Logo

JIKA TUHAN MENGHENDAKI KEDAMAIAN, KASIH DAH

JIKA TUHAN MENGHENDAKI KEDAMAIAN, KASIH DAH

     Budaya kekerasan nampaknya sudah semakin mendominasi kehidupan manusia. Kalau kita membaca Bust kabar dan melihat tayangan televisi, akhirnya kita mungkin harus setuju kalau rupa-rupa tindak kekerasan sudah semakin mask terjadi: ancam, maki, bentak, pelotot, gampar, tendang, perkosa, pukul, tinju, rusak, ganyang, curi, rampas, bakar, todong, culik, tusuk, tabrak, bunuh, bajak, tembak, dan banyak lainnya. Faktanya, demo-demo yang terjadi bisa hampir selalu berakhir ricuh. Coba lihat saja yang terjadi pada saat mahasiswa yang berdemonstrasi menolak kenaikan BBM berhadapan dengan satuan polisi yg menghalangi perjalanan mereka. Apa yg terjadi? Sating dorong, saling cengkeram, Baling memaki, Baling menyumpah, Baling menendang, saling memukul.     Penertiban PKL (Pedagang kaki Lima) oleh aparat yang berwenang juga hampir selalu diwarnai dengan pemaksaan, terkadang mengarah kepada penganiayaan. Kemudian, apa yg dilakukan oleh sekelompok suporter Klub Sepakbola ketika dalam sebuah pertandingan sepakbola Liga Super Indonesia kesebelasan yang didukung kalah? Lempari supoter lawan, hadang mobil yg lewat di jalan, pecahkan kacanya, bakar sampai ludes. Dicegah oleh polisi, justru polisinya yang kemudian dilempari batu. Sungguh aneh tapi nyata.
    Kalau kita tidak pintar-pintar menahan diri, bisa jadi hari-hari ke depan akan menjadi semakin lebih buruk lagi. Caci maki yang dibalas dengan caci maki, kebencian yang dibalas dengan kebencian, fitnah yang dibalas dengan fitnah mungkin akan menjadi pemandangan yang semakin biasa disaksikan. Patut disayangkan jika tayangan televisi yang sekarang menjadi primadona rakyat untuk mendapatkan hiburan mush, juga tak lepas dari berbagai tayangan kekerasan yang bisa jadi semakin mengentalkan budaya kekerasan. Bahkan anak-anak kecil yang seharusnya menikmati tayangan televisi yang mendidik sekaligus menghibur juga semakin dijejali dengan tayangan kekerasan. Yang ironisnya, hat itu mereka dapatkan dari film kartun kegemaran mereka. Tidak mengherankan apabila tawuran antar pelajar akan lebih Bering terjadi. Tidak mengherankan pula jika geng remaja wanita semacam geng "Nero" juga akan lebih banyak bermunculan.
Fenomena apa yang sebenarnya terjadi?
Mari kita semua berangkat dari pemahaman yang sama mengenai siapa sebenarnya diri kita di mata Allah. Apakah kita mahkluk penghancur yang diciptakan untuk membinasakan sesamanya? ? Apakah kita manusia biadab yg tidak pernah bisa diikat oleh peraturan dan hukum? Tentu jawabannya tidak seperti itu bukan? Apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan adalah seperti apa yang Tuhan Yesus firmankan pada saat ini.

Tuhan menghendaki kedamaian.
Penulis Matius mengisahkan dalam pasal 5-7 bahwa Yesus saat itu sedang berkotbah di bukit. Isi kotbah Yesus berisi -pada intinya- tentang prinsip-prinsip kebenaran Allah yang harus ditaati oleh setiap orang percaya. Hal ini jelas dengan mudah bisa kita pahami. Namun yang mungkin luput dari perhatian kita adalah bahwa prinsip kebenaran yang dikehendaki oleh Yesus dan BapaNya seharusnya kebenaran yang lebih dari biasa. Artinya apa? Artinya orang percaya dituntut untuk menerapkan kebenaran lebih dalam dari norma yang berlaku umum di tengah masyarakat Yahudi pada waktu itu. Hal ini nampak dari ucapan Tuhan Yesus, seperti demikian:"Kamu telah mendengar firman...tetapi Aku berkata...."
Dalam Matius 5 ucapan ini muncul sampai 6 kali. Namun dari ucapan Tuhan Yesus ini janganlah kita salah mengerti dengan menganggap bahwa Tuhan Yesus menolak keberadaan norma-norma kebenaran yang sudah ada dari dahulu dan yang sudah bertahun-tahun dijadikan pedoman oleh masyarakat waktu itu. Apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Tuhan Yesus adalah supaya kita mempunyai jangkauan yang lebih luas akan norma kebenaran yang sudah ada.     Dalam bacaan kita disebutkan bahwa Firman terdahulu mengatakan bahwa siapa yang membunuh harus dihukum. Hal ini cukup jelas. Di agama manapun membunuh adalah dilarang. Konsekuensinya setiap pelaku pembunuhan wajib menerima hukuman. Tetapi lebih lanjut Tuhan Yesus berfirman, bahwa siapa yang menunjukkan kemarahan bahkan siapa yang mengatakan Kafir maupun Jahil kepada saudaranya, juga sudah layak untuk menerima hukuman. Artinya apa? Artinya pelanggaran norma kebenaran itu semestinya bukan hanya ketika pembunuhan itu sudah dilakukan, tetapi jauh sebelum itu, yaitu ketika kemarahan muncul di hati dan caci maki terucap di bibir. Jadi di sini yang dilakukan Yesus sebenarnya adalah memantapkan dan mengakarkan norma kebenaran yang sudah lebih dahulu ada, yaitu norma tentang larangan membunuh. Ketika jauh sebelumnya kemarahan yang muncul di hati bisa diredam dan ucapan makian di bibir bisa ditahan, maka bisa dipastikan keinginan untuk membunuh seseorang bisa ditepis jauh-jauh dari pikiran kita.     Dengan demikian, kita pun bisa menjauhkan diri dari hukuman dan juga dari budaya kekerasan. Sebaliknya kalau kemarahan tidak dikendalikan dan caci maki dibiarkan, maka kita dengan mudah bisa tergelincir pada dampak yang lebih jauh, yaitu menjadi pelaku penganiayaan dan bisa jadi pelaku pembunuhan. Hal ini yang tentu tidak kita inginkan.
Lebih jauh Tuhan Yesus menghendaki supaya kita bertindak lebih jauh lagi, yaitu dengan bersikap proaktif Kita bukan hanya dikehendaki untuk menjauhkan diri dari kekerasan tetapi juga secara aktif menghadirkan kedamaian. Bahkan di ayat 23-25 Tuhan Yesus tegaskan supaya sebelum kita menghadap Tuhan, persoalan kita dengan orang lain harus diselesaikan terlebih dahulu. Sehingga pada waktu menikmati hadirat Tuhan dalam kedamaian, kita juga sudah terlebih dahulu menikmati perdamaian dengan sesama kita. Damai di bumi, damai di surga.

Apa yang harus kita lakukan ?
Banyak hal memang yang membuat kita berdalih, ketika -disadari atau tidak- kekerasan kita hadirkan. Entah alasannya karena kita beranggapan orang lain sengaja memancing kemarahan kita atau orang lain sengaja membuat perkara kepada kita, membuat kita melegitimasi tindak kekerasan yang kita munculkan. Baik hal itu kita munculkan melalui tindakan verbal (mengancam, melontarkan kata-kata makian dan sebagainya) ataupun bahkan melalui tindakan fisik ( menampar, menempeleng, mendorong dan sebagainya). Namun alasan apapun untuk melegitimasi kekerasan tentu tidak dikehendaki oleh Tuhan.
Apa yang Tuhan kehendaki semestinya juga menjadi apa yang kita inginkan. Hidup damai dan dijauhkan dari kekerasan tentu menjadi dambaan kita. Namun untuk mewujudkan hal ini membutuhkan komitmen yang kuat. Dalam hal ini, kita patut merenungkan Sabda Tuhan kali ini. Ketika kita tidak menginginkan kekerasan muncul dalam hidup kita atau bahkan kita sendiri yang menjadi pelakunya, maka saat kita mulai melontarkan ucapan kasar serta penuh makian kepada orang lain atau bahkan ketika amarah mulai menguasai perasaan kita, kita wajib untuk sekuat tenaga mohon pimpinan Tuhan agar bisa menenangkan diri dan menahan perasaan.
Mari kita mulai dari kita sendiri untuk menjauhkan diri dari kekerasan dan senantiasa mengupayakan kedamaian. Mengutip tagline sebuah iklan di teve: JIKA TUHAN MENGHENDAKI KEDAMAIAN, KASIH DAHH... AMIN.***

 

{Oleh : Pdt. Iskak Doddy Irawan, S.Th }

Dimuat dalam Majalah Kasih Edisi 15 ( JULI - SEPTEMBER 2008 )

Tentang Penulis

Patricia Putri

patricia putri

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next IMMUNE THROMBOCYTOPENIC PURPURA & KULIT KENTANG

Tinggalkan Komentar