Logo

CATATAN PERJALANAN : BENCHMARK PENANG 2007

CATATAN PERJALANAN : BENCHMARK PENANG 2007

    Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata Malaysia? Negara tujuan TKI atau  negara yang sering “berantem” dengan negara kita karena rebutan pulau, atau negara yang meng-klaim kesenian Reog negara kita? Apapun yang ada di pikiran Anda, yang pasti negara tetangga kita ini ternyata sedemikian maju perkembangannya.
    Awal bulan desember yang lalu, redaksi Kasih berkesempatan mengikuti Benchmark Penang 2007 bersama Direktur dan Wakil Direktur RS. Panti Wilasa “Dr. Cipto”. Acara yang diadakan oleh Pelkesi (Persekutuan Pelayanan Kristen Untuk kesehatan di Indonesia) Wilayah III ini diikuti oleh berbagai rumah sakit anggota Pelkesi.

Pulau Penang, bersih dan rapi.
    Siapa sangka jika benchmark yang diadakan oleh Pelkesi ini berlokasi di sebuah pulau kecil di wilayah negara Malaysia. Berangkat dari Solo, kami menuju Kuala Lumpur, Ibukota Malaysia. Perjalanan selama 2,5 jam tersebut kami lalui bersama salah satu penerbangan komersial milik Malaysia, yaitu Air Asia. Meski terkenal murah, namun pelayanannya cukup memuaskan. Tiba di Kuala Lumpur, kami berganti pesawat menuju Pulau Penang dengan waktu tempuh empat puluh menit saja.  Dari bandara, para peserta dijemput menuju penginapan yang telah disedaikan. Selama perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang cukup menarik dari pulau ini, rapi dan bersih. Melewati beberapa badan jalan layang tak tampak rumah kumuh atau warung PKL seperti di Semarang. Barangkali memang rumah kumuh atau warung tenda menjadi barang langka di sana. Perjalanan keliling kota pun cukup menyenangkan dengan banyaknya gedung bertingkat. Konon, harga tanah di pulau ini sangat mahal sehingga banyak apartemen bertingkat.
    Pulau yang juga dilanda Tsunami  bersamaan dengan Banda Aceh ini, ternyata sudah berbenah dengan cepat, sempat kami melihat rumah pengungsian yang sudah kosong berpindah di sebuah apartemen baru. Lokasi yang diterjang ombak pun hampir tak berbekas lagi kerusakannya. Namun di kawasan rumah nelayan, ternyata hampir mirip dengan negara kita. Beberapa dokter berujar, “ kalau ini sih seperti tempat PTT saya dulu di daerah Kalimantan, ya seperti ini”, ucap seorang dokter. Kesan bersih dan rapi memang menjadi pemandangan yang menonjol di kota ini. Tampaknya kesadaran masyarakat setempat akan kebersihan sangat tinggi, sehingga kota ini nyaman dipandang mata.

Penang Adventist Hospital
    Rumah sakit pertama yang menjadi tujuan acara ini adalah PAH (Penang Adventist Hospital). Rumah Sakit non profit ini cukup besar. Dari luar rumah sakit Kristen ini terkesan kuno karena arsitektur gedung yang bergaya barat. Akan tetapi, memasuki pintu utama dan ruang receptionist, kami melihat kesan mewah, rapi dan bersih. Acara tour in hospital pun kami lalui dengan melihat pelayanan yang dimiliki rumah sakit ini. Salah satu pelayanan unggulan, yaitu pusat jantung cukup menarik perhatian. Unit ini tidak pernah sepi pasien. Kami pun sempat bertemu beberapa pasien dari negara kita. Disamping harga yang cukup terjangkau untuk tindakan operasi di Heart Center ini, rumah sakit ini cukup berpengalaman menangani pasien dengan kasus jantung.
    Peralatan dan teknologi kesehatan yang canggih pun dimiliki rumah sakit ini, seperti kami lihat di Adventist Vision Centre, salah satu unit pelayanan mata yang memiliki peralatan yang cukup mutakhir untuk pasien kasus mata. Sedangkan di Adventist Wellness Centre, kami melihat pelayanan medical check up bagi pasien yang sehat. Unit lain ternyata tidak kalah menarik, terutama sistim informasi rumah sakit sedemikian rapi sehingga membuat pasien nyaman dalam membutuhan pelayanan kesehatan. Kamipun sempat melihat sebuah alat health robotic, sebuah alat medis canggih. Di akhir kunjungan, kami mendapat penjelasan dari pimpinan rumah sakit tentang profil rumah sakit dan misi sosial yang dilakukan.

Gleaneagles Medical Centre
    Rumah sakit kedua yang kami kunjungi adalah Gleaneagles Hospital. Dilihat dari fisiknya, rumah sakit ini cukup megah dengan warna gedung yang mencolok, tetapi luasnya tampak lebih kecil dari dari rumah sakit Penang Adventis. Masuk di ruang front office dan receptionist, tidak jauh beda dengan rumah sakit pertama yagn kami kunjungi. Kesan bersih dan rapi kami temui sepanjang tour in hospital. Menurut penjelasan dari para manajer rumah sakit ini, BOR (Bed Occupation Rate) cukup tinggi diatas 80 %. Rumah sakit ini juga memiliki keunggulan di beberapa pelayanan sepert pusat jantung. Begitu pula dengan unit radiologi yang menggunakan teknologi foto terkini.
    Sistim informasi yang dijalankan juga teritegrasi, sehingga setiap pelayanan yang dilakukan, para dokter mudah untuk mengaksesnya. Misalnya saja foto rontgent atau pemeriksaan laboratorium bisa diakses melalui komputer yang ada di rumah sakit. Pasien pun memperoleh hasil pemeriksaannya berupa CD. Untuk biaya, kami tidak banyak mendapat informasi karena terbatasnya waktu, namun sempat kami menanyakannya, ternyata harga sudah dipajang di website rumah sakit ini. Dukungan dokter spesialis full time juga menjadi daya tarik bagi pasien sama seperti di Penang Adventist Hospital. Dan ternyata kedua rumah sakit ini menjalin kerjasama yang cukup baik dalam penanganan pasien.
    Kelompok rumah sakit  Gleaneagles ini cukup besar, di Indonesia saja kabarnya akan didirikan cabang di beberapa kota. Nah, satu tantangan lagi  buat rumah sakit di negara kita tentunya.
    Dua rumah sakit yang kami kunjungi tersebut membawa inspirasi rumah sakit di negara kita, terutama di RS. Panti Wilasa “Dr. Cipto”. Sistem informasi manajemen yang jelas dan rapi, komunikasi produk layanan yang jelas, suasana nyaman bagi pasien dan relationship antara pasien dan rumah sakit tampaknya perlu mencontoh mereka. Namun yang jelas, kesimpulan yang kami dapat selama di Penang,antara lain ; kerja keras, visi yang jelas, inovasi, kreatif dan diferensiasi. Memang semua ini sudah dilakukan, tetapi barangkali perlu ditingkatkan lagi. Yang jelas, berkaca dari dua rumah sakit tersebut, bukan berarti kita kalah bersaing, tetapi justru kita bisa mengoptimalkan sumber daya kita untuk lebih baik dalam pelayanan. Syukur-syukur, dapat menerapkan teknologi yang lebih dari dua rumah sakit tadi. Yah, tantangan buat kita bersama. Tetap maju RS. Panti Wilasa “Dr. Cipto”.

 

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 12 (OKTOBER-DESEMBER 2007)

Tentang Penulis

Patricia Putri

patricia putri

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next IBADAH SYUKUR, MENJADI PRIBADI MERDEKA

Tinggalkan Komentar