaktif.
  2. Gangguan motorik (mudah bereaksi bila disentuh)
  3. Emosi labil.
  4. Kesulitan koordinasi motorik (keseimbangan terganggu).
  5. Kurang konsentrasi
  6. Impulsif (tindakan tidak dipikir dulu)
  7. Gangguan daya ingat dan cara berpikir
  8. Kesulitan belajar, khususnya yang membutuhkan konsentrasi yang penuh
  9. Terlambat bicara atau kurang pendengaran

     Apabila sebelumnya anak sudah diperiksa oleh dokter syaraf  (neurologi) atau dokter anak, akan dilaporkan adanya tanda-tanda neurologi samar, dan gangguan fungsi pada EEG (rekaman gelombang listrik otak).
    Perjalanan dari gangguan ini bisa hilang sendiri sebelum usia 12 tahun. Pada umumnya akan mengakibatkan terjadinya keterlambatan perkembangan anak dalam beberapa aspek perkembangan. Bisa juga gangguan ini menetap sampai dewasa dengan tetap ada gejala-gejala sisa. Bisa juga merupakan dasar untuk terjadinya gangguan kepribadian anti sosial pada masa dewasa.

 DIAGNOSIS
     Diagnosis berdasarkan pedoman dari Depkes R.I. adalah sebagai berikut :
A. Tidak dapat konsentrasi.
    Minimal ada 6 gejala yang menetap, dalam waktu sekurang-kurangnya 6 bulan dari 9 gejala berikut ini :

  1. Tidak mampu memberikan perhatian terhadap hal-hal yang kecil, sering membuat kesalahan yang sesungguhnya tidak perlu terjadi pada waktu mengerjakan tugas di sekolah.
  2. Tidak mampu memusatkan perhatian secara terus menerus pada waktu menyelesaikan tugas atau bermain.
  3. Sering tampak seperti tidak mendengarkan.
  4. Sering tidak dapat mengikuti perintah dan gagal menyelesaikan tugas sekolah atau tugas lainnya.
  5. Sering mengalami kesulitan untuk mengatur tugas atau aktivitas lainnya.
  6. Sering menolak atau tidak menyukai tugas yang memerlukan perhatian terus menerus.
  7. Sering kehilangan barang-barang yang diperlukan.
  8. Perhatiannya mudah beralih oleh rangsang dari luar.
  9. Sering lupa dalam menyelesaikan tugas sehari-hari.

B. Hiperaktivitas dan Impulsivitas
    Minimal ada 6 gejala yang menetap, dalam waktu sekurang-kurangnya 6 bulan dari 9 gejala berikut ini.
Hiperaktivitas :

  1. Tidak dapat duduk diam, tangan dan kaki tidak dapat diam.
  2. Sering meninggalkan tempat duduk pada waktu mengikuti kegiatan di dalam kelas atau kegiatan lainnya yang mengharuskan tetap duduk.
  3. Berlari-lari atau memanjat secara berlebihan.
  4. Tidak dapat mengikuti aktivitas dengan tenang.
  5. Selalu bergerak terus, seperti didorong oleh mesin.
  6. Sering banyak bicara.
    Impulsivitas :
  7. Terlalu cepat memberikan jawaban, sebelum pertanyaan selesai didengar.
  8. Sulit menunggu giliran.
  9. Sering melakukan interupsi atau mengganggu orang lain.

C. Gejala-gejala tersebut terjadi sebelum usia 7 tahun.

D. Gejala-gejala tersebut terjadi pada lebih dari satu situasi (rumah, sekolah, tempat umum).

E. Gejala tersebut secara klinis nyata menimbulkan hendaya (kesulitan) dalam kegiatan sosial, sekolah dan tugas-tugas lainnya.

F. Gejala-gejala tersebut tidak diakibatkan oleh gangguan perkembangan pervasif (gangguan perkembangan berat), skizofrenia dan gangguan jiwa lainnya.
       Secara klinis anak hiperaktif ada 3 sub tipe :

  1. Predominan inatensi. Pada sub tipe ini gejala ketidakmampuan untuk konsentrasi lebih menonjol.
  2. Predominan hiperaktif dan impulsivitas. Pada sub tipe ini gejala hiperaktif dan impulsivitas lebih menonjol.
  3. Predominan kombinasi. Pada sub tipe ini gejala ketidakmampuan konsentrasi, hiperaktivitas dan impulsivitas sama-sama menonjol.


DIAGNOSIS BANDING.
       Oleh karena pada anak hiperaktif sering terjadi perubahan perilaku, maka diagnosis banding yang paling utama adalah Gangguan Tingkah Laku (Conduct Disorder). Demikian pula karena sering ada keterlambatan atau gangguan dalam komunikasi maka diagnosis banding yang lain adalah Anak Autisme.

GANGGUAN TINGKAH LAKU
       Gangguan tingkah laku (GTL) atau kenakalan pada anak mempunyai gambaran yang mirip dengan hiperaktif, terutama dalam hal penyimpangan perilaku anak. Pada GTL penyimpangan perilaku tersebut dapat berbentuk :
1.    Merugikan diri sendiri.
2.    Merugikan orang lain.
3.    Dilakukan sendiri.
4.    Dilakukan berkelompok dengan anak lain.
        Penyimpangan perilaku pada GTL mempunyai jenis-jenis yang tergolong berat, antara lain :

  1. Mencuri (di luar rumah).
  2. Merusak barang.
  3. Berbohong.
  4. Melarikan diri dari rumah.
  5. Menganiaya binatang.
  6. Kekerasan seksual.
  7. Suka bermain api.
  8. Tindakan-tindakan provokatif.
  9. Suka menentang aturan yang dibuat orang dewasa.
  10. Mudah marah, bila marah meledak-ledak sampai disertai tindakan berbahaya.
  11. Sering melakukan sabotase.

     Ada beberapa persamaan penyimpangan perilaku yang sering muncul pada anak hiperaktif dan GTL:

  1. Adanya aktivitas yang berlebihan.
  2. Adanya sikap menentang terhadap aturan.
  3. Keras kepada yang sulit untuk ditaklukkan.
  4. Tidak patuh terhadap aturan yang ada di rumah maupun di sekolah.
  5. Suka memukul, melukai sampai tindakan kekerasan dalam bersosialisasi dengan teman sebaya.
  6. Tidak merasa melakukan kesalahan setelah melakukan tindakan yang menyimpang.
  7. Tidak menyesal dengan tindakannya sendiri.
  8. Tidak disiplin dengan kegiatan sehari-hari.
  9. Suka ngambek bila keinginannya tidak dipenuhi.
  10. Memerlukan pengawasan yang berlebih dibandingkan anak lain.

       Di samping ada persamaan seperti tersebut di atas, ada pula perbedaan yang bisa diamati (GTL : Gangguan Tingkah Laku, GPP : Gangguan Pemusatan Perhatian)

  1. Kemampuan konsentrasi
    GTL : masih mampu berkonsentrasi dengan baik, terutama pada kegiatan-kegiatan yang disukai. Misalnya : nonton TV, bermain play station, menggambar.
    GPP : tak mampu berkonsentrai atau kemampuan konsentrasinya terbatas.
  2. Tujuan aktivitas
    GTL : jelas tujuannya dan runtut.
    GPP : tidak dipikir, impulsivitas.
  3. Lama aktivitas
    GTL : bila terlalu lama bisa kelelahan
    GPP : tahan lama, tidak pernah kelelahan, seperti didorong mesin.
  4. Sosialisasi
    GTL : bisa diterima oleh teman-temannya dan bisa memimpin.
    GPP : tidak dapat diterima oleh teman-temannya dan tak dapat memimpin.
  5. Kondisi tidur
    GTL : sering mengigau, berteriak dan jalan-jalan waktu tidur.
    GPP : posisi tidur sering berubah-ubah, sering jatuh sehingga perlu diamankan.
  6. Patologi otak
    GTL : kondisi otak normal.
    GPP : myelinisasi axon tak sempurna.
  7. Arah perkembangan perilaku
    GTL : penyimpangan
    GPP : mengalami keterlambatan.
  8. Terapi
    GTL : terapi bermain dan terapi keluarga.
    GPP : terapi medikamentosa, terapi bermain dan terapi keluarga.


AUTISME INFANTIL
       Pada autisme infantil (anak autisme) terdapat gangguan atau keterlambatan dalam berkomunikasi. Gangguan ini mempunyai persamaan dan perbedaan dengan GPP. American Psychiatric Association (APA-1994) memberikan batasan anak autisme dengan kriteria sebagai berikut.

  1. Adanya gangguan kwalitas dalam interaksi sosial secara timbal balik.
  2. Adanya gangguan kwalitas dalam komunikasi verbal dan komunikasi non verbal serta aktivitas imaginatif.
  3. Minat dan aktivitasnya, ragamnya terbatas.Cenderung mempunyai aktivitas yang stereotipik.

Persamaan antara anak autisme  dengan GPP :

  1. Kurang mampu berkonsentrasi.
  2. Tidak mampu menunggu giliran.
  3. Sering meminta sesuatu dengan cara non verbal.
  4. Sering tidak mempedulikan lingkungan.
  5. Bila marah sulit untuk ditenangkan.
  6. Sulit bermain interaktif.
  7. Ibu bukan satu-satunya tempat berlindung,
  8. Respon emosi kurang atau berlebih.
  9. Minat untuk sosialisasi rendah.
  10. Sering terdapat gangguan dalam persepsi sensorik.


Perbedaan antara GPP dengan Autisme Infantil = Anak Autisme (AI):

  1. Hasil stimulasi
    GPP : dapat maju secara bertahap
    AI : kemajuan sangat lambat dan sulit untuk distimulasi.
  2. Ganti-ganti mainan
    GPP : ingin terus ganti-ganti mainan.
    AI : sulit untuk ganti mainan. Cenderung dengan mainan yang sama.
  3. GPP : sulit diarahkan.
    AI : sangat sulit diarahkan.
  4. Respon reaksi
    GPP : kadang-kadang aneh.
    AI : sering sangat aneh.
  5. Emosi
    GPP : bila marah kadang-kadang sulit diredakan.
    AI : bila marah sangat sulit diredakan.
  6. Sosialisasi :
    GPP : ingin sosialisasi akan tetapi ditolak oleh teman-temannya.
    AI : tidak mau sosialisasi.
  7. Penyimpangan perilaku
    GPP : kadang-kadang menyimpang
    AI : sering sangat menyimpang.
  8. Persepsi sensorik
    GPP : kadang mau dibelai
    AI : sering menolak untuk dibelai.
  9. Pengobatan :
    GPP : dengan psikostimulansia
    AI : dengan antipsikotika.


TERAPI
       Terapi meliputi :

  1. Farmakoterapi : dengan golongan psikostimulansia : methylfenidat.
    Sering dibutuhkan dalam waktu jangka pajang. Hal ini merupakan suatu kebutuhan, bukan suatu ketergantungan.
  2. Terapi perilaku dengan terapi bermain.
  3. Terapi edukasi.
  4. Psikoterapi dan konseling (terapi keluarga)
  5. Intervensi di sekolah.

PROGNOSIS
       Prognosis GPP tergantung :

  1. Berat ringannya gangguan.
  2. Usia timbulnya gangguan.
  3. Komplikasi yang menyertai
  4. Terapi yang adekwat.
  5. Dukungan lingkungan.



KESIMPULAN
       Gangguan Pemusatan Perhatian / Hiperaktivitas (GPP/H) sering terjadi pada anak. Sampai sekarang belum diketahui secara pasti faktor penyebabnya. Diduga banyak faktor yang berperan dan saling berinteraksi. Gangguan ini dapat mengganggu perkembangan anak, baik dalam perkembangan kognitif, emosi, perilaku, sosialisasi maupun komunikasi. Walaupun gangguan ini dapat sembuh sendiri, akan tetapi akibat keterlambatan perkembangan dan gejala sisanya dapat menetap sampai dewasa.
       GPP/H perlu dibedakan dengan Gangguan Tingkah laku (GTL) maupun Autisme Infantil, sebab pada masing-masing banyak persamaannya. Hal ini untuk menghindari kesalahan dalam diagnosis, terapi dan pengelolaan pasien .
       Dengan terapi yang adekwat, GPP/H dapat diatasi dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat memperkecil akibat yang ditimbulkan.
--  00  --

(makalah yang disampaikan dalam seminar psikologi untuk awam  di RS. Panti  Wilasa “Dr. Cipto”)

 

{oleh : Dr. Ismed Yusuf, Sp.KJ(K) / Psikiater}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 26 (APRIL-JUNI 2011)

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar