FORUM ILMIAH RS. PANTI WILASA DR. CIPTO

FORUM ILMIAH RS. PANTI WILASA DR. CIPTO

Foril medis 21 Desember 2005
    Tanggal 21 Desember 2005 merupakan Forum Ilmiah Medis terakhir di penghujung tahun 2005. Pembicara yang dipercaya membawakan materi adalah Dr. Heru Dwi Jatmiko Sp.An dengan mengambil tema “Pengelolaan Nyeri pada Trauma. Dalam kesehariannya Dr. Heru berkantor di Bagian Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro atau RS. Dr. Kariadi Semarang. Dalam penyampaian kali ini dr. Heru terkesan sangat Low Profile, walau segudang prestasi telah beliau raih akan tetapi tetap saja santun dalam penyampaian. Durasi waktu 1 jam yang diberikan dibawakannya dengan santai akan tetapi tetap serius sehingga jauh dari kesan membosankan. Dalam materinya Dr. Heru menyampaikan bahwa nyeri merupakan suatu gejala kerusakan jaringan yang tidak mengenakan yang biasanya muncul setelah proses operasi. Nyeri ada dua yaitu : nyeri akut, nyeri yang terjadi akibat adanya kerusakan jaringan yang nyata dan nyeri kronis. Penyebab dari timbulnya rasa nyeri adalah : kerusakan jaringan, mekanisme nyeri, dan sindroma nyeri. Mekanisme nyeri ada empat meliputi: Transduksi, transmisi, modulasi dan persepsi.
    Nyeri sangat berhubungan dengan obat jadi begitu timbul rasa nyeri apalagi nyeri akut maka harus sesegera mungkin diobati. Penelitian demi penelitian telah dilakukan demi untuk mengurangi rasa nyeri pada trauma. Nyeri bisa dikatakan sesuatu perusakan jaringan yang disengaja karena akan digunakan untuk media operasi, jadi penanggulangannyapun harus cepat dan tepat. Diakhir ceramahnya Dr. Heru menarik beberapa kesimpulan yaitu :nyeri akut harus diobati secepat mungkin, perlunya kombinasi NSAID dan Opiat bila terjadi nyeri berat dan perlunya pendekatan psikologi pada pasien. Foril Medis seperti biasa diakhiri dengan pembagian door prize.

Foril Medis 19 Januari 2006
    Bertepatan dengan hari ulang tahun RS. Panti Wilasa “Dr. Cipto” Forum ilmiah medis yang pertama di tahun 2006 dilaksanakan. Tampak sekali wajah-wajah baru menghiasi suasana Foril medis spesial kali ini, beberapa dokter-dokter muda tampak hadir. Sudah semakin jelas bahwa Forum Ilmiah Medis yang secara rutin diselenggarakan ini semakin digemari karena sarat dengan ilmu pengetahuan terutama ilmu kesehatan. Pembicara yang didaulat pada Foril medis yang bertepatan dengan HUT RS. Panti Wilasa “Dr. Cipto” yang ke 56 ini adalah dr. Charles Limantoro, Sp.PD dengan mengambil judul “Pemakaian b Blokers pada gagal Jantung”. P-Blokers menurut Dr. Charles cukup aman dan baik dikonsumsi oleh pasien usia lanjut, penderita hipertensi, asma dan diabetes melitus. Menurut beberapa penelitian yang  telah dilakukan P-blokers mampu menurunkan mortalitas sampai 35 % lebih. P- Blokers dapat digunakan oleh penderita hipertensi dan bisa dikombinasi dengan obat-obat hipertensi sejenis. Memang dalam mengkonsumsi obat-obatan terutama pada usia lanjut yang rentan terhadap penyakit sangat perlu sekali berhati-hati dan selalu berkonsultasi dengan dokter. Dari diskusi demi diskusi yang sering dilakukan semacam foril medis inilah sangat terlihat bahwa dalam menganalisa suatu penyakit dan memberi obat terhadap para pasiennya para dokter tidak sembarangan, mereka selalu bertukar pikiran satu sama lain terhadap obat-obatan yang diperlukan lengkap dan menganalisa efek sampingnya.
    Durasi pembicara kali ini hanya 1 jam dan dilanjutkan dengan tanya jawab sekitar 10 menit, karena kesibukannya dr. Charles menyampaikan makalah dengan singkat, akan tetapi tidak mengurangi nilai-nilai pengetahuan didalamnya. Diakhir acara merupakan tradisi foril medis dan juga tradisi acara-acara yang diselenggarakan yaitu pembagian door prize.

Foril Medis, 8 Februari 2006.
    Hari ini sekitar 50 peserta yang terdiri dari para Dokter Umum dan beberapa para medis memadati Aula lantai 4 untuk mengikuti kegiatan rutinnya yaitu Forum Ilmiah Medis. Foril Medis kali ini didaulat sebagai pembicara adalah Dr. Ismed Yusuf, SpKJ dari Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran UNDIP. Tema yang diangkat adalah “Tidur, Gangguan tidur dan penatalaksanaannya. Tidur menurut Dr. Ismed adalah merupakan suatu proses yang kompleks dan diatur dengan sangat baik menyangkut berbagai kelompok neuron yang berbeda dan sangat diperlukan bagi kehidupan meskipun tujuan sebenarnya belum dimengerti. Ada dua keadaan yang penting dan berbeda yaitu Tidur REM dan NREM. Tidur REM dan NREM memiliki kesamaan yaitu kesamaan bentuk, tidak berespon, bersifat berubah dan tidak disadari. Sedangkan perbedaannya adalah aliran darah ke otak, penggunaan glukosa, neurotransmiter dan fungsi thalamus. Faktor penentu tidur meliputi homeostasis, ritme sirkadian, perilaku dan umur. Tidur yang diperlukan menurut Dr. Ismed adalah jumlah tertentu yang memungkinkan kita cukup bangun, siaga dan kuat sepanjang hari, rata-rata yang waktu dibutuhkan adalah 8 jam, waktu yang khas sangat berbeda bagi masing-masing orang dan mungkin juga ditentukan oleh faktor genetik.
    Beberapa aturan yang sehat untuk tidur seperti : hindari kopi, alkohol, dan nikotin setelah makan siang, makanlah makanan ringan sebelum waktu tidur, sesuaikan lingkungan tidur dan atasi kekhawatiran sebelum tidur. Adapun tidur yang tidak sehat meliputi : Jadwal tidur tidak teratur, tidur siang yang berlebihan, minum kopi, alkohol, latihan mental sebelum tidur dan hal-hal negatif yang berhubungan dengan tidur (membaca, nonton TV). Ada beberapa jenis gangguan tidur jelas Dr. Ismed, antara lain: Dysomnia yaitu kesulitan dalam memulai dan mempertahankan tidur yang merupakan gangguan mencolok dari jenis ini, Parasomnia yaitu adanya kejadian yang abnormal selama tidur, Gangguan tidur yang ada hubungannya dengan gangguan jiwa lain, Gangguan tidur lainnya yang biasanya disebabkan oleh faktor fisik atau pengaruh obat-obatan. Menarik sekali materi yang disampaikan dokter senior dari FK Undip, tampak sekali keahlian dalam menguasai audiences sehingga tercipta kondisi yang komunikatif. Banyak sebenarnya pertanyaan yang diajukan oleh peserta akan tetapi bagaimanapun semua terbatas oleh waktu. Seperti biasa akhir dari acara adalah pembagian door prize.

Foril Asisten Apoteker 27 Januari 2006
    Tanggal 27 Januari 2006 bertempat di ruang LPK UPKM RS. Panti Wilasa “Dr. Cipto” dilaksanakan Forum Ilmiah khusus bagi Asisten Apoteker dilingkungan RS. Panti Wilasa “Dr. Cipto” dengan pembicara Sri Hari Wahyuni Ssi, Apt dengan mengambil tema “Pharmaceutical Care”. Ketentuan tentang respon langsung terhadap pengobatan yang berhubungan dengan merawat untuk mencapai suatu tujuan atau sasaran yaitu kualitas hidup pasien adalah definisi dari Pharmaceutical Care, jelas Sri Hari Wahyuni. Ada beberapa unsur yang harus ada lanjutnya yaitu :
Praktek (practice), yaitu dengan menerapkan ilmu pengetahuan untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik dan tidak dapat dilakukan hanya oleh satu macam tenaga kesehatan.
Fokus pada Pasien, pasien sebagai subyek bukan obyek dan pasien adalah manusia bukan barang.
Interaksi langsung dengan pasien, segala sesuatu tindakan yang diberikan harus dikomunikasikan dengan pasien dan pasien harus setuju atau menolak terhadap perlakuan yang akan diberikan.
Terapi obat tradisional, harus tepat, efektif, aman, nyaman dan mempertimbangkan faktor biaya.
Kualitas Hidup, suatu penilaian yang lengkap mengenai kualitas hidup dan pasien ikut dilibatkan dalam memberikan penilaian.
Sasaran/ target, kepastian perbaikan kualitas hidup, kesembuhan penyakit, pengurangan simtom/ gejala penyakit dan penghentian/ perlambatan proses penyakit.
Terdokumentasi, kerjakanlah apa yang dikerjakan dan tulis apa yang dikerjakan.
    Dari uraian yang telah  dipaparkan akhirnya dapat ditarik kesimpulan bahwa pelayanan farmasi tidaklah sederhana, tetapi sangatlah kompleks, sasaran / target pelayanan adalah meningkatkan kualitas hidup pasien, pelayanan tidak dapat dilakukan oleh satu unsur tenaga kesehatan saja melainkan semua unsur yang ada di rumah sakit.

Foril Keperawatan 3 Februari 2005.
    Tanggal 3 Februari 2005 dilaksanakan Forum Ilmiah Keperawatan yang menerangkan SOP (Standart Operational Prosedure) untuk beberapa peralatan medis yang disampaikan oleh Sr. Wilfrida dan Sr. Nurhayati. Tujuan dari penyelenggaraan Foril ini adalah agar semua perawat dapat memahami dan menjalankan tugas keperawatan sesuai SOP.

 

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 5 (JANUARI-MARET 2006)

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar