APLIKASI FLUORIDE TOPIKAL SEBAGAI PENCEGAHAN GIGI BERLUBANG

APLIKASI FLUORIDE TOPIKAL SEBAGAI PENCEGAHAN GIGI BERLUBANG

Karies gigi atau gigi berlubang dapat menyerang semua tingkatan usia dan semua ras di seluruh tempat di dunia. Sehingga karies gigi telah menjadi masalah umum masyarakat, bersifat universal dan perlu mendapat perhatian yang serius karena prevalensinya yang dengan cepat meningkat dan juga menyebabkan masalah sosial dan ekonomi. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 memperlihatkan data memprihatinkan bahwa sebanyak 89% anak-anak di bawah usia 12 tahun mengalami karies atau gigi berlubang. Dengan kata lain hanya 11% anak Indonesia yang terbebas dari karies.

 

Di dalam rongga mulut perubahan jumlah mineral pada gigi sering terjadi. Pada keadaan biasa, keluar masuknya mineral adalah hal yang normal. Ketika pH (tingkat keasaman) turun menjadi di bawah 5,5 dan terjadi dalam waktu lama, maka proses demineralisasi menjadi lebih cepat dari remineralisasi. Hal ini menyebabkan lebih banyak mineral gigi yang larut dan menimbulkan karies.
Pencegahan karies dapat dilakukan salah satunya adalah dengan pendekatan preventif menggunakan bahan fluoride. Pendekatan preventif menggunakan bahan fluoride merupakan salah satu cara yang cukup efektif untuk mencegah kerusakan email.
Pemberian fluoride dapat dilakukan dengan kumur larutan fluoride, menyikat gigi dengan pasta gigi, memoles gigi dengan profilaksis yang mengandung fluoride dan aplikasi topikal fluoride yang sering digunakan di praktek dokter gigi (Beltran, 2000). Mekanisme fluoride dalam pencegahan karies adalah dengan meningkatkan ketahanan email terhadap demineralisasi(hilangnya mineral gigi), meningkatkan proses remineralisasi (bertambahnya mineral gigi) pada permukaan email, menghambat sistem enzim bakteri yang merubah karbohidrat menjadi asam dalam plak gigi gigi dan adanya efek bakteriostatik dengan menghambat kolonisasi bakteri pada permukaan gigi (Lussi,dkk., 2012).
Aplikasi fluoride secara topikal dapat diberikan dalam bentuk foam, gel dan varnish ( Rugg-Gun, 2013 ). Menurut Collins (2008). ketiga bentuk fluoride topikal tersebut mempunyai indikasi masing-masing, yaitu bentuk gel lebih efektif diberikan pada anak usia sekolah, bentuk foam lebih efektif diberikan pada gigi susu atau gigi molar pertama yang baru erupsi, sedangkan bentuk varnish efektif dalam mencegah karies pada anak-anak, dewasa, dan individu dengan risiko karies tinggi. Dari ketiga bentuk fluoride topikal tersebut, varnish memberikan kenyamanan yang lebih baik kepada pasien dan juga waktu yang lebih singkat.
Collins (2008), menyatakan bahwa pemberian fluoride topikal pada pasien dengan risiko karies rendah tidak akan berdampak banyak terhadap penurunan angka karies dibandingkan dengan pasien dengan risiko karies sedang dan tinggi. Penggunaan fluoride secara topikal untuk pencegahan karies gigi pada anak-anak lebih disarankan karena waktu aplikasi yang lebih singkat dan juga lebih nyaman bagi pasien anak-anak (Carvalho,dkk, 2010). Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Azarpaazhooh dan Main (2008) menunjukkan bahwa aplikasi fluoride topikal setiap enam bulan sekali efektif dalam mencegah karies gigi baik pada gigi susu maupun permanen. Oleh karena itu aplikasi fluoride topikal sangat disarankan untuk menurunkan angka karies gigi terutama pada anak-anak yang rentan terhadap karies gigi.

DAFTAR PUSTAKA
Azarpazhooh A. Dan Main P. A., 2008. Fluoride varnish in the prevention of dental caries in children and adloescents: a systematic review. JCDA 74(1):73-9
Beltran. 2000. Fluoride Varnishes. JAD 131:589-94
Carvalho D.M.,dkk. 2010. Fluoride varnishes and caries incidence decrease in preschool children: a systematic review. Rev Bras Epidemiol 13(1):1-11
Departemen Kesehatan RI. 2008. Riset Kesehatan Dasar 2007. https://www.k4health.org/.../ laporanNasional%20Riskesdas%202007
Lussi A., Hellwig E., dan KLimek J., 2012. Fluorides-mode of action and recommendations for use. Schweiz Monatsschr Zahnmed 122(11): 1030-1036
Rugg-Gunn, A. 2013. Dental caries: strategies to control this preventable disease. Acta Medica Academica 42(2):113-130

 

Dibuat oleh : drg. Albertus Fredi S, Sp.Pros M.H. (Kes)

*Dimuat dalam Majalah Kasih Edisi 47 ( Juli - September 2016 )

 

 

 

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar