Logo

KENALI DAN ATASI GANGGUAN SKIZOFRENIA

KENALI DAN ATASI GANGGUAN  SKIZOFRENIA

Penyakit apakah skizofrenia?
    Schizophrenia adalah penyakit jiwa yang sangat dahsyat yang bisa timbul bahkan dalam keluarga yang paling normal sekalipun. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja yang membuat penderitanya seakan-akan berhalusinasi [sesuatu yang seolah-olah dialami oleh panca indera seseorang tanpa adanya objek nyata yang menjadi sumber dari penerimaan indera tersebut (misalnya mendengar seseorang memanggil tanpa adanya siapa pun yang melakukan hal itu) dan berdelusi berupa [keyakinan yang salah yang tetap dipertahankan walaupun telah diberikan bukti-bukti nyata], sehingga akibat nya kehilangan kontak dengan kehidupan nyata, penderita skizofrenia akan merasa hidupnya diteror, diancam dan dipenuhi bisikan-bisikan yang membuatnya menjadi menderita. banyak diantara penderita skizofrenia ini dianggap kerasukan atau ketempelan jin yang akhirnya mendapatkan perawatan yang tidak semestinya, banyak diantara mereka juga yang akhirnya harus dikucilkan dan dibuang keluarganya dan banyak juga diantara mereka yang akhirnya harus bunuh diri. Sebanyak 96,5 persen penderita gangguan jiwa berat itu tidak mendapat layanan medis dokter, selebihnya memilih berobat ke dukun atau pengobatan alternatif.
Skizofrenia. Bagi masyarakat awam, skizofrenia terdengar asing ditelinga. Kata Skizofrenia berakar dari bahasa Yunani, schizein (terbelah) dan phren- (pikiran). Penderitanya akan memiliki kesulitan memproses pikirannya sehingga timbulah halusinasi, delusi, pikiran yang tidak jelas dan tingkah laku atau bicara yang tidak wajar.
    Di Indonesia, Skizofrenia termasuk gangguan jiwa berat yang terbanyak penderitanya. Data Riskesdas 2013 menunjukkan, prevalensi penyakit ini mencapai 1-2 orang dari 1000. Bagi sebagian besar orang awam mengatakan bahwa penderita Skizofrenia adalah orang yang mengalami gangguan jiwa (gila) yang tak mungkin dapat ditangani. Padahal meskipun belum ada terapi yang bisa menyembuhkan Skizofrenia, tapi kekambuhan penyakit ini dapat dicegah dan dikendalikan sehinggga  mereka bisa produktif dan berkarya kembali.

Bagaimanakah gejala Skizofrenia?
Secara umum gejala  dikategorikan menjadi:
A.    Gejala positif (misalnya halusinasi, delusi, pemikiran kacau, dan gelisah) yang biasanya tidak ada pada orang sehat dan dianggap 'ada' pada pasien skizofenia sebagai akibat dari gangguan tersebut.  
    Halusinasi. Terjadi pada saat panca indera seseorang terangsang oleh sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Fenomena halusinasi terasa sangat nyata bagi penderita. Contoh gejala halusinasi yang biasanya dialami oleh penderita skizofrenia adalah mendengar suara-suara.
    Delusi. Yaitu kepercayaan kuat yang tidak didasari logika atau kenyataan yang sebenarnya. Contoh gejala delusi bisa bermacam-macam. Ada penderita yang merasa diawasi, diikuti, atau khawatir disakiti oleh orang lain. Ada juga yang merasa mendapat pesan rahasia dari tayangan televisi. Gejala-gejala delusi semacam ini bisa berdampak kepada perilaku penderita skizofrenia.
B.    Gejala negatif
Pikiran kacau dan perubahan perilaku. Penderita sulit berkonsentrasi dan pikirannya seperti melayang-layang tidak tentu arah sehingga kata-kata mereka menjadi membingungkan. Penderita juga bisa merasa kehilangan kendali atas pikirannya sendiri. Perilaku penderita skizofrenia juga menjadi tidak terduga dan bahkan di luar normal. Misalnya, mereka menjadi sangat gelisah atau mulai berteriak-teriak dan memaki tanpa alasan.  Gejala negatif dapat dilihat sebagai perilaku yang 'hilang' (misalnya kurang: dorongan atau inisiatif, respon emosional, antusiasme, interaksi sosial) . Sebagai contoh:
1.    Keengganan untuk bersosialisasi dan tidak nyaman berada dekat dengan orang lain sehingga lebih memilih untuk berdiam di rumah.
2.     Kehilangan konsentrasi.
3.    Pola tidur yang berubah.
4.     Kehilangan minat dan motivasi dalam segala aspek hidup, termasuk minat dalam menjalin hubungan
Perubahan pola tidur, sikap tidak responsif terhadap keadaan, dan kecenderungan untuk mengucilkan diri merupakan gejala-gejala awal skizofrenia. Terkadang gejala tersebut sulit dikenali orang lain karena biasanya berkembang di masa remaja sehingga orang lain hanya menganggapnya sebagai fase remaja.
Ketika penderita sedang mengalami gejala negatif, dia akan terlihat apatis dan datar secara emosi (misalnya bicara monoton tanpa intonasi, bicara tanpa ekspresi wajah, dan tidak melakukan kontak mata). Mereka juga menjadi tidak peduli terhadap penampilan dan kebersihan diri, serta makin menarik diri dari pergaulan. Sikap tidak peduli akan penampilan dan apatis tersebut bisa disalahartikan orang lain sebagai sikap malas dan tidak sopan. Hal ini sering kali memicu rusaknya hubungan penderita dengan keluarga ataupun dengan teman-temannya.
C.    Gejala afektif yang dapat mempengaruhi suasana hati – seperti perasaan depresi, kecemasan, kesepian atau ide bunuh diri.
D.    Gejala kognitif meliputi masalah dengan konsentrasi dan memori misalnya kurangnya perhatian, kelambatan pikiran, kurangnya tilikan (pemahaman & penerimaan) mengenai penyakit.
        Pasien dengan skizofrenia mungkin mengalami gangguan fungsi dalam satu atau lebih bidang kegiatan hidup yang penting seperti hubungan antarpribadi, pekerjaan atau pendidikan, kehidupan keluarga, komunikasi, dan perawatan diri.

Penyebab Skizofrenia
Sebenarnya penyebab penyakit skizofrenia belum diketahui secara pasti oleh para ahli kesehatan. Namun ada beberapa faktor yang diduga berpengaruh dalam pembentukan kondisi ini, di antaranya:
Ketidakseimbangan kadar serotonin dan dopamine (zat neurotransmiter yang bertugas membawa pesan antar sel-sel otak).
        Bentuk struktur otak dan sistem saraf pusat yang tidak normal.
Genetik yang diturunkan dari orangtua (penyakit keturunan).
 Kekurangan oksigen, kekurangan nutrisi, dan terpapar racun atau virus saat masih di dalam kandungan ibu.
Lahir prematur dan lahir dengan berat badan di bawah normal.
Peningkatan aktivasi pada sistem kekebalan tubuh akibat penyakit autoimun dan peradangan.
Penyalahgunaan obat-obatan terlarang, seperti amfetamin, kokain, dan ganja.

Pemicu Skizofrenia
Yang dimaksud pemicu di sini adalah sesuatu yang dapat memunculkan gejala skizofrenia pada orang-orang yang berisiko terkena skizofrenia akibat faktor-faktor pembentuk kondisi seperti yang sudah disebutkan di atas. Pada kasus skizofrenia, stres merupakan pemicu utama. Banyak hal yang dapat menjadikan seseorang mengalami stres, di antaranya karena kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, kehilangan orang yang dicintai, perceraian, pelecehan seksual, dan sebagainya.


Diagnosis skizofrenia
Penyakit skizofrenia akan terdeteksi pada diri pasien jika:
Mengalami halusinasi, delusi, bicara meracau, dan terlihat datar secara emosi.
Mengalami penurunan secara signifikan dalam melakukan tugas sehari-hari, termasuk penurunan dalam produktivitas kerja dan prestasi di sekolah akibat gejala-gejala di atas.
    Kadang-kadang dokter kesulitan untuk mendapatkan keterangan di atas jika bertanya langsung pada penderita skizofrenia karena mereka cenderung tertutup, menyangkal, atau sama sekali tidak menyadari gejala yang ada. Untuk mengatasi hal ini, dokter perlu bertanya kepada orang-orang yang mengantar penderita berobat, misalnya keluarga atau teman.
    Selain evaluasi psikologis, kadang-kadang dokter juga akan melakukan jenis pemeriksaan lain, seperti CT scan, MRI, dan pemeriksaan darah. Pemindaian lewat CT scan atau MRI pada kasus skizofrenia dimaksudkan untuk melihat adanya kelainan pada struktur otak dan sistem saraf pusat. Sedangkan pemeriksaan darah dilakukan untuk memastikan bahwa gejala bukan disebabkan oleh pengaruh obat-obatan, alkohol, atau kondisi kesehatan lainnya.

Pengobatan  skizofrenia
    Dalam menangani skizofrenia, dokter akan mengombinasikan obat-obatan dengan terapi psikologis. Obat yang biasa diresepkan dalam kasus ini adalah antipsikotik. Antipsikotik bekerja dengan cara memengaruhi zat neurotransmiter di dalam otak (serotonin dan dopamine). Pada penderita skizofrenia, obat ini bisa menurunkan agitasi dan rasa cemas, menurunkan atau mencegah halusinasi dan delusi, serta membantu menjaga kemampuan berpikir dan mengingat.
    Antipsikotik digunakan dalam dua cara, yaitu oral (umumnya bentuk pil) dan suntik. Pada pasien yang mudah diatur, dokter biasanya akan memberikan pil antipsikotik. Namun sebaliknya, pada pasien yang menolak diberikan obat, terpaksa harus disuntik.
    Ada dua kelompok obat-obatan antipsikotik, yaitu antipsikotik generasi lama (misalnya fluphenazine, perphenazine, chlorpromazine, dan haloperidol) dan generasi baru (misalnya clozapine, quetiapine, olanzapine, risperidone, aripiprazole, dan paliperidone)

Penanganan melalui terapi psikologis
    Setelah gejala skizofrenia reda, penderita membutuhkan terapi psikologis di samping harus tetap melanjutkan konsumsi obat. Di dalam terapi psikologis, penderita akan diajari cara mengatasi stres dan mengendalikan penyakit mereka melalui identifikasi tanda-tanda kambuh. Selain itu, penderita juga akan diajari cara meningkatkan kemampuan komunikasi agar bisa tetap berinteraksi secara sosial. Terapi ini juga bermanfaat untuk kembali mengembangkan kemampuan penderita dalam bekerja.
    Terapi psikologis tidak hanya diperuntukkan bagi penderita. Ahli terapi juga perlu memberikan edukasi pada keluarga penderita tentang cara menghadapi skizofrenia.
Dalam mengobati Skizofrenia, dokter biasanya akan mengombinasikan psikoterapi dengan obat-obatan antipsikotik. Untuk memperbesar peluang sembuh, pengobatan juga harus ditunjang oleh dukungan dan perhatian dari orang-orang terdekat.
    Meskipun sudah sembuh, penderita Skizofrenia tetap harus dimonitor. Biasanya dokter akan terus meresepkan obat-obatan untuk mencegah gejala kambuh. Selain itu, penting bagi penderita untuk mengenali tanda-tanda kemunculan episode akut dan bersedia membicarakan kondisinya pada orang lain.
    Jika Anda memiliki kerabat atau teman-teman yang menunjukkan gejala Skizofrenia, segera bawa ke poliklinik RS. Panti Wilasa “Dr.Cipto”. Makin cepat penyakit ini terdeteksi, semakin baik. Peluang sembuh penderita Skizofrenia akan lebih besar jika diobati sedini mungkin. *

 

Oleh: dr. Yoseph Chandra,M.Kes

 

Dimuat di Majalah Kasih edisi 49

 

Tentang Penulis

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next TIPS MENGATASI BAU KAKI

Tinggalkan Komentar