DETEKSI DINI DAN PENANGGULANGAN STRES PADA ANAK

DETEKSI DINI DAN PENANGGULANGAN STRES PADA ANAK

anak stres

Pendahuluan
Deteksi stres pada anak harus dapat diupayakan dan dilakukan sedini mungkin, agar anak segera mendapatkan bantuan untuk mengurangi atau menghilangkan akibat adanya stres tersebut. Sementara banyak orang awam, khususnya orang tua berpendapat, bahwa masalah stres yang terjadi pada anak bisa berkurang, bahkan hilang sendiri dengan perjalanan waktu, seiring dengan bertambahnya usia anak. Keadaan inilah yang sering menyebabkan penanggulangan stres pada anak menjadi terlambat, dan bahkan bisa jadi akan memperparah masalah yang terjadi pada anak tersebut.

    Secara umum stres didefinisikan sebagai suatu keadaan di mana seseorang mengalami ketidakenakan oleh karena harus beradaptasi dengan stresor. Stresor adalah penyebab stres. Stres dapat terjadi pada siapa saja, pada usia berapa saja. Tak terkecuali pada anak. Bila adaptasi ini berhasil, maka anak akan sehat kembali dan terbebas dari stres. Bila adaptasi mengalami kegagalan, maka anak akan masuk kedalam keadaan gangguan jiwa. Sementara bila adaptasi belum berhasil, berlangsung terus menerus, maka akan menimbulkan kondisi psikologis yang sangat rapuh dan sangat rentan untuk terjadinya gangguan jiwa akibat stresor yang beruntun.      
         Pada dasarnya anak yang mengalami gangguan jiwa, merupakan anak yang bermasalah. Deteksi gangguan tersebut menjadi terlambat, oleh karena gejala gangguan yang terjadi sering dipersepsi salah, baik oleh orang tua maupun guru. Demikian pula sering terjadi kesalahan dalam diagnosis baik oleh psikolog maupun oleh dokter. Kesalahan bisa juga terjadi dalam menilai berat-ringannya gangguan akibat terjadinya stres tersebut.

Sumber Stresor
    Pada anak-anak, khususnya anak usia sekolah (6 -12 tahun), sumber stres dapat berasal dari : diri anak sendiri, keluarga, sekolah dan teman bermain.

Contoh dari diri sendiri antara lain :

  • Sakit fisik yang memerlukan perawatan di rumah sakit atau kontrol tenaga medis berulang-ulang.
  • Keterlambatan pertumbuhan fisik atau perkembangan psikologis, termasuk juga cacat fisik atau mental.
  • Gangguan pada otak, baik akibat perkembangan otak, maupun pengaruh dari luar.


Contoh dari keluarga antara lain :

  • Hubungan buruk antara kedua orang tua.
  • Anggota keluarga ada yang sakit fisik dan atau gangguan jiwa.
  • Intervensi dari kakek dan nenek dalam mendidik anak yang berbeda dari kedua orangtuanya.
  • Orang tua yang dingin dan tidak peduli terhadap anak.
  • Orang tua yang keras dan kasar terhadap anak.
  • Perhatian orang tua yang berlebihan terhadap anak.
  • Orang tua yang jarang di rumah.
  • Ayah ada istri lain selain ibunya.
  • Kontrol orang tua terhadap anak yang tidak konsisten.
  • Kontrol orang tua terhadap anak yang kurang memadai.
  • Kurang stimulasi kecerdasan dari keluarga terhadap anak.
  • Kurang stimulasi sosial dari keluarga terhadap anak.
  • Menjadi anak angkat dalam keluarga.
  • Anggota keluarga ada yang dirawat di rumah sakit.
  • Kehilangan salah satu atau kedua orang tua.

Contoh dari sekolah antara lain :

  • Kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah.
  • Ada masalah dengan guru, teman sekolah dan staf sekolah.

Contoh dari teman bermain antara lain :

  • Tidak diterima oleh teman di lingkungan bermain
  • Persaingan antar anak yang tidak sehat

Bentuk Stresor
    Ada 4 bentuk stresor, yaitu pertumbuhan fisik dan perkembangan psikologis, konflik, frustrasi dan ancaman

Contoh pertumbuhan fisik dan perkembangan psikologis antara lain :
Pertumbuhan fisik atau perkembangan psikologis yang terlambat atau terlalu cepat, misalnya tubuh yang terlalu kecil, pendek atau terlalu tinggi, gemuk dan sebagainya. Demikian pula psikologis yang terlalu matang, misalnya menstruasi yang terlalu awal atau perubahan suara yang terlalu dini dan sebagainya.

Contoh konflik antara lain :
Anak sulit mengambil keputusan atas pertentangan yang terjadi pada dirinya. Pada keadaan ini anak menjadi ragu-ragu dengan apa yang akan dilakukan. Misalnya, pada saat terjadi pertengkaran antara ayah dan ibu, anak ragu-ragu untuk membela ayah atau ibu.

Contoh frustrasi antara lain :
Frustrasi adalah kecewa, misalnya : anak kehilangan sesuatu yang sangat dicintai. Anak yang kehilangan salah satu atau kedua orangtuanya akan mengalami kecewa yang sangat berat. Frustrasi akan semakin berat, bila terjadi dengan tiba-tiba, tidak terduga, upaya sudah maksimal dan nyaris berhasil.  

Contoh ancaman antara lain :
Tugas-tugas sekolah yang sangat memberatkan anak, tuntutan orang tua maupun guru di luar kemampuan anak dan sebagainya.

Mekanisme Pertahanan Jiwa
    Berdasarkan efektivitas dan mampu-tidaknya Mekanisme Pertahanan Jiwa (MPJ) anak untuk beradaptasi terhadap stresor,  maka ada 3 kemungkinan, yaitu : berhasil, tidak efektif dan gagal.
    Bila MPJ efektif, dan berhasil beradaptasi, maka anak akan sehat kembali. Bila MPJ tidak efektif, maka jiwa anak akan mengalami kerapuhan terhadap stresor yang akan datang, sehingga mempermudah terjadinya gangguan jiwa. Bila MPJ gagal beradaptasi, maka anak akan masuk ke dalam kondisi gangguan jiwa.
    Proses kejadian gangguan jiwa pada anak, akan melewati 3 fase secara berurutan.
 
Fase pertama
    Pada keadaan ini MPJ masih mampu dan berhasil mengatasi perasaan ketidakenakan, sehingga stres baru terjadi dalam fantasi anak. Hal ini dapat diketahui lewat gambaran, tulisan maupun cerita anak. Pada umumnya mengambil tema tentang kesalahan, kehilangan, ketakutan, kegagalan, kesedihan, kekejaman, kematian sampai bunuh diri. Fase ini muncul paling awal dan hilang paling akhir.

Fase kedua
    Apabila MPJ kurang efektif, stres akan nampak pada verbal anak, baik secara spontan maupun dari menjawab pertanyaan-pertanyaan. Anak mengemukakan tentang ketakutan, kecemasan, tidakadanya harapan, tidakadanya pertolongan, perasaan bersalah, perasaan tidak berbahagia dan perasaan tidak dicintai. Keadaan ini banyak terjadi pada stres berat yang bersifat akut dan stres ringan yang bersifat kronis.

Fase ketiga
    Apabila MPJ mengalami kegagalan dalam mengatasi stres, maka akan nampak pada perasaan dan tingkah laku anak. Manifestasi dari keadaan ini adalah keterlambatan dalam perilaku (psikomotor), roman muka yang sedih, sikap badan yang khas, tangisan yang mencekam, gangguan makan, gangguan tidur, prestasi sekolah yang mengalami penurunan sampai kegagalan, bahkan hiperaktif atau agresif. Perilaku hiperaktif atau agresif ini nampak anak mulai nakal dan sulit untuk diatur. Keluhan-keluhan fisik juga mulai muncul. Pada umumnya yang sering adalah, sakit kepala, pusing, sesak nafas, berdebar-debar, perut tidak enak dari mual sampai muntah, ingin berak berulang-ulang. Keadaan ini didapatkan pada stres yang bersifat kronis.
    
Gejala-Gejala Stres
    Gejala-gejala stres pada anak, ada 4 kelompok, yaitu kelompok keluhan fisik, gangguan  emosi, proses pikir dan perilaku.

Kelompok keluhan fisik antara lain :

  • Badan terasa dingin
  • Rasa kering dan haus di tenggorokan
  • Rasa lemah dan lelah di seluruh tubuh sampai mau pingsan
  • Rasa mual sampai muntah-muntah
  • Rasa berdebar-debar dan rasa nyeri di dada
  • Nyeri kepala
  • Tekanan darah meningkat
  • Denyut jantung terasa berdebar
  • Tremor pada otot-otot
  • Gigi gemerutuk
  • Nafas terasa berat
  • Penglihatan menjadi kabur

Kelompok gangguan emosi antara lain :

  • Perasaan takut sesuatu baik yang ada obyeknya maupun yang tidak
  • Rasa bersalah
  • Rasa sedih dan berduka cita
  • Rasa panik dan sulit mengendalikan diri
  • Menyangkal terhadap sesuatu yang realistik
  • Cemas yang berlebihan dan tidak rasional
  • Ingin marah dan mengamuk
  • Perasaan peka dan mudah tersinggung
  • Respon emosi yang tidak wajar
  • Kehilangan kontrol emosi

Kelompok gangguan proses pikir antara lain :

  • Bingung
  • Mimpi buruk sampai „ngelindur“
  • Merasa tidak ada kepastian
  • Waspada berlebihan
  • Curiga berlebihan
  • Timbul bayangan yang mengerikan, hal-hal yang belum terjadi
  • Benci berlebihan terhadap seseorang
  • Tak mampu menyelesaikan masalah dengan baik
  • Tak mampu berpikir secara abstrak
  • Konsentrasi menurun
  • Sulit mengambil keputusan
  • Gangguan orientasi waku
  • Sulit mengidentifikasi tempat dan atau personal
  • Kewaspadaan berkurang atau berlebihan
  • Kesadaran terhadap lingkungan bisa menurun atau meningkat.

Gangguan perilaku antara lain :

  • Menarik diri dari lingkungan
  • Perilaku anti sosial
  • Tidak bisa santai
  • Perilaku tidak terkendali
  • Perubahan perilaku sosial
  • Perubahan pola pembicaraan
  • Kehilangan nafsu makan
  • Konsumsi alkohol meningkat
  • Perubahan dalam pola komunikasi dengan orang lain.

     Tidak semua gejala stres akan muncul pada seorang anak yang mengalami stres, akan tetapi akan muncul dari tiap kelompok gejala  atau lebih, tergantung dari berat-ringanya stres yang diderita oleh anak tersebut.


Gangguan Jiwa pada Anak
    Anak yang mengalami stres, bila mekanisme pertahanan jiwa anak tidak efektif, maka akan terjadi kegagalan dalam adaptasi terhadap stresor, pada akhirnya akan terjadi gangguan jiwa pada anak.
    Seorang anak dapat mengalami gangguan jiwa seperti yang terjadi pada orang dewasa, akan tetapi pada anak ada gangguan jiwa khusus yang bisa muncul hanya pada masa anak, akan tetapi tidak bisa muncul pada usia dewasa. Bila ada orang dewasa yang mengalami gangguan tersebut, biasanya hal tersebut merupakan kelanjutan dari gangguan yang muncul pada masa anak dan menetap sampai dewasa.
    Anak dengan gangguan jiwa dapat dideteksi adanya salah satu atau lebih dari 5 keadaan tersebut di bawah ini.
1.    Gangguan intelektual
2.    Gangguan tingkah laku
3.    Gangguan emosional
4.    Gangguan jiwa dengan manifestasi fisik
5.    Keterlambatan atau kemunduran perkembangan.
     Apabila pada anak terjadi lebih dari satu aspek dari keadaan tersebut di atas, maka masalahnya tentu lebih kompleks dibandingkan apabila hanya pada satu aspek saja.


     Berikut ini adalah contoh-contoh dari anak yang mengalami gangguan jiwa berdasarkan kelompok gangguannya.

  1. Gangguan intelektual.
    Pada taraf yang berat, terjadi keterlambatan perkembangan intelektual, misalnya pada retardasi mental, baik debil, imbesil maupun idiot. Pada taraf yang lebih ringan terjadi intelektual ambang (borderline, dungu, bodoh) di mana anak mempunyai keterbatasan dalam intelektual di antara anak yang normal dan retardasi mental. Anak pada taraf ini terlalu pandai untuk sekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan tidak mampu mengikuti dengan baik di Sekolah Biasa.
    Pada taraf yang paling ringan dan paling sering terjadi adalah adanya kesulitan belajar, di mana terdapat prestasi belajar yang rendah dibandingkan dengan potensi yang seharusnya ada pada anak tersebut.  

  2. Gangguan Tingkah Laku
    Keadaan di mana tingkah laku anak mengalami penyimpangan yang tidak sesuai dengan norma yang ada, dan tidak sesuai dengan umur anak. Keadaan ini sering disebut anak nakal. Anak nakal ada yang jenis agresif, yaitu merugikan orang lain, dan ada yang jenis non agresif, yaitu merugikan diri sendiri. Demikian juga ada yang berkelompok, artinya dilakukan bila bersama dengan kelompok teman-temannya, dan ada yang tak berkelompok, yaitu dilakukan sediri.

  3. Gangguan Emosi
    Keadaan di mana emosi anak berkembang tidak optimal. Anak mudah marah, mudah tersinggung, penakut, tidak percaya diri, tidak mandiri, selalu minta dibantu orang lain. Takut salah dalam melakukan suatu tindakan, ragu-ragu dalam mengambil keputusan, berusaha untuk selalu mendapat perhatian dari orang lain dan sebagainya.

  4. Gangguan Jiwa dengan Manifestasi Fisik.
    Keadaan ini ditandai dengan adanya keluhan-keluhan yang tidak khas, seperti sesak nafas, berdebar-debar, sulit tidur, muncul keringat dingin, gemetar, nyeri perut, ingin kencing terus, perut perih atau mulas, rasa mau muntah. Keadaan tersebut terjadi oleh karena anak menghadapi suatu kondisi atau situasi yang kurang atau tidak mengenakkan. Apabila diperiksa oleh dokter, maka tidak didapatkan gangguan fisik yang mendasari adanya keluhan tersebut.

  5. Keterlambatan atau Kemunduran Perkembangan
    Keterlambatan atau kemunduran dari perkembangan intelektual, emosi, perilaku, sosialisasi dan komunikasi akan berdampak anak normal menjadi anak bermasalah. Kemampuan dari anak dalam  perkembangan tersebut, relatif terlambat dibandingkan dengan rata-rata anak normal.


Deteksi Dini
       Anak-anak yang mengalami stres atau yang mengalami gangguan jiwa, memerlukan deteksi dini agar gangguan tersebut pada anak tidak menyebar ke aspek-aspek yang lain, termasuk juga tidak menjadi semakin berat dan kompleks.
Deteksi ini dapat dilakukan sejak mulai nampak adanya keterlambatan-keterlambatan dalam pertumbuhan fisik dan perkembangan jiwa dibandingkan dengan anak-anak lain yang normal. Selain itu, dapat pula dideteksi adanya perubahan-perubahan, baik perubahan prestasi belajar, emosi,  perilaku maupun sosialisasi anak yang semula baik-baik saja.
      Untuk itu peran orang tua dan guru sangat dominan terhadap tugas ini, oleh karena orang tua dan guru yang sehari-hari banyak berinteraksi dengan anak.
      Masalah lain yang harus menjadi perhatian adalah psikodinamika terjadinya stres atau gangguan jiwa tersebut. Kadang-kadang kita sulit untuk menentukan, mendekati dan atau mengintervensinya. Sehingga tidak jarang anak stres atau gangguan jiwa sulit untuk mendapatkan pelayanan yang memadai untuk mengantisipasi berkembangnya masalah stres dan gangguan jiwa yang dihadapinya.

Penanggulangan
         Dalam bidang psikiatri, di kenal 3 macam terapi yang utama untuk anak stres atau gangguan jiwa, yaitu :  terapi psikologik untuk anak tersebut, terapi lingkungan terutama keluarga dan lingkungan sekolah, dan terapi medikamentosa. Terapi psikologik meliputi : terapi bermain, terapi cerita, terapi menggambar, terapi edukasi dan terapi-terapi lain yang tergantung pada penekanannya. Berikut ini penjelasan singkat tentang terapi bermain.
         Terapi bermain adalah proses terapi psikologik pada anak, di mana alat permainan menjadi sarana utama untuk mencapai tujuannya. Ada 3 macam alat permainan, yaitu : fantasi, ketrampilan dan edukatif (APE = Alat Permainan Edukatif)

1. Alat permainan fantasi.
Alat permainan sudah tersaji dalam bentuk miniatur. Anak tinggal menggunakannya. Cara menggunakannya cukup dengan mengandalkan fantasinya. Contoh : boneka, mobil-mobilan.

2. Alat permainan ketrampilan.
Dalam memainkan alat permainan tersebut, ketrampilan motorik sangat diperlukan. Apalagi bila harus dipertandingkan dengan teman-temannya. Contoh : main bola, sepeda, dan sebagainya.

3. Alat permainan edukatif (APE)
     Dalam memainkan alat permainan ini ada beberapa ciri : anak terlibat banyak, anak harus mampu menyelesaikan dan memerlukan panduan dari pemandu (terapis).

Dalam terapi bermain, alat permainan yang banyak digunakan adalah APE, oleh karena anak memerlukan panduan dari terapis, sehingga terapi dengan mudah dapat berkomunikasi dengan anak, dan sekaligus mudah untuk mengukur kemajuan perkembangan dari hasil terapi. Alat permainan fantasi dan ketrampilan juga digunakan, apabila anak belum mampu untuk bermain dengan APE, juga dalam memberikan selingan selama terapi berlangsung, untuk mencegah kejenuhan.
APE dimanfaatkan sebagai sarana terapi bermain oleh karena mempunyai tujuan, antara lain :

  1. Menanamkan rasa percaya anak terhadap terapis, di mana anak merasa bahwa terapis akan bermaksud baik menolong dirinya.
  2. Mengevaluasi kondisi proses berfikir (kognitif), emosinal dan komukasi dari anak. Dalam proses terapi, selama anak bermain, terapis dapat mengamati bagaimana cara anak bermain. Dari sinilah dapat diamati kondisi awal dari proses berfikirnya dan dapat pula diikuti kemajuannya. Kondisi emosi dapat diamati dari ekspresi anak dan keinginan untuk bermain lagi. Proses terapi dianggap bermanfaat, apabila anak menunjukkan emosi yang positip selama proses terapi tersebut.
  3. Memacu perkembangan anak. Anak-anak yang mengalami keterlambatan perkembangan akan nampak kemajuan dari aspek perkembangan yang terlambat tersebut.
  4. Memperbaiki perilaku anak. Anak-anak yang mempunyai perilaku menyimpang dengan keteraturan dan peraturan dalam APE tersebut, anak secara tidak langsung akan berusaha menginternalisasi keteraturan dan peraturan tersebut.
  5. Menimbulkan rasa aman dan bahagia. Selama dan setelah anak bermain, akan timbul perasaan puas atas upaya yang telah dilakukan. Hal ini akan menimbulkan rasa aman dan bahagia.

     Terapi lingkungan, baik dengan keluarga maupun lingkungan sekolah dengan tujuan untuk ikut membantu proses meminimalisasi sumber stresor dan sekaligus untuk membantu pemulihannya.
    Terapi medikamentosa (terapi dengan obat-obatan psikotropika) diberikan pada kasus-kasus yang berindikasi secara klinis.
 
Prognosis
     Keberhasilan dalam penanggulangan anak stres dan gangguan jiwa  tergantung dari beberapa faktor-faktor yang ikut berperan dalam proses kejadiannya, deteksinya dan keberhasilan terapi itu sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain :
1.    Berat-ringannya gangguan
2.    Waktu dan lamanya terjadi gangguan.
3.    Kompleksitas gejala.
4.    Penyebabnya, dapat dikoreksi atau tidak.
5.    Kondisi perkembangan anak.
6.    Kondisi keluarga, khususnya kepribadian orang tua.
7.    Kemampuan terapis
8.    Fasilitas yang memadai
9.    Sistem rujukan.

Kesimpulan
     Deteksi dini stres pada anak perlu dilakukan untuk menolong anak dari ketidak-enakan serta membantu anak unuk segera beradaptasi dengan masalah yang dihadapi. Dengan penanggulangan yang tepat, anak yang stres bisa dicegah terjadinya gangguan jiwa pada anak.
      Terapi bermain merupakan salah satu bentuk terapi psikologis untuk anak yang mengalami stres, bahkan yang sudah mengalami gangguan jiwa. Pada dasarnya terapi harus merupakan terapi multidisiplin, tidak cukup hanya satu macam saja. Diperlukan bentuk terapi lain dan bahkan ahli yang lain.
Terapi bermain membutuhkan sarana yang memadai dan prosesnya berkesinambungan, serta membutuhkan waktu yang cukup. Untuk itulah diperlukan kesabaran dari terapis dan orang tua.
      Oleh karena anak merupakan aset masa depan bagi orang tua, masyarakat, bangsa dan negara, upaya penanggulangan anak bermasalah harus betul-betul dilakukan secara serius dan berkesinambungan.



* disampaikan dalam seminar psikologi di RS. Panti Wilasa “Dr. Cipto”  
 
 {oleh : Dr. Ismed Yusuf, Sp.KJ(K) / Psikiater}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 28 (OKTOBER-DESEMBER 2011)

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar