Logo

KISAH SEPOTONG GETUK

KISAH SEPOTONG GETUK

    Sore itu seperti biasanya saya membuka praktek dokter, dan seperti biasanya pula tante Nia ( nama samaran) terlihat duduk di ruang tunggu, terlihat agak gelisah karena ingin secepatnya saya periksa. Satu demi satu pasien sudah diperiksa, akhirnya tibalah giliran tante Nia. Dia menyapa saya dengan mengucapkan selamat sore dan sayapun mempersilahkannya untuk duduk dan menanyakan keluhan-keluhan yang dia rasakan baru kemudian memeriksanya. Selesai diperiksa, tante Nia mengeluarkan buku catatan kecil dan bolpoint kemudian dia mulai mengajukan tanya jawab dengan saya. Diperlukan waktu yang cukup lama untuk sesi tanya jawab ini dan di luar masih cukup banyak pasien yang menunggu. Saya berusaha memberi pengertian kepada tante Nia mengenai hal ini karena di ruang tunggu pasien yang lain mulai gelisah. Dan tante Nia pun tampaknya mengerti akan hal ini.
    Sudah 4 tahun tante Nia menjadi pasien yang rutin memeriksakan kesehatannya pada saya, awalnya ketika saya belum memahami kebiasaannya saya terkadang kesal karena dia begitu banyak bertanya bahkan untuk hal-hal yang di luar medis, semacam curhat menurut pendapat saya. Terkadang ketika melihat tante Nia duduk di ruang tunggu, jujur saja dalam hati saya sedikit mengeluh, “ Aduh si tante datang lagi, bakal lama ini, pasien lain pasti complain. Ada satu peristiwa yang menyadarkan saya bahwa tante ini begitu mengasihi saya seperti putrinya sendiri. Tante Nia tidak memiliki anak dan tidak menikah, usianya sekitar 65 tahun dan di balik sikapnya yang terkesan cerewet ternyata ada kasih seorang ibu.
    Dan inilah peristiwa yang sangat berkesan di hati saya tentang tante Nia. Sore itu mendung dan hujan mulai turun, saya melihat seorang ibu setengah baya memakai payung berjalan menuju tempat praktek saya, dan ternyata ibu tersebut adalah tante Nia. Saya pun bertanya,”Tante,kok hujan-hujan begini tante ke sini? Hati-hati jalannya licin.”  Tante Nia pun menjawab,”Mau beli obat dok dan mau memberikan ini pada dokter, seraya memberikan sebuah getuk yang terbungkus plastik pada saya. Keponakan saya memberikan 2 potong getuk pada saya, sudah saya makan sepotong dan rasanya enak, lalu saya teringat pada dokter dan memberikan yang sepotong lagi pada dokter sekarang. Saya pulang dulu ya dok,ujar tante Nia, meninggalkan saya yang sedang kebingungan.
    Saya mulai memakan sepotong getuk pemberian tante Nia, rasanya ini adalah getuk ter-enak yang pernah saya makan, dan tanpa terasa air mata mulai mengalir, sepotong getuk spesial yang diberikan dengan sebuah pengorbanan dan kasih yang tulus dari seorang tante setengah baya yang rela berjalan kaki dari rumahnya yang berjarak sekitar 4 km dari tempat praktek saya dalam kondisi hujan lagi.  Sepotong getuk yang diberikan dengan rasa kasih sayang yang begitu besar.  
    Kejadian ini memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk saya secara pribadi, jangan kita menilai sesama kita hanya dari kulit luarnya saja, karena apa yang terlihat oleh mata jasmani ini seringkali menutupi keindahan yang terdapat di dalam hati seseorang. Seperti Tante Nia ini, di luar tampilannya adalah tante yang rewel, sulit di mengerti kemauannya, tetapi di dalam hatinya tersimpan kasih seorang ibu yang begitu tulus dan besar.
    Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah ( Galatia 6 : 9 )
    Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman ( Galatia 6 : 10 ).

 

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 44 (OKTOBER-DESEMBER 2015)

Tentang Penulis

Patricia Putri

patricia putri

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next DAUN GEDI, SUPERHERO PEMBASMI OSTEOPOROSIS

Tinggalkan Komentar