Logo

KENALI DAN ATASI GEJALA KEPIKUNAN DEMENSIA

Foto: CNTCD1 Office
KENALI DAN ATASI  GEJALA KEPIKUNAN DEMENSIA

Apakah kepikunan (demensia) ?
    Demensia adalah gangguan otak yang menyebabkan pasien   kesulitan untuk mengingat, belajar dan berkomunikasi. Selain itu Demensia juga dapat menyebabkan perubahan emosi ( suasana hati ) dan kepribadian. Awalnya gangguan memori (daya ingat) dan berpikir  dialami pasien  demensia. Kemudian, mengalami perubahan tingkah laku dan  akhirnya pasien demensia kesulitan merawat diri sendiri serta menjadi  beban bagi  anggota keluarga lainnya.
    Penyakit Demensia  disebabkan oleh kerusakan otak akibat adanya beberapa sel saraf otak yang mati  sehingga mengakibatkan menurunnya daya ingat, kemampuan berpikir, dan perubahan perilaku. Dimensia merupakan penyakit degeneratif yang menyerang lansia, biasanya umur 65 tahun ke atas.
    Lalu apa tanda-tanda demensia? contoh dibawah ini adalah keluhan demensia yang diutarakan oleh keluarga pasien : Pada awalnya, pasien  hanya menunjukkan gejala-gejala lupa biasa. Lupa menaruh sesuatu, lupa mengambil sesuatu,  lupa mau mengatakan apa, salah salah menyebut nama keluarganya…  Seperti kata orang, lupa 'bawaan tua'. Namun kemudian gejalanya meningkat. Diantaranya, kesulitan didalam melakukan pekerjaan sehari hari dan tugas yang familiar seperti lupa cara masak, lupa mengoperasikan telepon dan mengatur keuangan. Selanjutnya, untuk makan dan berpakaian saja harus dipandu. Buang air pun – besar maupun kecil – tidak terkontrol, sehingga sering mengompol dan pup tidak pada tempatnya. Keadaannya semakin buruk karena  emosi pasien  pun berubah drastis. Pasien  jadi mudah tersinggung, mudah marah, gampang  bingung, murung, dan menarik diri.  Jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kemauannya, atau jika kesulitan mengungkapkan maksudnya, pasien bisa panik, menangis, bahkan histeris.. Dalam sehari bisa menanyakan dan menceritakan hal yang sama berulang kali .
    Lalu bagaimana pasien dan  keluarga  berkomunikasi? Sangat sulit. Karena pasien  kesulitan mengungkapkan maksud dan pikirannya. Seolah banyak sekali yang ingin dikatakan. Namun setiap kali kalimatnya terhenti karena tidak menemukan kata-kata, atau ide di benaknya pun raib. Sedangkan anggota keluarga , tidak selalu bisa memahami atau mengira -ngira maksud si pasien.
    Selain sulit berkomunikasi, pasien hampir lupa identitas sanak keluarganya, pasien  tahu bahwa dengan  orang-orang yang dikenalnya, dekat dengannya, yang disayanginya, yang dirindukannya. Namun, setiap kali mesti diingatkan nama sanak keluarganya. Termasuk mengingatkan kembali berapa jumlah anaknya, berapa cucunya, dan  siapa saja namanya…  
     Perubahan perilaku, perubahan emosi dan kepribadian, ditambah kesulitan komunikasi, sudah barang tentu merubah pola pergaulan pasien. Kecenderungan pasien  menarik diri, dibarengi dengan penarikan diri sahabat-sahabatnya. Mereka yang dahulu sering bertandang ke rumah pasien ngrumpi bersama, saling curhat…kini merentangkan jarak. Tidak jarang ada yang menganggap pasien terkena gangguan kejiwaan. Bahkan beberapa orang menyarankan ke orang pintar, karena menurut mereka  ketempelan jin jahat. Sulit  meyakinkan bahwa yang demesia itu penyakit medis, bukan jin jahat.
    Demensia  adalah penyakit paling mematikan urutan ke 5 di dunia. Hadirnya diam-diam, berkembangnya pelan namun progresif… terus maju tanpa bisa dihentikan. Nyata-nyata demensia merupakan silent killer yang tak boleh dianggap sepi. Tak kurang nyawa mendiang Ronald Reagan dan Winston Churchil pun direnggutnya.

Gejala umum demensia
1. Gangguan daya ingat
Sering lupa kejadian yang baru saja terjadi, lupa janji, menanyakan / menceritakan hal yang sama berulang kali.
2. Sulit melakukan aktivitas /pekerjaan sehari-hari
Lupa cara memasak, mengoperasionalkan telepon, tidak dapat melakukan perhitungan sederhana dan bekerja dengan waktu yang lebih lama dari biasanya, seringkali  sulit merencanakan dan menyelesaikan tugas sehari-hari, sulit mengemudi dan mengatur keuangan
3. Disorientasi waktu dan tempat
Bingung akan waktu (hari, tanggal), bingung dimana mereka berada dan bagaimana mereka sampai disana dan tidak tahu jalan kembali kerumah
4. Gangguan berkomunikasi
Kesulitan berbicara dan mencari kata yang tepat, sering berhenti ditengah percakapan dan bingung untuk melanjutkannya
5.Menaruh barang tidak pada tempatnya
Lupa dimana meletakan barang bahkan curiga ada yang mencuri atau menyembunyikan barang tersebut
6. Salah  membuat keputusan
Berpakaian tidak serasi dan tidak dapat merawat diri
7. Menarik diri dari pekerjaan dan aktivitas sosial
Tidak semangat untuk melakukan aktivitas atau hobi yang biasanya dinikmati. Tidak senang berkumpul dengan teman temannya
8. Perubahan perilaku dan kepribadian
Emosi berubah secara drastis, menjadi binggung dan curiga, depresi, takut atau tergantung pada anggota keluarga, mudah kecewa dan putus asa baik dirumah atau dalam pekerjaan.

PENCEGAHAN DEMENSIA DAN PENGOBATANNYA
    Beberapa penyebab demensia dapat diobati. Namun, setelah sel-sel otak telah hancur, mereka tidak dapat diganti. Pengobatan dapat memperlambat kehilangan sel-sel otak lebih lanjut. fokus perawatan adalah membantu pasien melakukan  kegiatan sehari-hari dan mengurangi gejala mengganggu pasien dan keluarganya. Beberapa obat-obatan dapat membantu orang yang mengalami demensia. Dokter  akan mendiskusikan  tentang pilihan pengobatan demensia.
    Beberapa faktor risiko demensia, seperti usia dan genetik, tidak dapat diubah. Namun para peneliti terus mengeksplorasi dampak dari faktor risiko lain pada kesehatan otak dan pencegahan demensia. Beberapa hal yang paling aktif dari penelitian dalam pengurangan risiko dan pencegahan meliputi faktor kardiovaskular, kebugaran fisik, dan diet.
Faktor risiko kardiovaskular: Otak dipelihara karena asupan dari pembuluh darah. Apa pun yang merusak pembuluh darah akan  merampas nutrisi yang penting serta oksigen ke otak . Anda dapat membantu melindungi otak Anda dengan beberapa strategi yang sama yang melindungi jantung, seperti tidak merokok, menjaga tekanan darah, kolesterol dan gula darah dalam batas yang direkomendasikan, dan mempertahankan berat badan yang ideal.

Latihan fisik/olahraga : Latihan fisik secara teratur dapat membantu menurunkan  demensia. Bukti menunjukkan olahraga dapat bermanfaat langsung bagi sel-sel otak dengan meningkatkan aliran darah dan oksigen ke otak.

Diet : Apa yang dimakan dapat berdampak pada kesehatan otak melalui kesehatan jantung. Bukti terbaik saat ini menunjukkan bahwa pola makan yang sehat untuk jantung dan otak, seperti diet Mediterania.
Diet Mediterania termasuk relatif sedikit daging merah dan memperbanyak biji-bijian, buah-buahan dan sayuran, ikan dan kacang-kacangan, serta  minyak zaitun
Cara lain yang efektif adalah meningkatkan Gaya hidup sehat  meliputi kebiasaan tidur, makan, dan pengendalian berat badan.
Aktif bersosialisasi dengan lingkungan sekitar juga bisa mengurangi risiko kehilangan daya ingat. "Saat bersosialisasi kita tidak hanya mengingat yang pernah terjadi, tapi juga ada hal-hal baru yang dipelajari. Jadi, memberi penyegaran bagi otak
    Kegiatan mengasah otak. Makin dilatih, otak kita pasti makin tajam. Melatih otak bisa dilakukan dengan berbagai aktivitas yang berhubungan dengan aspek kognitif, seperti membaca buku, mendengarkan musik, teka-teki silang hingga menonton film.

Penutup
    Demensia adalah penyakit yang  menggerogoti kemampuan intelektual , menghancurkan kepribadian, mencabik-cabik emosi pasien serta mencederai harkat kemanusiaannya….. Bertepatan dengan Hari demensia Sedunia 21 September, lewat tulisan ini mari kita kenali demensia , dan cegah kehadirannya di keluarga kita. mulai dengan pola hidup dan pola makan sehat. Tetap aktifkan otak dan fisik secara positif, kembangkan hobi dan komunikasi yang sehat, dan yang pasti, mendekatkan diri pada Sang Khaliq, mohon perlindunganNya…
Apabila memerlukan konsultasi lebih lanjut tentang demensia bisa menghubungi poliklinik di RS Panti Wilasa “Dr. Cipto” Semarang. *

 

Oleh: dr. Yoseph Chandra, M.Kes

 

Dimuat di Majalah Kasih edisi 50
 

 
 
 

Tentang Penulis

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next IMUNISASI MR, Perlukah

Tinggalkan Komentar