Logo

HIKMAH PENDERITAAN

Foto: CNTCD1 MSOffice
HIKMAH PENDERITAAN

    Selama bertahun-tahun saya telah belajar bahwa Allah memiliki banyak cara untuk membentuk kita sesuai dengan keinginannya. Namun,  tampaknya metode yang paling Tuhan sukai adalah menguji daya tahan kita. semakin besar daya tahan itu, semakin besar pertumbuhan kita. Apa yang kita anggap sebagai perintang untuk mencapai tujuan, dilihat Allah sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Kesedihan, kekecewaan, kegagaalan, kesepian, depresi, ketakutan dan tekanan secara psikologis menjadi sarana yang semakin menguatkan kita jika kita “terlatih” menghadapinya, demikian penulis Ibrani sampaikan ( Ibrani 12:11).

    Ada banyak tokoh Alkitab yang mengajarkan kepada kita bagaimana mereka mampu mengatasi setiap kesulitan yang mereka hadapi dengan tidak menyalahkan Allah, namun belajar mengoreksi diri sendiri. Kita belajar dari Ayub bagaimana ia menghadapi situasi sulit yang luar biasa, segala miliknya berupa harta benda habis tidak berbekas, anak-anaknya mati, istrinya pergi meninggalkannya, bahkan sahabat-sahabatnya menyalahkan Ayub dan menganggap Ayub telah berbuat dosa besar sehingga hukuman ditimpakan kepadanya. Bukan hal mudah untuk menerima satu situasi dan kondisi yang demikian. Penyakit yang menimpa Ayub bukan penyakit yang ringan, ia harus merasakan gatal yang luar biasa sampai digambarkan harus menggaruknya dengan pecahan genting, betapa sudah sakit ditambah sakit lagi. Secara manusiawi berat dan wajar jika Ayub mempertanyakan kondisinya kepada Tuhan, namun  ia tetap menerima dan menjalani situasi berat itu, yang ia minta adalah ia kuat dan imannya tetap ada padanya. Secara fisik Ayub mengalami penderitaan yang luar biasa.

    Tidak berhenti disitu . Ayub mengalami tekanan psikologis yang luar biasa saat mendengar berita anak-anaknya mati semua, istrinya dan teman-temannya menyalahkan dirinya. Ayub menghadapi satu situasi yang buruk kembali, fisiknya sudah lemah masih ditambah tekanan psikologis yang diterimanya. Orang-orang yang seharusnya memberi penguatan dan mendukungnya pergi meninggalkannya. Betapa menderitanya Ayub. Situasi yang membuat manusia tertekan sering menimbulkan dampak yang tidak baik, sering orang menjadi putus asa, frustasi bahkan merasa tidak berarti dan menyalahkan Tuhan. Namun ternyata berbeda dengan Ayub, ia secara fisik/kedagingan lemah namun rohnya tetap kuat, ia menerima peristiwa berat yang menimpa hidupnya.  Ayub menyesal untuk setiap perkataan yang keluar dari mulutnya yang mungkin tidak berkenan di hadapan Allah, sampai pada satu pengakuan Ayub mencabut semua perkataannya. Ayub dapat merasakan betapa Allah penguasa alam semesta berpihak kepadanya, tanganNya tidak kurang panjang untuk menolongnya. Itulah upah kesetiaan Ayub kepada Tuhan, hidupnya tetap berkenan di hadapan Tuhan, seperti saat ia ada dalam kondisi baik sebelumnya, hidup Ayub kembali dipulihkan.

    Demikian juga dengan pengalaman hidup kita, tubuh daging kita lemah sehingga segala sesuatu yang ada diluarnya mampu untuk membuatnya menderita entah sakit penyakit dari yang ringan hingga yang berat, persoalan-persoalan kehidupan yang muncul silih berganti yang dirasakan selalu datang, kondisi ekonomi yang jauh dari apa yang kita harapkan, relasi yang sering tidak terbangun baik dan masih banyak hal-hal duniawi yang menimbulkan penderitaan. Peristiwa-peristiwa kehidupan itu ternyata tidak sekedar menyerang kita secara fisik namun juga mental dan spiritual. Persoalan –persoalan yang muncul ditengah keluarga, masalah relasi, ekonomi, anak-anak dan sakit penyakit  mampu membuat tubuh ini rusak, juga tekanan psikologis yang luar biasa “ Kenapa saya harus menerima beban ini?” sampai akhirnya mampu menggeser keyakinan kepada Tuhan sehingga sering muncul pertanyaan “Dimana Tuhan ketika saya seperti ini? “ “ Apa dosa saya?” “Apakah Tuhan mengasihi saya?”  . Jujur sering kita tidak mengetahui apa alasan datangnya penderitaan dalam kehidupan kita, seperti yang dialami Ayub datangnya tiba-tiba dan bertubi-tubi. Padahal kita mengetahui hidup Ayub tidak bercacat dan bercela di hadapan Allah.

    Pertanyaan-pertanyaan kepada Tuhan seperti diatas wajar dipertanyakan, namun kembali belajar dari Ayub bagaimana ia bisa mengendalikan diri dengan tetap datang kepada Tuhan , tetap membangun relasi yang baik dengan Tuhan, sehingga ia kuat melalui kondisinya dan Tuhan memulihkan dia. Penderitaan yang kita alami mengajak kepada kita untuk semakin dekat dengan Tuhan, semakin mengerti kehendak Tuhan atas hidup kita dan penderitaan membentuk kehidupan kita untuk menjadi lebih baik lagi. Penderitaan mampu membuat orang menjadi semakin kuat dalam menjalani kehidupan. Seperti kalimat disaat datang hujan masih bisa muncul pelangi yang indah, yang bisa dilihat dan dinikmati. Demikian dengan penderitaan yang kita alami  harusnya kita cermati bahwa ada rancangan Tuhan yang indah dan baik dibalik itu. Jangan kalah oleh penderitaan namun kalahkan penderitaan dengan terus berpegang dan setia kepada Tuhan. Rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera bagi kita bukan rancangan kecelakaan ( Yer. 29 : 11 ). Tuhanpun akan memulihkan keadaan kita ( Yer. 29 : 12). *

 

Oleh : Katika Purwandari SSi,Teol

 

Dimuat di Majalah Kasih Edisi 51

Tentang Penulis

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next TIPS MUDAH MULAI JADI PENULIS

Tinggalkan Komentar