Logo

INDAHNYA BERBAGI

INDAHNYA BERBAGI

Suatu sore di instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit, tiba-tiba datang seorang anak muda dengan luka robek di dagu, setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter jaga igd ternyata memerlukan tindakan jahit luka. Pemuda tersebut berkata kepada dokter tersebut ,”Dok, saya menunggu ayah saya dulu ya untuk persetujuan jahit lukanya.” Dokter  pun mengangguk menyetujui permintaan pemuda tersebut.

 

    Tak lama kemudian datanglah ayah pemuda tersebut dan segera menemui dokter, untuk mendapatkan penjelasan mengenai kondisi anaknya. Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter, ayah pemuda tersebut segera menandatangani persetujuan tindakan medis untuk menjahit luka robek anaknya.
    Setelah proses penjahitan luka selesai, dokter  menulis resep obat. Dokter juga menjelaskan bahwa 3 hari lagi pemuda tersebut harus kontrol kembali ke rumah sakit,harus makan makanan yang bergizi,luka jangan terkena air dan harus minum obat secara teratur.
    Ternyata uang di bawa sang ayah tidak cukup untuk melunasi biaya berobat pemuda tersebut. Sang ayah pun mencurahkan isi hatinya kepada dokter, ”Dok, istri saya bekerja sebagai tenaga kerja wanita di luar negeri dan bulan ini kami belum menerima kiriman uang dari istri saya. Sedangkan persediaan uang kami hanya tinggal segini”, ujar si ayah seraya mengeluarkan seluruh uang yang ada di dalam kantong celananya.
    “Sekarang ini, saya sudah tidak bekerja lagi dok, karena saya terkena sakit jantung, tidak mampu lagi bekerja dok. Anak saya 2 orang, masih butuh banyak biaya, kenapa ya justru sejak saya mulai bersungguh-sungguh ikut Tuhan malah hal seperti ini diijinkan terjadi? Saya sakit, sedih dan terjepit secara ekonomi, kami bahkan sudah tidak punya apa-apa lagi”, ungkap si bapak.
    Sang dokter mencoba menguatkan sang ayah dengan berkata, ”Pasti Tuhan memberi jalan keluar yang terbaik untuk bapak dan keluarga. Bapak duduk saja di ruang tunggu, saya akan membantu bapak sebisa saya”, kata dokter.
    Dokter pun bertanya kepada petugas administrasi yang sedang bertugas di Instalasi Gawat Darurat tersebut,”Mbak kurang berapa to? Petugas administrasi pun menjawab berapa rupiah kekurangannya.
    Perawat yang sedang bertugas di situ pun mengajukan sebuah usul kepada dokter, seraya berbisik, “Dok, kalo resepnya diberikan antibiotika yang lebih murah bagaimana? Sejenak dokter E pun berpikir, ada baiknya juga ya usulan tersebut. Tetapi melihat keadaan luka pasien tersebut maka menurut dokter, itulah antibiotika yang terbaik. Akhirnya dokter tetap memberikan antibiotika tersebut.
    Suara lembut berbisik di hati dokter ,”Mengapa engkau tidak menolong kesulitan pasien itu? Dokter pun berkilah, uang di dompetku hanya tersisa lima puluh ribu rupiah saja, gajian masih seminggu lagi. Suara itupun kembali berbisik lembut, kan atm ada? Memang tidak jauh dari instalasi gawat darurat tersebut, ada anjungan tunai mandiri (ATM). Dokter pun berlari ke ATM tersebut dan menarik tunai sejumlah uang. Kemudian dokter  menyerahkan uang tersebut kepada petugas administrasi rawat jalan, untuk melunasi kekurangan biaya pengobatan anak muda tersebut.
    Singkat cerita, ternyata ada sisa uang sebesar tiga puluh lima ribu rupiah, petugas administrasi rawat jalan pun memberikan uang itu kepada dokter E,kembali suara lembut itu berbisik,”Berikan uang itu kepada bapak tersebut karena uang di kantongnya hanya tersisa lima belas ribu rupiah saja, dan mereka sekeluarga belum makan malam juga tidak punya uang untuk membayar ongkos becak agar mereka bisa pulang ke rumah karena motornya rusak setelah kecelakaan tadi.
    Dokter pun mendekati sang bapak dan menyodorkan uang sebesar tiga puluh lima ribu rupiah itu, sang bapak pun menampiknya dan berkata,”Maaf dok, kan uangnya kurang kok malah ada kembaliannya? Dokter pun tersenyum dan berkata,”Maaf Pak, saya tahu uang di kantong bapak hanya tersisa lima belas ribu rupiah, jadi jangan di tolak, uang ini bisa untuk makan dan ongkos becak pak.
    Sang bapak terheran-heran dan berkata,”Sebenarnya dokter ini siapa? Kenapa dokter tahu uang saya hanya tersisa lima belas ribu rupiah saja? Dokter pun tersenyum dan berkata,”Saya  dokter yang bertugas di instalasi gawat darurat sore ini, pak,” ujar dokter. Sang bapak pun menangis dan berkata,”Ternyata di balik persoalan ini, sudah Tuhan sediakan jalan keluar ya dok.”
    Dokter pun mengangguk, mengiyakan kata-kata sang bapak.
    “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang,.......”
( Galatia 6:9-10 ).

 

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 38 (APRIL-JUNI 2014)

Tentang Penulis

Patricia Putri

patricia putri

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next 7 BUMBU DAPUR BERKHASIAT

Tinggalkan Komentar