KENALI DAN ATASI DISPEPSIA PENCERNAAN YANG BURUK

KENALI DAN ATASI DISPEPSIA  PENCERNAAN YANG BURUK

Pendahuluan
    Di dalam masyarakat penyakit dispepsia sering dikenal  dengan penyakit maag. Hampir semua orang pernah mengalami dispepsia, setidaknya satu kali dalam masa hidupnya, baik laki-laki maupun perempuan, semuanya dapat mengalami gejala ini. Dispepsia berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu “dys” yang berarti buruk dan “peptei “ yang berarti pencernaan, jadi dispepsia berarti pencernaan yang buruk.

Apakah Dispepsia ?
    Dispepsia adalah sekumpulan gejala berupa nyeri, perasaan tidak enak pada perut bagian atas yang menetap atau berulang disertai dengan gejala lainnya seperti rasa penuh saat makan, cepat kenyang, kembung, bersendawa, nafsu makan menurun, mual, muntah, dan dada terasa panas yang telah berlangsung selama 3 bulan.
    Gejala – gejala tersebut dapat disebabkan oleh berbagai penyakit, tentunya termasuk juga di dalamnya penyakit maag, namun penyebabnya tidak harus selalu oleh penyakit maag.
    Berdasarkan ada tidaknya penyebab dispepsia dibagi menjadi dua jenis yaitu :
1.    Dispepsia tipe organik apabila dispepsia diketahui penyebabnya dengan jelas yaitu ditemukannya kelainan organ misalnya maag kronis, tukak lambung, kanker lambung, batu empedu, liver, dan penyebab lainnya.
2.     Dispepsia tipe fungsional apabila dispepsia tidak diketahui penyebabnya, dan tidak didapati kelainan pada pemeriksaan saluran pencernaan sederhana, atau tidak ditemukannya kelainan organ. Ada kemungkinan bahwa dispepsia jenis ini berhubungan dengan gangguan pada motilitas (pergerakan) saluran pencernaan bagian atas mulai dari kerongkongan, lambung hingga usus halus bagian atas.
Berdasakarkan gejala dominan yang muncul dispepsia dibagi menjadi dua  jenis yaitu :
1.    Dispepsia tipe ulkus apabila keluhan yang dominan adalah nyeri ulu hati.
2.    Dispepsia tipe dismotilitas apabila keluhan yang dominan adalah perut kembung, mual dan cepat kenyang.

Penyebab  Dispepsia
 Adanya perubahan pada gaya hidup dan perubahan pada pola makan masih menjadi salah satu penyebab tersering terjadinya gangguan pencernaan, termasuk dispepsia. faktor – faktor yang dicurigai sebagai penyebab dispepsia sebagai berikut:
1.    Gangguan pergerakan saluran pencernaan seperti gangguan pengosongan dan pengembangan lambung  dapat menyebabkan terjadinya gangguan penyaluran makanan ke usus halus. Hal ini akan mengakibatkan timbulnya keluhan rasa penuh saat makan, cepat kenyang, mual dan muntah.
2.    Saluran pencernaan yang terlalu sensitif terutama lambung dan usus halus terhadap rangsangan  asam lambung, asam empedu, dan lemak dapat mengakibatkan timbulnya keluhan nyeri setelah makan, bersendawa, dan mual.
3.    Pengeluaran asam lambung yang berlebihan dan gangguan pembersihan asam lambung menuju duodenum dapat menyebabkan terjadinya iritasi pada lambung yang menimbulkan keluhan nyeri pada ulu hati
4.    Stres, gangguan cemas dan depresi telah dilaporkan berhubungan dengan penurunan kontraksi lambung dan peningkatan pengeluaran asam lambung oleh karena itu semakin tinggi tingkat stres, maka semakin tinggi risiko untuk mengalami dispepsia
5.    Infeksi lambung Helicobacter pylori mungkin mempengaruhi terjadinya kelainan-kelainan pada lambung dan tingkat keparahan gejala dispepsia

Pengobatan Dispepsia
    Pengobatan akan tergantung pada penyebab dispepsia, penggunaan obat adalah pengobatan yang paling umum diterapkan. Jika ternyata ada ulkus lambung, maka itu bisa disembuhkan dengan meminum obat maag penurun asam lambung seperti antasida atau  penghambat produksi asam lambung .
    Jika disertai dengan infeksi lambung, maka diperlukan juga antibiotik untuk membunuh bakteri penyebab,untuk gangguan gerakan motilitas lambung bisa diberikan obat golongan prokinetik dan bila penyebabnya stres, cemas/ depersi ditambahkan obat antivdepresi untuk mempercepat penyembuhan dispepsia.
    Selain obat juga diperlukan juga perubahan pola hidup agar dispesia tidak kambuh seperti:
1.    Makan sedikit-sedikit tapi sering, bukan dua atau tiga kali dalam porsi besar.
2.    Setelah makan, tunggu 2-3 jam sebelum berbaring.
3.     Jangan makan terlalu larut malam.
4.    Hindari coklat, mint, dan alkohol karena dapat memperburuk dispepsia.
5.    Makanan pedas, makanan yang memiliki banyak asam (seperti tomat dan jeruk), dan kopi dapat membuat dispepsia lebih buruk pada beberapa orang. Maka sebisa mungkin handarilah
6.  Jangan merokok atau mengunyah tembakau.
7.    Jangan mengenakan pakaian ketat di sekitar perut.
8.    Hindari stress.
9.    Tidak mengonsumsi banyak obat anti-inflamasi seperti ibuprofen, aspirin, naproxen dan ketoprofen. Parasetamol adalah pilihan yang lebih baik, karena tidak begitu mengganggu lambung.

Penutup
    Setiap orang dalam hidupnya pasti pernah mengalami dispepsia. Prevalensi penyakit ini hampir 25 % orang dewasa mengalami gejala dispepsia pada suatu waktu dalam hidupnya. Dispesia dapat menurunkan produktif kerja, menganggu aktivitas  sosial ekonomi dan menurunkan kualitas hidup, sehingga gangguan ini perlu secepatnya diatasi. Untuk keterangan lebih lanjut mengenai dispesia dapat menghubungi poliklinik RS. Panti Wilasa “Dr.Cipto”.

 

Dibuat oleh : dr. Yoseph Chandra, M.Kes
*Dimuat dalam Majalah Kasih Edisi 47 ( Juli - September 2016 )

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar