Logo

IMUNISASI MR, Perlukah

Fofo : dok. bayu
 IMUNISASI MR,  Perlukah

 Mengenal Imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun yang artinya adalah kekebalan tubuh. Jadi imunisasi merupakan proses pemberian kekebalan tubuh pada diri seseorang terhadap penyakit tertentu. Imunisasi dapat terjadi secara aktif dan pasif. Imunisasi aktif sendiri dibedakan menjadi 2 juga yaitu imunisasi aktif alami dan imunisasi aktif buatan.  Imunisasi aktif alami terjadi apabila seseorang mengalami infeksi suatu penyakit tertentu, yang kemudian dari tubuhnya sediri  membentuk kekebalan terhadap penyakit tersebut. Jadi untuk mendapatkan kekebalan aktif alami seseorang harus mengalami sakit terlebih dahulu.


Imunisasi aktif buatan didapatkan dengan cara vaksinasi. Vaksinasi berasal dari kata vaksin. Vaksin adalah bakteri atau virus yang telah dilemahkan, atau dimatikan, atau diambil komponennya dan ada yang dibuat mirip dengan bakteri atau virus tertentu. Vaksinasi adalah proses memasukkan vaksin ke tubuh dengan tujuan untuk mendapatkan efek kekebalan terhadap penyakit tertentu.


Contoh vaksin yang berasal dari virus yang dilemahkan  contohnya adalah vaksin untuk Campak, Rubella, Parotitis, Rotavirus. Contoh vaksin yang berasal dari bakteri yang dilemahkan adalah vaksin BCG. Pada beberapa anak vaksin ini dapat menimbulkan efek samping demam dikarenakan pengaruh dari peran antibodi tubuh sebagai sistem pertahanan tubuh bereaksi terhadap virus atau kuman yang dilemahkan tersebut.


Contoh vaksin yang berasal dari virus yang dimatikan, atau diambil komponennya dan ada yang dibuat mirip dengan bakteri atau virus tertentu  adalah vaksin influenza, polio, rabies, hepatitis A, pertusis, tifoid, kholera, Hepatitis B, Pertusis a-celular, tifoid, Dipteri, Tetanus.
Adapun imunisasi secara pasif juga dibedakan menjadi 2 yaitu imunisasi pasif alami dan imunisasi pasif buatan. Imunisasi pasif alami didapatkan dengan memberikan immunoglobulin atau yang sering disebut juga sebagai antibodi yang berfungsi dalam sistem pertahanan tubuh kita. Imunisasi secara pasif didapatkan bayi dari menyusu ASI (Air Susu Ibu).


Imunisasi pasif buatan didapat dengan menyuntikkan sejumlah anti bodi tertentu ke dalam tubuh. Contoh imunisasi pasif adalah imunisasi ATS (Anti Tetanus Serum). Jadi yang di masukkan ke dalam tubuh sudah berupa serum yang adalah termasuk antibodi.


     Tujuan imunisasi adalah untuk memberikan rangsangan berupa sistem imonologi tubuh guna membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit.Tujuan vaksinasi untuk menstimulasi reaksi kekebalan tanpa menimbulkan penyakit. Fungsi imunisasi dan vaksinasi adalah memberikan perlindungan tubuh sehingga dapat menurunkan angka kejadian penyakit, kecacatan maupun kematian akibat infeksi dari penyakit tertentu. Secara umum imunisasi dan vaksinasi dapat  memberikan perlindungan pada individu dan komunitas terhadap penyakit tertentu terutama penyakit yang ditularkan melalui manusia.

Imunisasi MR
    MR adalah imunisasi kombinasi vaksin measles (M) dan rubella (R). Imunisasi MR berarti proses pemberian kekebalan tubuh dengan menyuntikkan vaksin M dan R sehingga tubuh mempunyai kekebalan terhadap penyakit campak (measles) dan campak jerman (rubella). Campak dan rubella adalah penyakit infeksi menular melalui saluran napas yang disebabkan oleh virus.


    Imunisasi MR diberikan untuk semua anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun selama kampanye imunisasi MR. Selanjutnya, imunisasi MR masuk dalam jadwal imunisasi rutin dan diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat menggantikan imunisasi Campak.


    Imunisasi MR aman bagi anak yang telah mendapat 2 dosis imunisasi Campak, anak yang sudah pernah mendapat imunisasi MMR maupun anak yang sudah pernah menderita sakit campak.


    Vaksin yang digunakan telah mendapat rekomendasi dari WHO dan izi edar dari Badan POM. Vaksin MR persen efektif untuk mencegah penyakit Campak dan Rubella.Vaksin ini aman dan telah digunakan di lebih dari 141 negara di dunia.


    Tidak ada efek samping dalam imunisasi. Demam ringan, ruam merah, bengkak ringan dan nyeri di tempat suntikan setelah imunisasi adalah reaksi normal yang akan menghilang dalam 2-3 hari. Kejadian ikutan pasca imunisasi yang serius sangat jarang terjadi.


    Terkait adanya isu negatif tentang imunisasi MR, berikut ini adalah klarifikasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) tentang imunisasi termasuk imunisasi MR. Ada 10 pesan penting IDAI yang perlu disampaikan kepada masyarakat. Mengutip laman resmi idai.or.id pada Jumat (25/8/2017) berikut pesan penting tentang imunisasi:

  1. Semua negara di dunia sampai sekarang melakukan imunisasi rutin bayi dan anaknya, karena adanya bukti yang tidak terbantahkan bahwa imunisasi mencegah: wabah, sakit berat, cacat, dan kematian. Manfaat imunisasi telah dibuktikan oleh kajian ilmiah berbagai profesi dan dipublikasikan secara resmi baik nasional maupun internasional.
  2. Kajian ilmiah oleh berbagai profesi di lembaga nasional/internasional dapat dipercaya oleh karena berbasis bukti dan dengan data yang valid berbeda dengan pendapat pribadi seseorang.
  3. Isu-isu mengenai bahwa vaksin itu berbahaya yang beredar sejak tahun 2003, bersumber dari berita tahun 1950-1960an yang dikutip dari beberapa buku dari luar negeri. Teknologi vaksin tahun 1950-1960an sangat berbeda dengan vaksin generasi sekarang. Untuk memahami isi dan proses pembuatan vaksin generasi sekarang diperlukan pengetahuan yang mendalam, sehingga tidak semua profesi kesehatan bisa memahaminya.
  4. Nama dan komentar yang dikutip dari buku tersebut ketika ditelusuri lebih lanjut ternyata hanya pendapat pribadi, tidak disertai metodologi dan rincian hasil penelitian, jabatan atau profesinya tidak sesuai dengan kutipan, kutipan tidak lengkap atau tidak sesuai dengan berita aslinya, dan sebagian sumber aselinya tidak dapat ditemukan.
  5. Akibat penyebaran isu yang tidak benar tersebut maka banyak anak Indonesia tidak diimunisasi polio, sehingga tahun 2005-2006 terjadi wabah polio di beberapa propinsi. Akibatnya 352 anak Indonesia lumpuh, cacat, menjadi beban keluarga seumur hidup. Penyebaran isu yang salah maka banyak anak Indonesia tidak diimunisasi DPT sehingga terjadi wabah difteria di Indonesia tahun 2007-2013. Akibatnya, 2.869 anak dirawat di RS dan131 anak meninggal dunia. Akibat penyebaran isu tersebut banyak anak tidak mau imunisasi campak sehingga makin banyak anak yang sakit berat atau meninggal akibat campak. Tahun 2010-2014 terjadi 1.008 kali wabah campak dan menyerang 83.391 bayi dan anak Indonesia.
  6. Di Indonesia dan beberapa negara lain, penyakit rubella semakin menjadi masalah. Sejak tahun 2010-2015 di Indonesia berdasarkan pemeriksaan laboratorium terbukti 6.309 anak terserang rubella, 77 % berumur kurang dari 15 tahun. Virus rubella dapat menyerang janin di dalam kandungan ibu, sehingga pada tahun 2015-2016 ada 556 bayi cacat dengan kelainan jantung (79,5%), buta karena katarak (67,6%), keterbelakangan mental (50%), otak tidak berkembang (48,6%), tuli (31,3%), dan radang otak (9,5%).
  7. Berdasarkan kajian oleh WHO yang kemudian diikuti dengan adanya Kampanye Global MR, maka berbagai profesi kesehatan bersama Kementerian Kesehatan mengkaji: bahaya penyakit, kemungkinan menyebar ke/dari negara lain, manfaat vaksin, ketersediaan vaksin, anggaran dll. Maka diputuskan imunisasi rutin perlu ditambah dengan imunisasi Rubella (R) yang digabung dengan imunisasi campak (measles = M). Mulai Agustus 2017 di pulau Jawa dilakukan imunisasi MR untuk anak sekolah, pada September 2017 untuk anak mulai usia 9 bulan dan yang belum bersekolah, walaupun mereka sudah pernah imunisasi campak /rubella atau sakit campak/rubella. Setelah itu MR akan masuk ke program imunisasi rutin untuk menggantikan imunisasi campak pada umur 9 bulan, 18 bulan, dan 6 tahun. Pada tahun 2018 imunisasi MR akan dilakukan di luar pulau Jawa: Agustus 2018 di sekolah-sekolah, September 2018 untuk bayi 9 bulan dan anak belum bersekolah. Setelah itu MR akan masuk ke program imunisasi rutin untuk menggantikan imunisasi campak pada umur 9 bulan, 18 bulan, dan 6 tahun. Imunisasi MR serentak dalam satu periode pada semua anak umur 9 bulan sampai
  8. Majelis Ulama Indonesia pada tanggal 31 Juli 2017 telah mengeluarkan rekomendasi No. U-13/MUI/KF/VII/2017 yang isinya memberikan dukungan pelaksanaan program imunisasi termasuk imunisasi Measles dan Rubella (MR)

  Seperti telah disampaikan di atas, Badan Kesehatan Dunia (WHO) beranggotakan pakar profesi kesehatan dari berbagai negara di dunia mendukung program imunisasi MR karena penyakit ini selain menjadi masalah Indonesia juga masalah internasional.
10. Untuk itu kami mengimbau untuk lanjutkan imunisasi rutin ditambah imunisasi MR untuk mencegah wabah, sakit berat, cacat dan kematian bayi dan anak kita. Sampai saat ini semua profesi di lembaga penelitian resmi nasional dan internasional menyatakan bahwa imunisasi terbukti aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat dan kematian.

    Dengan informasi di atas, mengapa harus ditunda? Imunisasi MR sangat bermanfaat bagi generasi penerus bangsa. n


Sumber:
https://www.scribd.com/doc/213517266/Perbedaan-Imunisasi-Aktif-Dan-Pasif
http://www.parenting.co.id/usia-sekolah/apa-itu-vaksin-mr-dan-apa-bedanya-dari-vaksin-mmr-
http://health.liputan6.com/read/3070449/para-dokter-bicara-vaksin-mr-ini-10-pesan-pentingnya
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/daftar-pertanyaan-seputar-imunisasi-campak/measles-dan-rubella-mr
https://www.k24klik.com/blog/imunisasi-mr-measles-rubella-gratis/

Oleh: dr. Nurendah Kristiana, MM

 

Dimuat di Majalah Kasih edisi 51

Tentang Penulis

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next IBU, AKU TAK PERNAH SANGGUP SAMPAI DI UJUNG CINTAMU

Tinggalkan Komentar