Logo

INISIASI MENYUSUI DINI IMD

mom and baby
INISIASI MENYUSUI DINI IMD

Melahirkan seorang bayi, apalagi kalau itu kehamilan yang pertama,
tentu merupakan momen yang sangat menegangkan; tetapi juga merupakan saat-saat yang sangat dinantikan oleh ibu dan bapak sang bayi
untuk segera bisa menggendongnya.

 

     Dalam menantikan anggota keluarga baru yang mau lahir ini, tentu banyak persiapan yang  harus dilakukan. Dari Kesehatan ibu sejak kehamilan dini, pakaian dan segala perlengkapan bayi, sampai kemungkinan nama-nama yang akan dipilih dan lain sebagainya. Kesiapan mental untuk menjadi ibu atau ayah juga merupakan hal yang tidak boleh diabaikan.
     Ada satu lagi kesiapan yang harus dilakukan ibu, yaitu kesiapan didalam memberikan ASI; makanan terbaik bagi bayinya. Dalam tulisan ini akan membahas bagaimana keberhasilan seorang ibu didalam memberikan ASI kepada bayi yang dilahirkannya, kaitannya dengan waktu setelah persalinan. Satu jam pertama kehidupan bayi, adalah masa yang sangat penting dalam keberhasilan menyusu (bagi bayi) dan juga dalam menyusui (bagi ibunya).  Tidak bisa disangkal lagi,  ASI adalah makanan terbaik dan paling sesuai untuk bayi. Karena ASI mengandung semua kebutuhan gizi yang diperlukan bayi, yang mudah dicerna oleh usus bayi. Mengandung antibodi yang siap pakai, sehingga bayi tidak mudah terkena penyakit. ASI juga mempunyai peran di dalam mencegah alergi, selalu segar, hangat dan tidak pernah basi serta bisa diberikan kapan saja dan dimana saja. Secara psikologis, dengan menyusui  akan mempererat hubungan batin antara ibu dan bayi. Itulah sebabnya tidaklah berlebihan apabila saat ini pemberian ASI secara eksklusif (pemberian ASI saja hingga bayi berusia 6 bulan) sangat dianjurkan.
      Untuk menunjang keberhasilan menyusui, saat ini digalakkan apa yang disebut dengan Inisiasi Menyusu Dini. Apa itu Inisiasi Menyusu Dini? Inisiasi Menyusu Dini (selanjutnya disingkat IMD) adalah usaha aktif bayi untuk menyusu dalam satu jam pertama kelahiran. Proses  ini difasilitasi oleh tenaga kesehatan (dokter atau bidan) yang menolong persalinan, dengan cara  meletakkan bayi di perut-dada ibu segera setelah lahir. Bayi dibiarkan untuk mulai menyusu sendiri dengan cara merangkak mencari payudara, dan membiarkan terjadinya kontak kulit bayi dan ibu setidaknya selama satu jam atau lebih sampai bayi menyusu sendiri. Inisiasi menyusu dini dilakukan pada bayi yang lahir melalui persalinan normal maupun seksio sesaria. Walaupun Inisiasi Menyusu Dini lamanya hanya satu jam, tetapi ini merupakan langkah awal menuju kesuksesan menyusu, dan mempengaruhi seumur hidup si bayi.
       Menurut penelitian yang dilakukan di Ghana, 22 persen kematian bayi yang baru lahir (kematian bayi dalam usia satu bulan pertama) dapat dicegah bila bayi disusui oleh ibunya dalam satu jam pertama kelahiran. Mengacu dari hasil penelitian ini, maka diperkirakan IMD dapat menyelamatkan sekurang-kurangnya 30.000 bayi Indonesia yang meninggal dalam bulan pertama kelahiran.
        Apakah semua bayi yang lahir harus dilakukan IMD? Tentu tidak semuanya. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan. IMD bisa dilakukan pada bayi baru lahir yang cukup bulan, sehat dan bayi prematur berisiko rendah yang lahir setelah kehamilan 35 minggu tanpa masalah pernapasan (stabil). Kondisi ibu juga harus dalam keadaan stabil yaitu ibu tanpa komplikasi kehamilan/persalinan seperti preeklampsi berat atau eklampsi, pendarahan pasca persalinan, diabetes melitus yang tidak terkontrol dan penyakit jantung. Prinsipnya, ibu dan bayi harus betul-betul stabil, tidak memerlukan perawatan atau tindakan medis. Apabila memerlukan perawatan medis IMD  tidak akan dilakukan.

BAGAIMANA  INISIASI MENYUSU DINI DILAKUKAN ?
     Inisiasi menyusu dini, pada dasarnya adalah memberi kesempatan bagi bayi untuk mulai (inisiasi) menyusu sendiri segera setelah lahir (dini). Begitu bayi lahir,  penolong persalinan akan mengeringkan seluruh bagian tubuh bayi, kecuali kedua tangannya. Bau air ketuban pada tangan bayi akan membimbingnya  mencapai puting payudara ibu,  karena keduanya mempunyai bau yang sama. Maka agar baunya tetap ada, dada ibu tidak perlu dibersihkan . Kemudian bayi diletakkan tengkurap di perut-dada ibu, menghadap ke arah ibu. Pada saat itu terjadilah kontak kulit dengan kulit, yang memberi kesempatan pada ibu untuk memberikan perhatian, kehangatan dan belaian  sehingga bayi merasa tenang dan hangat yang sangat bermakna dalam menurunkan risiko kedinginan pada bayi.  Keadaan ini akan sangat menyokong keberhasilan bayi dalam menghadapi proses adaptasi dari kehidupan di dalam kandungan ke kehidupan di luar kandungan dengan lebih baik. Dalam beberapa menit bayi berada di dada ibu, bayi akan merangkak mencari payudara dan menyusu sendiri (“the Breast Crawl”). Bayi dibiarkan tetap berada di dada ibu, agar  kontak kulit dengan kulit ibu setidaknya berlangsung selama satu jam sampai menyusu pertama selesai.
       Sebelum bisa menemukan puting susu dan menghisapnya, bayi biasanya akan  menampakkan perilaku sebagai berikut: dalam 30 menit pertama bayi akan diam dan siaga; sesekali ia akan melihat ibunya. Kemudian bayi akan mulai mengeluarkan suara, membuat gerakan menghisap, mengecap, mulai memasukkan tangan ke dalam mulutnya dan   mengeluarkan air liur.  Menendang, menggerakkan kaki, bahu dan lengannya. Kemudian mulai merangkak ke arah payudara ibu dengan kaki menekan-nekan perut ibu untuk bergerak ke arah payudara. Menjilat-njilat kulit ibu, menyentuh puting susu dengan tangannya, menghentak kepala ke dada ibu, menemukan puting, menjilat, mengulum puting susu, membuka mulut lebar dan akhirnya menyusu dangan baik.  Menyusu pertama ini bisa berlangsung sekitar 15 menit dan setelah selesai, selama 2 – 2,5 jam berikutnya tidak ada keinginan untuk menghisap. Selama menyusu ini, bayi akan belajar mengkoordinasi antara menghisap, menelan dan bernapas. Ini adalah gerakan-gerakan bayi yang sangat mengherankan, insting yang luar biasa, yang tidak terlepas dari kebesaran Tuhan.

KEUNTUNGAN INISIASI MENYUSU DINI
     Keberhasilan menyusu pada satu jam pertama setelah kelahiran, banyak memberikan keuntungan baik bagi bayi maupun ibunya. Bagi bayi, ia akan  mendapat kolustrum (ASI yang keluar pertama kali sampai beberapa hari setelah melahirkan) yang mengandung Imunoglobulin A dalam konsentrasi tinggi sehingga dapat memberi perlindungan terhadap bakteri, virus, protozoa, dan alergi. Terdapat penelitian yang mengungkapkan bahwa 16% kematian neonatal dapat dicegah jika seluruh bayi baru lahir mendapat ASI sejak hari pertama; bahkan lebih banyak lagi yaitu 22% kematian neonatal dapat dicegah jika ASI diberikan sejak satu jam pertama. Selain itu IMD juga membantu stabilisasi pernafasan, mengendalikan suhu tubuh bayi lebih baik dibandingkan dengan inkubator, menjaga kolonisasi kuman yang aman bagi bayi, mencegah infeksi nosokomial dan menurunkan kejadian kuning bayi baru lahir. Kontak kulit dengan kulit selama IMD membuat bayi lebih tenang, sehingga bayi akan mempunyai pola tidur yang lebih baik. Ketrampilan bayi menyusu akan tercapai lebih cepat dan efektif, sehingga berat badan bayi juga akan cepat meningkat. Bagi ibu, kontak kulit dengan kulit selama IMD, akan mengoptimalkan keadaan hormonal ibu (oksitosin dan prolaktin) dan memastikan perilaku berdasarkan naluri, serta secara psikologis dapat menguatkan ikatan batin antara ibu dan bayi.
       Walaupun tujuan IMD ini sangat baik, dalam pelaksanaannya tidak berarti tanpa hambatan. Ada beberapa ibu yang melahirkan merasa tidak nyaman dengan metode ini.  Banyak alasan yang dikemukakan. Masih kesakitan selama proses persalinan, merasa risih, lemas kehabisan tenaga selama bersalin, dan masih banyak alasan yang menghambat proses IMD ini. Bagi para pembaca yang kebetulan belum pernah melahirkan, akan melahirkan atau akan mempunyai cucu, mudah-mudahan informasi ini bisa berguna, sehingga tidak akan terkejut apabila mendengar, atau mengalami sendiri persalinan yang diikuti dengan program insiasi menyusu dini.

 

{oleh : Dr. Sedyo Wahyudi, Sp.A}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 22 (APRIL-JUNI 2010)

Tentang Penulis

Patricia Putri

patricia putri

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next MENGENAL GANGGUAN PSIKOLOGIS

Tinggalkan Komentar