Logo

BAHAYAKAH TEKANAN DARAH TINGGI, ATAU BIASA SAJA AH

BAHAYAKAH TEKANAN DARAH TINGGI,  ATAU BIASA SAJA AH

 Sistem peredaran darah manusia dapat dianalogikan dengan pipa dan pompa air. Pipa sebagai pembuluh darah, dan jantung sebagai pompanya.  Namun uniknya pipa pembuluh darah manusia sangat lentur dan memiliki tekanan tertentu, dan bila tekanan ini terlampau tinggi maka timbulah penyakit yang disebut tekanan darah tinggi. Tekanan darah manusia akan selalu berubah sepanjang hari. Hal ini dipengaruhi oleh emosi, aktivitas, dan pola makan Anda. Tekanan darah bisa naik setelah berolahraga, saat Anda sedang stress, sehabis minum kopi, atau saat Anda mendengar kabar buruk yang mengejutkan. Maka, pada saat itu bisa saja tekanan darah Anda tergolong tinggi. Demikian ungkap dr. Hary Pribadi. 

Berapa tekanan darah yang menunjukkan hipertensi?
Menurut dr. Hari Pribadi, hipertensi dapat diartikan secara sederhana sebagai tekanan darah tinggi yang tidak normal. Tekanan darah mengacu pada tekanan darah terhadap dinding arteri saat dipompa keluar dari jantung Anda. Tekanan darah dikatakan normal apabila menunjukkan angka di 120/80 mmHG. Jika pengukuran tekanan darah sistolik (tekanan darah atas) Anda jatuh di antara 120-129 mmHg, Anda dianggap memiliki tekanan darah yang meningkat. Ini berarti bahwa Anda belum menderita hipertensi, tapi Anda mungkin mengalami kondisi ini di masa depan.
Sementara seseorang dikatakan mengalami hipertensi apabila hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan angka 130/80 mmHg atau lebih tinggi menurut panduan ACC/AHA 2017.

Siapa saja yang berisiko terkena hipertensi?
Dalam beberapa kasus, hipertensi disebabkan oleh kondisi medis lain yang sudah lebih dulu menyerang. Kasus ini disebut hipertensi sekunder. Contoh penyebabnya antara lain kehamilan, kelainan jantung, dan penyakit ginjal. Biasanya kalau penyakit utama tersebut diobati, kondisi tekanan darah Anda akan normal kembali.
Sayangnya, 95 persen orang dengan tekanan darah tinggi mengalami hipertensi primer, yaitu tingginya tekanan darah tanpa penyebab yang jelas. Dalam kasus ini, berbagai faktor risiko telah dikaitkan dengan hipertensi.
Beberapa faktor risiko hipertensi sudah tak bisa diubah lagi. Namun, masih banyak juga faktor risiko hipertensi yang bisa diubah dan dikendalikan agar peluang Anda kena hipertensi berkurang. Simak rinciannya di bawah ini.

Faktor risiko hipertensi yang tidak bisa diubah
· Riwayat hipertensi dalam keluarga. Bila orangtua, saudara kandung, atau anggota keluarga lainnya punya tekanan darah tinggi, Anda jadi lebih berisiko kena hipertensi.
· Usia. Semakin bertambah usia, pembuluh darah kita semakin kaku, tidak elastis lagi. Akibatnya, tekanan darah pun semakin meningkat. Namun, kondisi ini juga bisa terjadi pada anak-anak meskipun jarang.
· Jenis kelamin. Hingga mencapai usia 64 tahun, pria lebih rentan kena tekanan darah tinggi daripada wanita. Sedangkan pada usia 65 tahun ke atas, wanita yang lebih rentan mengalami tekanan darah tinggi.

Faktor risiko hipertensi yang masih bisa diubah
· Obesitas dan kelebihan berat badan. Anda tergolong kelebihan berat badan kalau indeks massa tubuh Anda di atas 23. Sedangkan Anda tergolong obesitas kalau indeks massa tubuh Anda di atas 25. Semakin berat massa tubuh Anda, semakin banyak darah yang diperlukan untuk mengantar oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh.
· Stres. Stres berat dapat menaikkan tekanan darah secara cukup drastis, meskipun hanya untuk sementara. Selain itu, ketika Anda stres kemungkinan besar Anda jadi tidak memperhatikan pola makan, kurang olahraga, merokok, atau minum alkohol – yang kemudian bisa jadi faktor risiko hipertensi.
· Konsumsi obat-obatan tertentu. Obat pereda nyeri NSAID seperti ibuprofen serta obat pilek seperti pseudoephedrine dan phenylephrine bisa memperparah kondisi tekanan darah tinggi atau meningkatkan risiko hipertensi. Sebagai alternatifnya, jika Anda membutuhkan obat pereda nyeri, gunakan acetaminophen atau paracetamol.
· Punya riwayat penyakit tertentu. Obstructive sleep apnea atau diabetes bisa jadi faktor risiko hipertensi. Mengendalikan penyakit tersebut bisa membantu Anda menjaga tekanan darah agar tetap stabil.
“Tekanan darah memang menarik dan tidak ada habisnya bila diceritakan diantara obrolan keluarga, khususnya para usia setengah baya bahkan terlampau banyak hal yang menjadi mitos di kalangan masyarakat tentang tekanan darah ini”, ungkap dr. Harry.

Beberapa fakta dan mitos tentang tekanan darah adalah sebagai berikut :
1. Tekanan darah tinggi itu penyakit keturunan
Tekanan darah tinggi memang dapat menurun dalam keluarga. Anda akan lebih rentan mengalami hipertensi jika ada orangtua atau kerabat sedarah yang juga memiliki tekanan darah tinggi. Namun, penyesuaian gaya hidup yang lebih sehat bisa memungkinkan orang-orang dengan riwayat hipertensi untuk menghindari kondisi ini.

2. Memasak tanpa pakai garam sudah cukup untuk mencegah hipertensi
Garam memang musuh hipertensi. Namun, tak hanya garam meja saja. Anda juga harus mengurangi garam dalam bentuk lainnya. Hingga 75 persen dari garam yang kita konsumsi tersembunyi dalam makanan olahan dan kemasan seperti saus tomat, sup, bumbu, makanan kaleng, dan bumbu campuran. Oleh sebab itu, ketika membeli makanan siap saji dan dikemas, bacalah label kemasannya. Perhatikan kata-kata “sodium, “natrium”, dan simbol “Na” pada label. Pasalnya kata-kata ini menunjukkan bahwa adanya senyawa sodium atau garam dalam makanan tersebut. Namun pembatasan garam saja tidak akan membuat tekanan darah tinggi anda kembali normal dikarenakan terdapat peran hormonal dan hal lain yang mengatur tekanan darah manusia sehingga pemakaian obat darah tinggi tetap diperlukan

3. Garam laut adalah alternatif garam yang rendah natrium
Struktur kimia garam laut adalah sama seperti garam meja (garam dapur), yaitu kombinasi dari dua mineral natrium (Na) dan klorida (Cl). Garam laut tetap mengandung 40% natrium sehingga berjumlah sama terhadap total konsumsi natrium harian Anda. Jadi, penggunaan garam laut dan garam meja yang berlebihan tentu tetap sama saja tidak baiknya terhadap penderita tekanan darah tinggi.

4. Tidak merasakan satu pun gejala hipertensi artinya terbebas dari risiko penyakit ini
Mitos hipertensi lainnya yang juga banyak dipercaya masyarakat sampai saat ini adalah kalau Anda tidak mengalami gejala hipertensi, artinya Anda tidak punya tekanan darah tinggi. Padahal, tidak selalu seperti itu. Lebih dari 25 persen penduduk Indonesia memiliki hipertensi, tapi banyak dari mereka yang tidak tahu mereka mengidapnya atau tidak menunjukkan gejala sama sekali. Bahkan, banyak orang memiliki tekanan darah tinggi selama bertahun-tahun tanpa menyadarinya. Tekanan darah tinggi sering disebut “silent ller” karena tidak memiliki gejala, sehingga Anda mungkin tidak menyadari bahwa penyakit ini telah merusak arteri, jantung, dan organ lainnya.

5. Tak perlu minum obat jika tekanan darah sudah normal
Tekanan darah tinggi adalah penyakit seumur hidup. Oleh sebab itu, orang dengan hipertensi harus rutin minum obat sesuai dengan resep dokter, meski kondisinya sehat-sehat saja. Pasalnya, ketika obat hipertensi tidak Anda minum sesuai dengan ketentuan, tekanan darah Anda akan jadi naik terus-terusan tidak terkendali. Maka itu, orang dengan tekanan darah tinggi harus minum obat hipertensi agar tekanan darahnya tidak melonjak drastis. “Ingat, jangan pernah berhenti atau mengganti obat tekanan darah tinggi tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter. Meskipun Anda sudah merasa lebih baik ataupun sehat”, ungkap dokter Hary.

Apa sih bahayanya tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol ?
Menurut dr. Harry Pribadi, bukan hanya karena seriusnya akibat dari hipertensi, penyakit ini juga dapat menyebabkan segudang masalah yang mengganggu jantung, ginjal, otak, dan bahkan mata. Oleh sebabnya, penting untuk mewaspadai tanda dan gejala hipertensi sedini mungkin guna mengurangi risiko komplikasi dari penyakit ini di kemudian hari. Setelah tekanan darah tinggi terjadi, bagian tubuh lainnya perlahan akan mulai mengalami gangguan.
1. Jantung
Hipertensi memaksa otot jantung bekerja lebih keras untuk mendorong darah melalui pembuluh darah arteri, yang menyebabkan otot jantung itu sendiri menebal. Walaupun kita biasanya berpikir bahwa otot yang lebih besar adalah hal yang baik, namun tidak untuk otot jantung. Pasalnya, otot jantung yang membesar dan menebal tidak memiliki kualitas yang baik untuk memompa darah. Otot-otot jantung yang menebal menyebabkan jantung kesulitan untuk memompa darah, yang pada akhirnya memicu gagal jantung.

2. Ginjal
Tekanan darah yang tinggi juga dapat membuat ginjal bekerja lebih keras. Ginjal yang merupakan organ yang bertugas membersihkan kotoran dari tubuh dengan cara melakukan filtrasi melalui serabut pembuluh darah yang kecil (glomerolus) akan kelebihan beban tekanan. Efeknya pembuluh darah yang tipis ini akan menebal karena tekanan terlalu tinggi dan mengakibatkan fungsi filter ginjal menurun. Akhirnya ini akan berdampak pada fungsi ginjal yang menurun dan mengarah pada gagal ginjal, Anda akan memerlukan transplantasi ginjal atau cuci darah bila jatuh pada gagal ginjal tahap akhir.

3. Otak
Selain mengancam beberapa organ yang paling vital pada tubuh, hipertensi juga merupakan penyebab utama stroke. Saat darah didorong melalui pembuluh pada kekuatan yang tidak normal, pembuluh darah tipis yang melewati otak akan mudah pecah. Jika pembuluh pecah, darah akan dengan cepat bocor dalam otak dan kemudian menyebabkan Anda menderita stroke.
4. Mata
Tekanan darah tinggi juga dapat sangat merusak pembuluh darah di mata, sama hal nya dengan pembuluh darah di otak yang cenderung tipis. Ketika pembuluh darah di mata pecah, maka penglihatan akan kabur atau bahkan mengakibatkan kebutaan bila pembuuh darah retina mengalami kerusakan.

Lantas, bagaimana cara mengetahui tanda dan gejala hipertensi?
Anda mungkin benar-benar tidak menyadari bahwa Anda mengalami tekanan darah tinggi yang berbahaya. Alasan utama untuk masalah ini adalah bahwa hipertensi yang tidak terdiagnosis sering kali tidak menampilkan tanda dan gejala. Satu-satunya cara jitu untuk memastikan tanda dan gejala hipertensi adalah melalui tes tekanan darah secara teratur.
Menurut dr Hary, meskipun banyak orang mengalami hipertensi tanpa tanda-tanda peringatan yang jelas, Beberapa tanda dan gejala hipertensi paling umum yang mungkin terjadi adalah sakit kepala, penglihatan buram, rasa tidak nyaman di leher belakang maupun dada.

Apa hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi kemungkinan kita terkena hipertensi?
Perubahan gaya hidup yang dapat mencegah hipertensi termasuk:
Makan makanan yang kaya akan sayur-sayuran buah, termasuk membatasi garam sampai kurang dari 1500 mg per hari (DASH Diet)
Lakukan aktivitas fisik dan olahraga secara teratur.
Menjaga berat badan yang sehat.
Mengelola stres dengan baik.
Hindari asap rokok dan berhenti merokok.
Minum obat darah tinggi teratur, jika diresepkan
Batasi jumlah minuman keras, atau jangan minum sama sekali.

“Jadi darah tinggi itu suatu hal yang biasa bukan, namun tidak boleh dianggap biasa saja, maka berobatlah sebelum terlambat dan lakukan cek tekanan darah reguler untuk memastikan anda tidak terlambat terdiagnosis”, ungkap dr. Hary. 

 

Oleh Dr. Hary Pribadi

 

Dimuat di Majalah Kasih Edisi 57

 

Tentang Penulis

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next Edisi 57

Tinggalkan Komentar