KULIT SEKRUPEN

KULIT SEKRUPEN

Dok, saya adalah ibu dari 2 anak; anak saya yang kedua ini memiliki kulit yang nampaknya berbeda dengan kakaknya. Sejak umur ± 2 tahun anak saya kalau digigit nyamuk atau terkena air hujan yang becampur dengan tanah suka gatal-gatal. Karena gatal, digaruk terus sampai lecet dan akhirnya meninggalkan bekas hitam dikulitnya. Pertanyaan saya, bagaimana hal ini bisa terjadi pada anak saya, karena hal seperti ini tidak terjadi pada anak pertama saya? Bisa hilang nggak ya? Apakah sampai besar nanti, akan tetap seperti itu, kalau kulitnya digaruk sampai lecet akan jadi sekrupen? Apakah sekrup-sekrup yang telah terlanjur terjadi bisa dihilangkan? Dimana saya bisa periksa/berkonsultasi? Bagaimana cara mencegah agar sekrupnya tidak bertambah dan berlanjut? Tolong dijawab ya dok, saya nggak ingin anak saya seperti robot yang penuh dengan sekrup. Terima kasih.

Dari ibu Nunu
Di Semarang.


Yth, Ibu Nunu
Di semarang,

     Kulit merupakan salah satu organ tubuh yang sangat penting; seperti juga halnya jantung, paru, ginjal, otak, dan liver. Karena itu perlu dijaga kesehatan dan kebersihannya. Seseorang bisa dibaca dari penampilan kulitnya; karena kulit adalah bagian tubuh kita yang langsung terlihat oleh siapa saja. Siapa (wanita) yang tidak bangga dan percaya diri bila mempunyai kulit yang putih, bersih, mulus dan lembut? Karena kulit merupakan organ tubuh yang paling luar letaknya, sehingga sangat mudah dilihat bila ada kelainan atau penyakit padanya. Sebetulnya kulit mempunyai fungsi yang bukan hanya sekedar sebagai bagian dari masalah seputar kosmetik. Tetapi kulit mempunyai fungsi lain yang lebih penting, diantaranya adalah: 1) sawar kulit (terhadap trauma fisik, bahan kimia, radiasl, ultraviolet, mikroorganisme). 2) tempat penyerapan. 3) pengatur suhu tubuh. 4) indra peraba. 5) alat ekskresi (melalui keringat, dan berbagai kelenjar kulit). 6) sebagai salah satu organ pertahanan tubuh. (mencegah supaya kuman tidak masuk ke dalam tubuh).
     Memang organ kulit ini masing-masing anak atau orang sangat berbeda dalam kepekaannya terhadap rangsang tertentu. Rangsang ini bisa berupa trauma (benturan, gesekan, garukan, gigitan serangga, dll), rangsang trauma kimiawi (zat-zat yang bisa mengiritasi kulit: bahan-bahan kosmetik, bahan kimia yang bersifat terlalu asam atau basa). Perbedaan kepekaan inilah yang nantinya bisa membedakan penyakit tertentu tidak selalu terjadi pada semua anak, walaupun menerima rangsang yang sama. Tetapi perbedaan ini bukanlah satu-satunya yang menentukan, masih ada yang mempengaruhi antara lain sistem pertahan tubuh yang berbeda, kemampuan menjaga kebersihan kulit, dan lain sebagainya.
Ibu Nunu dan para pembaca majalah Kasih, sekrupen yang terjadi pada kulit adalah akibat dari kerusakan jaringan kulit, yang bisa disebabkan oleh berbagai hal yang bersifat mengiritasi kulit. Ini bisa di dahului oleh gigitan serangga (nyamuk) atau iritan yang lain. Karena gatal, digaruk terus - lapisan epidermis bertambah rusak - kuman masuk - menimbulkan infeksi - terbentuk nanah - terbentuk luka dengan tengahnya agak cekung dengan tepi luka mengeras, berwarna lebih hitam - sembuh lama - sembuh meninggalkan jaringan kulit yang mengalami hiperpigmentasi (berwarna lebih gelap) dibanding kulit sekitarnya. Yang sering terjadi, satu luka ini belum sembuh sudah disusul dengan luka baru lainnya, dan begitu seterusnya, sehingga kulitnya banyak dengan luka-luka seperti itu. Bekas penyembuhan luka (hiperpigmentasi) yang terjadi ini perlu waktu lama atau bahkan tidak akan bisa hilang sampai dewasa; tergantung tingkat kedalaman lukanya dan berat-ringannya hiperpigmentasi.
     Apakah kejadian seperti ini akan tetap bisa terjadi setelah anak besar nanti? Bisa saja tetap terjadi, apabila kebiasaan menggaruk sampai menyebabkan luka lecet tetap dilakukan, dan higiene kulit tidak diperhatikan. Apabila anak sudah menginjak remaja atau dewasa, diharapkan akan lebih bisa mengendalikan dirinya karena sudah sadar akan pentingnya penampilan dirinya. Sehingga mampu menahan diri untuk tidak melakukan tindakan menggaruk-garuk kulitnya yang akan membekas ketika sembuh.
     Untuk bercak hiperpigmentasi (istilah dari ibu Nunu: sekrup), yang telah terlanjur terjadi, ada kemungkinan masih bisa diatasi. Ibu Nunu bisa periksa dan konsultasi ke dokter spesialis kulit yang terdekat untuk memecahkan masalah ini. Tetapi untuk keberhasilannya mungkin perlu waktu yang cukup lama, perlu kesabaran, dan ketelatenan untuk mendapat hasil yang maksimal.
     Untuk mencegah supaya tidak sekrupen, kulit harus dijaga dengan baik dari segala hal yang dapat merusak sistem sawar kulit. Sawar ini berupa susunan sel kulit terluar yang keras dan tebal, sangat kuat dan elastis, senantiasa mengalami keratinisasi, sehingga mikroorganisme secara teratur dibersihkan dari permukaan kuit. Sawar kulit bisa rusak apabila mengalami trauma (benturan, gesekan, garukan, gigitan serangga), rangsang trauma kimiawi (bahanbahan kosmetik, bahan kimia yang bersifat terlalu asam atau basa), atau kulit terlalu lama kontak dengan air atau cairan pembersih; atau sebaliknya udara yang terlalu kering, kurang kelembabannya, dan lain sebagainya. Perubahan sawar kulit juga bisa terjadi pada kelainan genetik (misalnya pada atopi: eksim yang sering bersifat kronis, sering kambuh, dan gatal); dan akibat kehilangan cairan. Hal yang memperparah dan menambah masalah adalah karena terjadinya infeksi. Kuman yang paling sering menginfeksi adalah Staphylococcus dan Streptococcus. Beberapa spesies kuman ini sebetulnya merupakan flora normal pada manusia. Bisa ditemukan di lubang hidung, daerah sekitar dubur dan kelamin, ketiak, sela-sela jari, bahkan di permukaan kulit kita. Tetapi pada keadaan tertentu (sawar kulit rusak, digaruk, luka yang sering dipegang-pegang, kebersihan kulit kurang terjaga) kuman ini masuk dan terjadilah infeksi.
     Untuk mencegah terjadinya sekrupen, yang terutama adalah menghindari kerusakan sawar kulit dan mencegah terjadinya infeksi. Hal ini bisa kita lakukan dengan cara:

  • Hindari gigitan serangga (khususnya nyamuk).
  • Jangan menggaruk kulit yg terasa gatal atau bila sudah ada tanda iritasi.
  • Bila ada luka di kulit, rawat dan obati dengan baik, jangan sering dipegang-pegang.
  • Hindari pemakaian bahan yang bersifat mengiritasi kulit.
  • Hindari kulit dari kelembaban tinggi (pakaian terlalu ketat, banyak keringat).
  • Hindari overhidrasi kulit (terendam terlalu lama dalam air).


     Demikian ibu Nunu penjelasan yang dapat saya berikan, mudah-mudahan bisa membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi dan juga bermanfaat bagi para pembaca majalah Kasih yang kebetulan mempunyai probem yang sama. Terima kasih.

 

 

{oleh : Dr. Sedyo Wahyudi, Sp.A}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 7 (JULI-SEPTEMBER 2006)

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar