FLEK PARU

FLEK PARU

Pak dokter, saya mempunyai anak berumur 3 tahun. Bulan yang lalu dia panas disertai batuk-batuk selama kurang lebih 1 minggu. Oleh dokter dinyatakan menderita penyakit flek. Pertanyaan saya : (1) Apakah penyakit flek itu bisa kambuh lagi, karena dulu pada waktu berumur 1 tahun anak saya juga pernah mengalami penyakit flek paru dan sudah menjalani pengobatan rutin selama 6 bulan? (2) Apakah penyakit itu bisa menular, bila menular bagaimana caranya? (3) Apakah bahayanya apabila penyakit ini terjadi pada anak-anak? (4) Bagaimana cara pencegahannya agar tidak terkena penyakit flek pada anak-anak?
Terima kasih atas penjelasan dokter.

Dari: Ibu Wida Semarang

Yth Ibu Wida,
    Terima atas partisipasinya dalam majalah Kasih melalui pertanyaan yang telah dikirimkan ke meja redaksi. Ibu Wida dan para pembaca majalah Kasih yang setia, sebelum menjawab pertanyaan, ada baiknya kita bahas sekilas lebih dulu apa itu penyakit flek paru. Penyakit flek paru memang masih banyak terjadi pada anak dan juga orang dewasa. Pada anak-anak mudah terkena penyakit flek paru karena penyakit ini memang menular dari satu orang ke orang lain. Flek paru masih banyak diderita oleh masyarakat, baik orang dewasa maupun anak. Sebetulnya penyakit ini sudah lama dikenal oleh manusia (kumannya sudah dikenal dan ditemukan lebih dari 100 tahun yang lalu). Tetapi walaupun sudah lama dikenal dan ditemukan obat-obatnya, hingga saat ini flek paru masih merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia. Sebagai gambaran, sepanjang dasawarsa terakhir abad ke-20 ini, jumlah kasus baru meningkat di seluruh dunia, 95% kasus terjadi di negara berkembang. Di Indonesia, flek masih merupakan masalah kesehatan yang menonjol; bahkan secara global, Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai penyumbang kasus terbanyak di dunia.
    Karena penyakit ini memerlukan pengobatan yang lama (paling cepat selama 6 bulan, bisa sampai 1 tahun), sehingga juga memerlukan biaya yang besar dan perlu kepatuhan penderita dalam keteraturan minum obat. Karena kebosanan atau merasa sudah membaik setelah beberapa bulan minum obat, banyak penderita yang berhenti minum obat sebelum 6 bulan pengobatan. Ada juga karena alasan ketiadaan biaya untuk berobat secara teratur. Semua ini mengakibatkan tidak sembuhnya penyakit dan yang membahayakan dan merugikan masyarakat umum adalah kuman yang ada di tubuhnya menjadi kebal terhadap obat-obat flek paru, menjadi makin sulit untuk diobati apabila menular ke orang lain.     Penyakit flek paru disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis. Jadi flek paru sebenarnya adalah tuberkulosis (TBC). Pada anak, tuberkulosis  mempunyai permasalahan khusus yang berbeda dengan orang dewasa. Pada anak, permasalahan yang dihadapi adalah masalah diagnosis, pengobatan dan pencegahan.
    Ibu Wida dan para pembaca majalah Kasih, saya akan mencoba menjawab pertanyaan yang diajukan ke meja redaksi sebagai berikut:

  1. Apakah penyakit flek paru bisa kambuh lagi? Bisa, tetapi jarang terjadi pada anak seumur anak ibu (3 tahun). Kekambuhan biasanya terjadi pada masa remaja, karena pada saat itu perkembangan dari sistem kekebalan tubuh mengalami penurunan, dibanding perkembangan sistem tubuh lainnya yang sedang pesat-pesatnya (fisik dan sistem reproduksi). Sering  juga penyakit menjadi aktif lagi (baca: kambuh) pada saat dewasa, ketika kuman tuberkulosis yang tadinya “tidur” sekian lama, karena kekebalan tubuh yang kurang baik, menjadi aktif dan hidup kembali, berkembang biak dan akhirnya timbul gejala penyakit tuberkulosis. Bila saat berumur 3 tahun dinyatakan menderita flek paru lagi, padahal sudah pernah mengalami sakit seperti itu dan sudah menjalani pengobatan selama 6 bulan, ada beberapa kemungkinan. Pertama, mungkin seringnya terpapar dan terinfeksi oleh bakteri ini karena ada sumber penularan (biasanya orang yang dekat dengan anak, sering mengasuh/ketemu dan menderita tuberkulosis). Tetapi sering kali kita tidak bisa/sulit mencari sumber penularan dari orang yang dekat dengan anak atau memang tidak ada sumber penularan. Ini disebabkan karena memang Indonesia masih merupakan daerah endemis penyakit flek paru, sehingga kita kesulitan menentukan sumber penularannya; tahu-tahu anak kita sudah terkena penyakit ini.
  2. Penyakit flek paru tergolong penyakit menular. Penyakit ini menular melalui percikan cairan saluran pernafasan penderita tuberkulosis yang beterbangan di udara (dikeluarkan saat batuk, bersin, ataupun dari udara pernafasannya, yang disebut percik renik/droplet nuclei). Orang tertular karena menghirup  droplet nuclei  ini yang sempat masuk ke paru. Apabila sistem kekebalan tubuh baik, mampu membunuh kuman yang masuk, anak tidak akan mengalami penyakit ini. Sebaliknya apabila daya tahan tubuhnya tidak mampu melawan, kuman yang masuk tadi akan berkembang biak dan akhirnya menimbulkan penyakit flek paru. Perlu diketahui, bahwa yang menularkan penyakit flek paru biasanya adalah penderita dewasa. Anak yang menderita flek paru tidak menularkan ke orang atau anak lain (kecuali pada kasus berat, misalnya yang sudah menyebar ke seluruh paru, yang disebut tuberkulosis milier). Ini disebabkan pada anak, jarang ditemukan kuman dalam lendir saluran nafasnya, dan jarang terdapat batuk. Pada orang dewasa kuman ini banyak ditemukan dalam lendir saluran nafasnya, dan lebih sering ada batuk, sehingga yang menyebarkan kuman melalui droplet nuclei adalah orang dewasa yang menderita tuberkulosis.
  3. Bahaya penyakit flek adalah apabila tidak segera terdiagnosis dan tidak menjalani pengobatan yang sempurna. Karena penyakit ini bersifat menahun, bukan akut, berjalan lambat, dan gejala penyakit yang terjadi tidak khas. Apabila tidak segera terdiagnosis dan tidak mendapatkan pengobatan yang semestinya, penyakit ini mampu menyebar ke berbagai organ tubuh. Dalam 3-6 bulan dapat menyebar keseluruh paru atau ke selaput otak. Dalam 1-3 tahun bisa menyebar ke tulang dan sendi. Dalam 5 tahun bisa mengenai ginjal. Manifestasi klinis sakit tuberkulosis bisa terjadi dalam 5 tahun pertama, tetapi sebagian besar terutama pada 1 tahun pertama. Dan 90% kematian karena flek terjadi dalam tahun pertama setelah diagnosis tuberkulosis. Organ-organ tubuh selain di atas yang dapat terkena tuberkulosis adalah: kelenjar limfe (di leher, lipatan paha, ketiak, usus, dll), otak dan saraf, kulit, mata. Ketika organ tubuh seperti tersebut di atas terkena, risiko yang paling jelek adalah kecacatan yang tidak bisa pulih kembali. Inilah bahayanya apabila penyakit flek paru sudah menyebar kemana-mana, utamanya apabila ke organ tubuh yang vital.
  4. Pencegahan supaya tidak terkena flek paru, bisa dilakukan dengan : Pertama: Imunisasi BCG. Imunisasi ini sebaiknya diberikan sebelum bayi berumur 2 bulan. Apabila sudah melebihi umur 2 bulan, upayakan segera divaksinasi BCG sebelum umur 11 bulan. Karena kita tahu bahwa negara kita merupakan daerah endemis, maka sebaiknya diberikan seawal mungkin (usia 0 - 2 bulan). Kedua: Hindari sumber penularan. Jauhkan anak dari penderita tuberkulosis dewasa. Apabila salah satu anggota keluarga kita jelas menderita flek paru, obati sampai tuntas, sementara anak kita diberikan obat untuk kemoprofilaksis (dengan obat untuk mencegah supaya anak yang terpaksa harus berdekatan dengan sumber penularan, tidak mangalami sakit flek paru dalam hal seperti ini, sebaiknya konsultasi dengan dokter).


    Demikian ibu Wida dan para pembaca, semoga jawaban yang singkat ini bisa memuaskan dan berguna untuk menjauhkan anak-anak kita dari penyakit-penyakit, khususnya flek paru. Terima kasih.

 

 

{oleh : Dr. Sedyo Wahyudi, Sp. A}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 5 (JANUARI-MARET 2006)

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar