BAYI KUNING

BAYI KUNING

    Pak dokter, saya seorang ibu yang baru mempunyai bayi berumur 6 hari. Lahirnya normal, di rumah bersalin dengan pertolongan bidan. Para tetangga saya mengatakan bahwa bayi saya kulitnya kok tampak kuning (pada mulanya saya tidak begitu menyadari bila kuning). Tetapi setelah saya perhatikan dan bandingkan dengan bayi tetangga saya, ternyata memang benar bayi saya kulitnya tampak kuning, juga matanya, sementara bayi tetangga saya kulitnya tampak kemerahan. Tetapi bayi saya minumnya kuat, menurut penilaian saya juga masih aktif. Apakah hal ini merupakan kelainan pak dokter? Apakah bayi saya menderita sakit kuning/liver? Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah hal ini membahayakan bayi saya? Apakah akan mempengaruhi bayi saya ketika dia besar kelak? Apa yang harus saya lakukan agar bayi saya tidak mengalami dampak negatif dari kuningnya saat ini? Terima atas kesediaan pak dokter untuk menjawab pertanyaan saya.
Hormat kami
Ibu  johan-Semarang

    Ibu Johan yang berbahagia dengan bayi pertamanya, bayi kuning, seperti yang terjadi pada bayi ibu, adalah suatu keadaan yang dapat terjadi baik pada bayi normal (sehat) maupun pada bayi yang tidak normal (maksudnya dalam keadaan  sakit). Keadaan kuning yang terjadi pada bayi normal (sehat) biasanya mulai tampak pada hari ke dua atau ketiga setelah lahir, mencapai puncaknya pada hari ke-5 sampai ke-7; dan menghilang pada hari ke- 10 sampai ke-14. Kuning pada bayi normal/sehat ini, biasanya bayi tetap nampak aktif, minumnya kuat, tangisnya juga keras. Tetapi bila bayi mengalami kuning disertai gejala malas minum, kurang aktif, tangisnya lemah/merintih, berarti ini merupakan keadaan yang tidak normal, yang berarti bayi dalam keadaan tidak sehat.
    Warna kuning pada bayi disebabkan karena adanya penumpukan “bilirubin” di dalam darah. Bilirubin ini sebagian besar berasal dari pemecahan sel darah merah, yang akan diolah oleh liver untuk kemudian dikeluarkan dari tubuh bersama dengan feses. Penumpukan bilirubin ini bisa disebabkan karena produksinya berlebihan atau ada gangguan fungsi enzim pengolah di liver; sehingga pengolahan/pengeluaran bilirubin tidak seimbang dibanding yang terbentuk. Pada bayi, karena fungsi enzimnya di liver belum sempurna, sehingga bisa menyebabkan menumpuknya bilirubin di dalam darah; ditambah lagi umur sel darah merah bayi lebih pendek dibanding sel darah merah orang dewasa sehingga pembentukan bilirubinnya lebih banyak.
    Pada ibu yang belum punya pegalaman mempunyai bayi, biasanya tidak menyadari bila bayinya kuning (seperti halnya ibu Johan), tetapi ada juga beberapa ibu walaupun sudah berpengalaman mempunyai beberapa anak juga tidak menyadari bila bayinya kuning, baru mengetahui kuning pada waktu diberi tahu bidan/dokter saat kontrol untuk imunisasi.
    Kuning pada bayi ibu Johan, masih sangat mungkin merupakan kuning yang normal, karena bayinya masih aktif dan minumnya kuat. Kemungkinan besar bukan karena sakit kuning/liver, jadi kemungkinan tidak akan membahayakan ataupun mempengaruhi bayi ini di kemudian hari. Tetapi tetap harus diwaspadai apabila kuningnya itu berlebihan atau menetap sampai lebih dari 14 hari. Sayangnya ibu tidak tahu kapan kuning ini mulai timbul dan tidak menulis berapa berat lahirnya. Karena pada bayi prematur atau berat lahir kurang dari 2500 gram kemungkinan mengalami kuning lebih tinggi dibanding bayi cukup bulan dan hilangnya lebih lama.
    Untuk mengetahui lebih jauh tetntang keadaan kuning pada bayi ibu, sebaiknya ibu segera membawa bayinya ke dokter, agar bisa dipastikan apakan kuningnya ini merupakan hal yang normal ataukah tidak normal. Bayi ini perlu diperiksa kadar bilirubin di dalam darahnya untuk menentukan apakah kuningnya ini masuk dalam kelompok normal atau tidak normal, apakah perlu pengobatan segera atau tidak. Karena walaupun masih tampak aktif dan minumnya kuat tetapi bila kadar bilirubinnya berlebihan, juga akan membahayakan dan dapat mempengaruhi perkembangannya. Demikian ibu Johan, mudah-mudahan keterangan ini  bisa berguna. Terima kasih.

 

Diasuh Oleh : dr. Sedyo Wahyudi, Sp. A

*Dimuat dalam Majalah Kasih Edisi Perdana ( Januari 2005 )

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar