DIA BUKA JALAN, SAAT TIADA JALAN

DIA BUKA JALAN, SAAT TIADA JALAN

Hari itu seperti biasa saya hendak memulai praktek  di sebuah apotek. Jam tujuh malam  saya membuka praktek . Tiba-tiba datang seorang ibu paruh baya, kita sebut saja ibu W. Sebenarnya bukan kali itu saja ibu W ini datang untuk periksa, sebelumnya dia sudah sering berobat. Hari itu ibu W datang untuk melakukan pengecekan kadar gula. Selagi saya memeriksanya dia bertanya, “Dokter masih ingat saya?” dan saya jawab,   “Masih bu, saya masih ingat.”

 

    “Dokter tahu kan, saya beberapa waktu lamanya sempat kurang waras?” Saya mengernyitkan,”Maksud ibu?” Ibu W pun melanjutkan pembicaraannya,
     “Begini dok, saya kan kenal dokter sudah lama sekitar 6 tahunan.Saya dulu, maaf ya dok, agak gila, jadi terkadang kalau berobat ke sini sering berbicara yang kurang pantas. Tapi sekarang saya sudah sembuh dok, Tuhan sudah sembuhkan saya.” Selesai mengucapkan kalimat ini dia melihat ke ruang tunggu, apakah masih ada pasien lainnya yang mengantri di sana.
    Karena belum ada pasien lainnya, ibu W pun melanjutkan ceritanya. “Kalau tidak keberatan, saya ingin berbagi kisah hidup saya dengan dokter.” Saya pun mengiyakan dan mendengarkan kisah hidupnya.
    “Sebelumnya saya berjualan es dan rokok di jalan S dok, tapi kehidupan kami sangat sulit. Suami saya sakit dan tidak mampu bekerja lagi, sementara anak saya masih sekolah. Untuk makan setiap hari saja sudah sulit, apalagi untuk berobat dan menyekolahkan anak. Seringkali kami sekeluarga hanya makan sehari sekali. Dalam keadaan yang sulit itu, saya stress berat dan setengah gila. Suami saya sedih melihat keadaan saya tapi tak mampu berbuat apa-apa”
    Ibu itu berdiam sejenak, sembari menatap saya. Perlahan dia bicara lagi. “Saya bertanya kepada Tuhan, sampai kapan harus begini? Saya hanya ingin hidup layak, bisa makan, bisa berobat dan menyekolahkan anak, itu saja Tuhan permintaan saya.” Kondisi makin menyedihkan, hingga suatu saat ibu tersebut ketika sedang bersepeda melewati  salah satu  pusat pertokoan, “Disana saya lihat ada sebuah butik membutuhkan penjahit yang berpengalaman, dan saya merasa itu jawaban dari Tuhan, karena saya adalah seorang penjahit yang berpengalaman.    Saya memutuskan untuk datang melamar ke butik itu keesokan harinya. Sayangnya, pekerjaan itu sudah terisi oleh orang lain. Hancur hati saya.”
    Ibu W kemudian melanjutkan perjalanan ke jalan S dan berjualan es dan rokok seperti biasanya. Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di depan tempatnya berjualan, seorang bapak turun dari mobil itu dan menghampirinya.
    “Dia menawarkan sekardus buku bekas pada saya seharga dua puluh lima ribu rupiah. Saya berkata kepada bapak tersebut jual saja ke kios buku yang di sebelah sana, pasti bapak dapat dua ratus lima puluh ribu rupiah karena bukunya masih bagus dan rapi.”
    Jawaban bapak ini membuat Ibu W terheran-heran, ”Bu, saya hanya mau menjual buku ini pada ibu, bayar saja dua puluh lima ribu dan buku di kardus ini jadi milik ibu.”
    Ibu W merogoh sakunya dan mengeluarkan uang duapuluh lima ribu lalu memberikannya kepada bapak itu. Kemudian ibu W mulai menjual buku-buku itu, hari itu semua buku di dalam kardus itu terjual habis dan ibu W memperoleh satu juta rupiah dari hasil penjualan buku-buku itu.
    Dia merasa inilah petunjuk dari Tuhan untuk memulai usaha yang baru, yaitu berjualan buku bekas. Singkat cerita, saat ini ibu W sudah 3 bulan ini berjualan buku bekas, buku-bukunya selalu laris terjual bahkan dia seringkali menolong ibu-ibu yang kurang mampu yang menjadi pelanggannya dengan memberikan diskon khusus.
    Saya bertanya, “Mengapa Bu?” Jawabannya, “Saya pernah merasakan kesulitan yang sama dok, sekarang waktunya saya menolong sesama yang membutuhkan. Hari ini, saya diberkati Tuhan lewat usaha berjualan buku bekas ini. Saya juga mau menyewa sebuah kios untuk mengembangkan usaha saya. Selain itu, saya juga di sembuhkan oleh Tuhan, sudah waras dok sekarang,” ujarnya seraya tersenyum.
    Saya mengeluarkan 10 majalah bekas dari lemari saya, kemudian saya berikan ke ibu W. Dia menerimanya dengan senang. Saya pun berterima kasih pada ibu W karena telah memberkati saya dengan kesaksian hidupnya.
    “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Karena segala jalan orang terbuka di depan mata Tuhan, dan segala langkah orang diawasi-Nya”

 

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 45 (JANUARI-MARET 2016)

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar