KETIKA BAHU MENJADI BEKU

KETIKA BAHU MENJADI BEKU

    Dapatkah anda membayangkan apa yang terjadi jika suatu ketika bahu anda menjadi “beku”? Pasti anda akan kesulitan untuk melakukan berbagai aktivitas yang sehari-hari anda lakukan, seperti: menyisir rambut, mencuci rambut (keramas), menggosok gigi, mengenakan kaos oblong atau T-shirt, mengancingkan atau membuka BH, mengambil dompet dari saku belakang, dan sebagainya. Ya, ketika bahu anda menjadi “beku”, anda akan kesulitan menggerakkan lengan di sendi bahu. Istilah “bahu beku” merupakan terjemahan harafiah dari suatu kondisi yang di dunia medis dikenal sebagai “Frozen Shoulder”.

Frozen Shoulder
    Frozen shoulder merupakan istilah dalam dunia medis untuk menggambarkan semua gangguan pada sendi bahu yang menimbulkan nyeri dan pembatasan lingkup gerakan sendi. Nyeri dan pembatasan lingkup gerakan sendi bahu dapat terjadi karena gangguan pada komponen otot (tendinitis), jaringan lunak sekitar sendi (bursitis), atau pada kapsul ('pembungkus') sendi (kapsulitis). Istilah frozen shoulder lebih mengacu pada gangguan yang mengenai kapsul sendinya (kapsulitis adhesiva).
      Kapsul sendi mengalami peradangan yang kemudian menyebabkan perlengketan jaringan di sekitar sendi atau di permukaan sendi. Hal ini menyebabkan nyeri dan keterbatasan lingkup gerakan sendi bahu ke semua bidang geraknya. Lengan akan sukar digerakkan ke depan atas, ke samping atas, ke belakang, atau sukar digerakkan berputar pada sendi bahu. Cairan sendi dapat berkurang, dan menyebabkan gerakan sendi bahu semakin terbatas.
      Frozen shoulder diawali dengan adanya peradangan atau inflamasi pada jaringan di sekitar kapsul sendi bahu. Peradangan dapat terjadi sebagai akibat trauma atau cedera pada bahu atau oleh karena suatu sebab yang tidak jelas (idiopatik). Dapat pula terjadi akibat bahu yang kurang digerakkan untuk jangka waktu tertentu, misalnya pernah mengalami patah tulang lengan bawah atau lengan atas kemudian di-gips dan lengan diimobilisasi dengan shoulder sling.
Ada beberapa kondisi lain yang meningkatkan risiko terjadinya frozen shoulder, seperti stroke, penyakit kencing manis (diabetes melitus), penyakit jantung iskemik (penyakit jantung koroner), penyakit paru, gangguan tiroid, dan adanya kecenderungan reaksi peradangan karena autoimun. Ciri lain dari frozen shoulder adalah kebanyakan penderitanya wanita yang umumnya berusia lebih dari 40 tahun.
    Proses peradangan atau inflamasi awal pada kapsul sendi dan jaringan sekitarnya menyebabkan nyeri pada sendi bahu terutama saat sendi bahu digerakkan. Fase awal ini sering disebut dengan painful stage (tahap nyeri). Secara bertahap, intensitas rasa nyeri bertambah dan kemudian akan membatasi kemampuan gerak bahu baik aktif maupun pasif. Perlekatan-perlekatan yang terjadi kemudian antara kapsul sendi dan permukaan sendi, semakin membatasi lingkup gerakan sendi bahu ke semua arah bidang gerak sendi dan menimbulkan rasa nyeri yang sangat ketika sendi bahu digerakkan. Pasien sering merasakan nyeri pada malam hari sehingga menganggu tidurnya. Painful stage ini dapat berlangsung berbulan-bulan (6 minggu sampai 9 bulan), karena itu dapat menyebabkan penderita menjadi depresi.
    Kondisi ini kemudian berkembang ke tahap yang disebut frozen stage (tahap 'beku'). Pada tahap ini nyeri yang dirasakan dapat berkurang intensitasnya, terutama nyeri yang dirasakan saat istirahat/ tidur, namun lingkup gerakan sendi akan semakin terbatas, sehingga pasien akan semakin kesulitan untuk mengangkat lengan atasnya untuk menyisir rambut, untuk berpakaian, menggosok gigi, dan sebagainya. Frozen stage dapat berlangsung selama 4–12 bulan. Rentang waktu keseluruhan, mulai timbulnya gejala awal sampai dengan pemulihan total dapat mencapai 12-24 bulan.  

Apa yang harus dilakukan?
    Ketika bahu anda terasa nyeri jangan disepelekan, upayakan untuk mendapatkan pengobatan dan penanganan yang benar. Sebagai tindakan awal yang dapat dilakukan di rumah saat bahu terasa nyeri atau ketika bahu mengalami cedera, adalah memberikan kompres dingin pada bahu dan untuk mengurangi nyeri dapat diberikan obat pengurang rasa sakit yang tersedia di rumah atau yang dapat dibeli dengan bebas, seperti parasetamol. Bahu dapat diistirahatkan 1 sampai 2 hari, setelah itu bahu harus mulai digerakkan. Apabila keluhan berlanjut, segeralah cari pertolongan dokter. Banyak orang sering meremehkan dan menganggap sepele gangguan pada sendi bahu ini, mereka menganggap paling-paling hanya karena terlalu lelah, atau karena posisi tidur yang kurang baik yang menyebabkan bahu tertekan, atau karena kurang bergerak. Padahal bila didiamkan dan tidak mendapatkan pengobatan dan penanganan yang baik, akan berkembang menjadi frozen shoulder yang dapat mengganggu kualitas hidup seseorang.
    Fokus penanganan frozen shoulder adalah mengurangi peradangan dan nyeri pada sendi bahu, serta memulihkan lingkup gerakan sendi bahu. Tidak ada modalitas pengobatan tunggal yang dapat mengobati frozen shoulder dengan tuntas. Penanganan harus dilakukan dengan kombinasi berbagai modalitas, seperti:

  • Medikamentosa (obat-obatan).
    Nyeri merupakan keluhan utama pada pasien dengan frozen shoulder. Maka untuk membantu menghilangkan nyeri dan peradangan, biasanya dokter menggunakan obat anti radang non-steroid. Suntikan lokal anti radang secara berkala dapat juga diberikan.
  • Rehabilitasi medik.
    Untuk membantu mengurangi nyeri, mengurangi radang, dan meningkatkan lingkup gerakan sendi bahu digunakan berbagai modalitas fisioterapi (diatermi [short wave diathermy, ultrasound diathermy], pendinginan [cryotherapy], terapi listrik [TENS], terapi latihan [ROM exercises, stretching exercises]) dan terapi okupasi.
    Tindakan pembedahan (operasi) untuk membebaskan perlekatan-perlekatan pada kapsul sendi dilakukan pada kasus-kasus frozen shoulder yang berat dan sudah berlangsung lama, dimana tindakan pengobatan lain telah dilakukan dan tidak memberikan perkembangan yang berarti. Namun, setelah tindakan pembedahan  tetap harus diikuti dengan program latihan untuk memulihkan lingkup gerakan sendi bahu.

Pentingnya latihan di rumah
   Selain program latihan yang dilakukan di bawah panduan terapis di klinik rehabilitasi medik, latihan di rumah untuk menghilangkan perlekatan pada sendi bahu harus dilakukan oleh pasien sendiri. Ia harus melakukannya, jika tidak janganlah berharap untuk dapat sembuh secara total.
    Salah satu contoh latihan yang dapat dilakukan di rumah adalah “naik tembok dengan tangan”. Caranya adalah berdiri di samping dinding, tempatkan tangan yang mengalami frozen shoulder di dinding, sehingga lengan direntangkan. Kemudian perlahan-lahan pasien merambatkan tangannya naik ke atas (lihat gambar). Pada awalnya mungkin lengan tidak dapat dinaikkan secara penuh sesuai lingkup gerakan maksimalnya, namun usaha untuk dapat mencapai lingkup gerakan secara penuh harus terus ditingkatkan. Pasien yang berani melawan nyeri di bahunya sewaktu melakukan latihan, dapat dibebaskan dari frozen shoulder atau 'bahu beku'.
Jadi ketika bahu anda menjadi 'beku” janganlah ragu mencari pertolongan dokter, lakukan latihan dengan melawan nyeri, dan tetaplah gerakkan bahu anda untuk berbagai aktivitas. Karena mayoritas dari mereka yang mengalami 'bahu beku' berhasil mengembalikan lingkup gerakan sendi bahunya dengan penanganan yang benar.

 

{oleh : Dr. Hadi Kurniawan, Sp. RM}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 22 (APRIL-JUNI 2010)

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar