CAMPAK

CAMPAK

    Dokter Sedyo, saya mempunyai cucu perempuan, berumur 3 tahun. Beberapa hari yang lalu menderita panas tinggi, batuk ringan, dan pilek selama kurang lebih 4 hari. Kemudian timbul bintik-bintik merah yang didahului di daerah muka, yang kemudian menyebar  ke seluruh tubuh. Pada waktu mulai timbul bintik-bintik merah, panasnya mulai menurun. Tetapi kemudian batuknya bertambah grok-grok, sepertinya banyak lendir, dan beraknya menyadi encer, bahkan kadang cair, sehari bisa 5 - 7 kali. Apakah betul cucu saya menderita campak? Cucu saya sudah mendapat imunisasi campak waktu berusia 9 bulan. Mengapa masih dapat menderita campak? Apakah bukan demam berdarah (karena ada bintik-bintik merah)? Apakah betul penyakit campak tidak perlu diobati, karena dapat sembuh sendiri? Benarkah kata orang makin banyak bintik-bintik merah itu makin baik? Sebetulnya waktu itu disuruh mondok oleh dokter yang memeriksa, tetapi kami minta untuk rawat jalan saja. Apakah hal ini dapat membahayakan/menyebabkan komplikasi pada cucu saya atau menular ke anak lain? Terima kasih atas jawaban dokter.

Dari Ibu Wiwik di Semarang.


Ibu Wiwik di Semarang,
    Bila memperhatikan tanda dan gejala penyakit yang ibu sampaikan, sangat mungin bahwa yang diderita oleh cucu Ibu adalah penyakit campak (nama lainnya: morbili, measles, gabagen). Penyakit campak memang awalnya ditandai dengan panas yang bisa berlangsung selama 4-5 hari, bisa disertai dengan batuk, pilek, mata merah dan berair. Secara klinis memang sangat mirip dengan influenza; sehingga pada saat itu sering didiagnosis sebagai influenza. Setelah itu mulai timbul bercak-bercak merah di kulit, yang biasanya didahului di belakang telinga, menyebar ke muka, dada, perut, punggung, dan akhirnya ke tangan dan kaki. Bintik merah ini akan akan memenuhi tubuh dalam 3 hari. Biasanya setelah timbul bintik-bintik merah ini, panasnya mulai menurun. Pada fase penyembuhan, bintik merah ini akan meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua, lama kelamaan akan hilang sendiri.
    Penyakit campak disebabkan oleh virus morbili, yang sering berada di tenggorokan. Maka itu penularannya bisa melalui percikan air ludah (droplet). Penularan penyakit campak tidak memerlukan hewan perantara, artinya penularan bisa terjadi hanya dari manusia ke manusia. Tidak ada penularan melalui seranga (vektor). Paling banyak menyerang balita. Memang, penyakit campak di Indonesia sudah dikenal sejak lama; bisa ditemukan sepanjang tahun, dan sudah dikenal luas oleh masyarakat; sehingga ada anggapan di masyarakat bahwa penyakit campak itu memang harus terjadi pada seorang anak dan tidak perlu diobati; mereka menganggap penyakit campak dapat sembuh sendiri bila bintik merah sudah keluar. Anggapan yang terjadi di masyarakat ini sebetulnya sangat tidak tepat, karena penyakit campak merupakan penyakit yang sangat menular, sehingga bila ada satu anak terserang penyakit ini, sangat mudah untuk menular ke anak lain. Mungkin karena itulah ada masyarakat yang berangapan bahwa penyakit ini memang harus dialami oleh setiap anak, karena sudah sering melihat penyakit campak yang terjadi di lingkungannya, dan menular dengan cepat ke anak-anak lainnya. Setelah timbul bintik-bintik merah di kulit biasanya panasnya akan menurun. Hal inilah yang mungkin menimbulkan anggapan bahwa penyakit campak akan dapat sembuh sendiri, tidak perlu diobati. Bintik-bintik merah yang timbul pada penyakit campak tidak ada kaitannya dengan ringan atau beratnya penyakit. Sehingga tidak benar apabila ada anggapan bahwa semakin banyak bintik merah yang keluar, semakin baik.
    Sebagai gambaran bahwa penyakit campak itu bukan penyakit yang patut diremehkan, pada tahun 1970, terjadi wabah campak di pulau Lombok (dilaporkan 330 kematian dari 12.107 kasus) dan di pulau Bangka (65 kematian diantara 407 kasus) pada tahun yang sama. Kejadian luar biasa atau wabah campak lebih sering terjadi di daerah pedesaan terutama daerah yang sulit dijangkau oleh pelayanan kesehatan, khususnya program imunisasi. Tetapi bukan berarti daerah perkotaan/urban itu terlepas dari campak. Daerah urban yang padat (apalagi bila ditambah dengan kumuh), merupakan daerah rawan terhadap penyakit yang sangat menular seperti campak. Daerah semacam ini dapat merupakan sumber kejadian luar biasa atau wabah penyakit campak.
    Pada anak yang menderita campak, akan berisiko untuk mengalami komplikasi-komplikasi yang sering kali dapat berakibat fatal. Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit campak, antara lain:

  1. Penurunan daya kekebalan tubuh secara umum. Hal ini akan menyebabkan mudahnya terjadi infeksi sekunder atau penyulit, seperti radang telinga tengah (otitis media akut), radang otak (ensefalitis), dan radang paru (bronkopnemoni). Ensefalitis dan bronkopnemoni, dapat menyebabkan kematian pada bayi atau anak. Apalagi kalau sebelumnya anak sudah mengalami gizi buruk, menderita penyakit menahun (misalnya tuberkulosis, kanker darah); kematian akan lebih mudah terjadi.
  2. Komplikasi lainnya adalah diare. Diare sering terjadi pada saat mulai atau bersamaan dengan timbulnya bintik-bintik merah (juga batuk yang berdahak seperti pada cucu ibu Wiwik). Diare pada morbili bahkan sering terjadi berkepanjangan, sulit diatasi.


    Apakah bukan demam berdarah? Saya kira bukan, karena bintik-bintik merah campak dengan demam berdarah itu sangat berbeda. Dokter yang memeriksa pasti bisa membedakan apakah ini demam berdarah atau campak, atau penyakit yang lain. Tetapi apabila saat itu masih ada keraguan, sebaiknya diperiksa darahnya. Dari pemeriksaan darah akan dapat dengan jelas dibedakan apakah itu campak atau demam berdarah.
    Walaupun sudah mendapatkan imunisasi campak, bisa saja seorang anak itu terinfeksi oleh virus campak. Tetapi pada anak yang sudah mendapatkan imunisasi, akan mengalami penyakit yang jauh lebih ringan dibanding yang belum mendapat iimunisasi campak. Karena pada anak yang sudah mendapat imunisasi, di dalam tubuhnya sudah terbentuk antibodi terhadap virus morbili penyebab penyakit campak, sehingga ketika ada virus morbili masuk ke tubuhnya, antibodi  ini mampu melawannya, akibatnya tidak timbul penyakit yang parah. Berbeda apabila seorang anak belum mempunyai antibodi (karena belum diimunisasi), akan menderita penyakit campak yang parah apabila ada virus morbili yang masuk, menginfeksi tubuhnya. Sangat beruntung cucu ibu Wiwik sudah mendapatkan imunisasi campak; sehingga sudah mempunyai kekebalan terhadap penyakit campak. Itulah sebabnya penyakit campak pada cucu ibu tidak begitu parah, sehingga dokter masih mengijinkan atau bisa mempertimbangkan cucu ibu untuk rawat jalan saja. Demikian ibu Wiwik di Semarang, mudah-mudahan penjelasan ini juga berguna bagi setiap pembaca majalah Kasih. Terima kasih.

 

{oleh : Dr. Sedyo Wahyudi, Sp. A}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 3 (JULI-SEPTEMBER 2005)

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar