BEBASKAN SIKSAAN NYERI PINGGANG

BEBASKAN SIKSAAN NYERI PINGGANG

       Nyeri pinggang bawah atau lebih dikenal dengan istilah low back pain, sangat mengganggu seseorang dalam beraktifitas. Di Amerika survey terhadap mereka yang mangkir kerja lebih dari 6 bulan, lima dari empat pekerja mengalami nyeri pinggang bawah. Bagaimana dengan Anda, dan apa yang harus dilakukan jika mengalami siksaan nyeri pinggang bawah seperti ini ?

           Sebenarnya, banyak faktor penye-bab siksaan nyeri pinggang bawah disebabkan oleh berbagai faktor yang dapat dikategorikan seperti dibawah ini.
-    Viscerogenik back pain :
    Nyeri yang timbul berkaitan dengan organ dalam, misal ginjal,organ dalam panggul, tumor dan lain-lain. Diban-dingkan dengan nyeri yang berasal stenosis spinalis, nyeri disini tidak akan bertambah atau berkurang pada waktu penderita melakukan pening-katan atau penurunan aktivitas.
-    Vascular back pain :
    Gejala nyeri berhubungan dengan vascularisasi bisa berbentuk stenosis atau peripheral vascular disease. Nyeri pada     stenosis spinalis tidak berkurang kalau penderita diam.    
-    Neurogenik back pain :
    Nyeri yang disebabkan karena kerusakan pada susunan syaraf, biasanya tumor pada thalamus, arachenoid irritation atau tumor yang menekan akar syaraf pada medulla spenalis
-    Psychogenik back pain:
    Nyeri di sini berhubungan dengan kejiwaan seseorang,     biasanya orang yang berke-pribadian perfeksionis dan me-lihat hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak hati.

Back pain:
    Nyeri yang berasal Dari kolumna vertebralis dan strukutur yang menyokongnya (ligament, otot dan tendon )

Faktor Penyebab
    Nyeri pinggang bawah yang akan kami uraikan di sini lebih mengarah pada kasus nyeri pinggang bawah yang berasal dari Spondi-logenik pain. Adapun penyebab terjadinya nyeri pinggang bawah karena spondilogenic pain biasanya dilakukan secara konservatif maupun secara operatif.

A.  Penatalaksanaan
    Penatalaksanaan konservatif nyeri pinggang bawah tergantung pada banyak faktor, misal usia, pekerjaan, bagaimana etiologi dan berat penyakit, reaksi terhadap penyakit dan adanya deficit neurologik.

Sebagai contoh penderita yang terkena nyeri pinggang bawah dengan herniasi discus tulang belakang, apabila sudah diberikan pengobatan, tetapi karena faktor pekerjaan, penderita tetap bekerja mengangkat beban berat, maka upaya penatalaksanaan tidak tercapai secara maksimal.

    Jadi disini penting sekali perlunya anamnesa antara pasien dengan tanaga medis, sehingga faktor resiko yang mencetuskan nyeri pinggang bawah dapat dicegah. Apabila diberi penanganan secara konservatif, ternyata rasa nyeri masih menetap, maka indikasi operasi perlu ditimbangkan.

Prinsip penanganan konservatif nyeri pinggang bawah:
-    Istirahat, program kegiatan sehari-hari harus dibatasi. Sebaiknya penderita dilarang        mengangkat barang berat, berdiri terlalu lama, melakukan perjalanan jauh.
    Apabila penderita terpaksa naik tangga, sebaiknya dilakukan seperti anak kecil ‘baby walk’ yaitu meletakkan kedua kaki di tangga yang sama, pada saat mau naik ke atas. Apabila pasien istirahat di tempat tidur pada posisi terlentang, kepala terletak pada sudut 30 derajat, lutut dan panggul posisi menekuk.
-    Traction, macam traksi yang dipakai adalah pelvic traction, berat beban yang dipakai separuh dari berat badan, baik dengan continues maupun intermitten traksi.
    Pada penderita HNP (Herniasi Discus), dengan traksi diha-rapkan mampu mengembalikan herniasinya.
-    Pemanasan, macam pemanasan yang digunakan untuk nyeri pinggang disini biasanya pemanasan dengan infra red radiation atau gelombang elektromagnet (diathermy) untuk penetrasi yang lebih dalam. Apabila nyeri pinggang bersifat lokal dan penyebabnya karena spasme otot biasa dilakukan dengan ultrasound. Apabila disertai dengan nyeri menjalar yang sangat, maka bisa dilakukan interferential terapi.
-    Exercise, latihan untuk pinggang bawah, prinsip latihan disini adalah untuk memberikan penguluran otot punggung dan menguatkan otot perut. Pada waktu otot tulang belakang sedikit rileks dan otot perut lebih kuat diharapkan apabila kita mengangkat beban, discus tulang belakang tidak terlalu dibebani.
-    Pemberian terapi medika mentosa, dengan NSAID, dengan relaksan otot dan pengurang sakit

    Hal yang tidak kalah penting dalam penanganan back pain, adalah kita harus memperhatikan keaktifan penderita sehari-hari, dan kalau ada sikap penderita yang salah dalam berposisi. Berusaha untuk mengurangi lordosis lumbalis penderita, misalnya memberi informasi bagaimana duduk, berdiri dan berjalan dengan baik. Untuk menambah kebehasilan dalam penanganan konservatif LBP, adalah penderita harus melakukan “Low Back Corrective Exercise Program, dengan demikian penderita mengurangi lordosis lumbalis yang ada dengan terjadinya penambahan tonus tulang belakang. Bagi penderita yang gemuk disarankan untuk mengurangi berat badan. Low Back exercise dimulai segera setelah nyeri menghilang.
    Penggunaan brace pada low back pain perlu dipertimbangkan karena dengan menggunakan spinal support, maka gerakan spinal dibatasi, memperbaiki sikap tubuh dan mengurangi penekanan pada bagian bawah lumbal (lower lumbal spine).
    Henry H. Jorda menge-mukakan, prinsip penggunaan brace harus menganut “three point pressure”.    
    Tekanan ke belakang untuk melawan daya kedepan pelvis, tekanan ke belakang untuk melawan daya kedepan dada, tekanan ke depan guna melawan daya yang berasal dari lumbal spine ke belakang.
Contoh brace, misalnya knight spinal brace, William brace dan Tailor brace

B.     Penatalaksanaan Operatif
       Penatalaksanaan operatif perlu dipertimbangkan apabila deficit neurologik terus bertambah disertai dengan kelemahan motorik yang semakin berat. Tindakan operatif bisa laminektomi, disceletomi ataupun pemberian satu suntikan “semen tulang” pada tulang belakang apabila terjadi proses degenerasi pada tulang belakang.

 

Oleh : Budi Setyawan. Amd, Fis

*Dimuat dalam Majalah Kasih Edisi Perdana ( Januari 2005 )

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar