KURKUMIN TEMULAWAK SEBAGAI TERAPI KANKER

KURKUMIN TEMULAWAK SEBAGAI TERAPI KANKER

    Temulawak (Curcuma xanthorhiza Roxb) termasuk dalam keluarga tanaman jahe-jahean (zingiberceae). Di Indonesia ia dikenal dengan berbagai sebutan. Di daerah Sunda temulawak dikenal dengan sebutan koneng gede, di Madura dikenal dengan nama temubalak. Sementara dalam bahasa Inggris Java Turmeric (Kunyit Jawa), ini sekaligus menguatkan dugaan bahwa temulawak merupakan tanaman asli Indonesia yang sudah lama dikenal dan digunakan masyarakat dunia. Mei 2008 silam, pemerintah dengan bangga menyelenggarakan Simposium International Pertama Temulawak berskala dunia di IPB International Convention Centre (IICC) Bogor. Dan dengan ini,temulawak diharapkan mampu menjadi ikon obat herbal atau jamu Indonesia di kancah internasional, seperti halnya tanaman ginseng dari Korea.

USIR SAKIT PADA HATI
Temulawak mempunyai kandungan berbagai minyak atsiri seperti kurkumin, kamfer, glukosida, phellandrene, turmerol, myrcene, xanthorrhizol, isofuranogermacreene
dan ptolyletycarbinol selain karbohidrat, lemak, protein, vitamin C, zat besi, fosfor dan kalsium. Dalam farmakologi pengobatan tradisional Cina, herbal ini mempunyai sifat sebagai anti inflamsi, anti hepatotoksik, diuretik, fungistatik, bakteriostatik dan juga mampu menghambat agregasi trombosit.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di poliklinik Hepatogasteroenterologi RSUD Dr. Sutomo, Surabaya, pada sekitar 30 penderita penyakit hati kronik. Ternyata pemberian kapsul temulawak selama 12 minggu, memberikan hasil yang memuaskan. Dimana hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa setelah 12 minggu, pemeriksaan laboratorium pasien menunjukan SGPT turun 70%, SGOT turun 82%, ALP turun 76%, GGT turun 100%, bilirubin total turun 100% dan terjadi perbaikan pada symptom klinis pasien yang meningkat hingga 70%. Dalam penelitian ini temulawak diduga kuat mempunyai aktifitas sebagai kolagoga, yaitu meningkatkan produksi dan sekresi empedu yang bekerja koleretik dan kolekinetik yang berpengaruh pada hati, kantong empedu dan pancreas. Menurunkan kadar kolesterol hati sehingga dapat mencegah dan memperbaiki perlemakan sel hati.

OBATI  REMATIK
Menurut Dr. Tjok Gde Dharmayudha, SpPD KHOM, temulawak memiliki efek farmakologis sebagai antiinflamasi. Penelitian yang dilakukan Doedhar, et al (1980) terhadap 18 orang penderita reumatik arthritis menunjukkan perbaikan kondisi pasien yang cukup berarti setelah diberikan temulawak dengan dosis 1200 mg per hari selama 2 minggu. Kurkumin dan minyak atsiri temulawak (turmerol, ar-turmeron dan xanthorizol) juga garam natrium, diketahui mempunyai kemampuan menghambat enzim sikloksidase. Lebih lanjut penelitian yang dilakukan di Australia terhadap 42 orang penderita osteoarthritis terbukti mampu menurunkan rasa sakit setelah diberikan preparat kurkuminoid selama 3 bulan.

PADA PENGOBATAN KANKER
Menurut Dr.Tjok, dalam pengobatan kanker harusnya kurkumin dan temulawak juga bisa disejajarkan dengan pengobatan kanker konvensional. Karena memang kurkumin terbukti memiliki efektivitas yang baik sebagai imunomodulator. ”Kanker itu bisa sembuh dengan sendirinya, jika sistim immune dalam tubuh kita kuat. Menguatkan sistim immune bisa dengan menjaga kesehatan, memperbaiki nutrisi dan meningkatkan daya tahan tubuh, salah satunya dengan imunomodulator dalam hal ini kurkumin,” jelasnya.
Lebih lanjut Dr. Tjok menjelaskan bahwa dalam sistem immune, diketahui peran penting Limfosit-T dengan TH1 danTH2. Kesemuanya itu akan membatu mencegah kanker tidak muncul ataupun menggurangi perkembangannya. ”OIeh karena itu peran immunomodulator pada cellT sangat penting untuk kita ikutkan dalam terapi kanker,”jelasnya. Imummomodulator dari complementary medicine, dalam hal ini kurkumin dari temulawak, fungsinya adalah untuk menguatkan sistem imun agar kanker tidak mampu tumbuh kembali. Menurut Dr.Tjok, target pertama dari immunomodulator adalah penguatan cell-T. Karena cell-T nanti akan dapat mencegah kanker tidak timbul dan juga mengenali kanker setelah dia ada, sehingga dapat dipakai saat rehabilitasi untuk mencegah metastasis.

Kurkumin bisa mencegah timbulnya kanker, juga bisa mencegah proliferasi karena dia mempunyai titik kerja pada titik tangkap Nf-Kb. “Sehinga seharusnya curcumin ini memiliki tempat bersama dengan pengobatan kanker konvensional,” tambahnya. Dengan tujuan untuk melengkapi kekurangan pengobatan kanker yang selama ini ada.

BUDIDAYA
    Habitat temulawak banyak ditemukan  di hutan-hutan tropis. Temulawak juga berkembang biak di tanah tegalan sekitar pemukiman yang bertekstur  tanah gembur. Tanah  jenis ini akan memudahkan rimpang tumbuh dengan besar. Batang tanaman temulawak merupakan batang semu dengan ketinggian dapat mencapai 2 meter. Daunnya lebar dan pada setiap helaian dihubungkan dengan pelapah dan tangkai daun yang agak panjang. Bunga dari tanaman temulawak berbentuk unik (bergerombol) dan berwarna kuning tua. Rimpang temulawak mempunyai aroma dan warna yang khas. Daging rimpang berwarna kekuningan dengan bau tajam yang berasal dari kandungan minyak atsirinya. Tanaman ini akan tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian tanah 1500 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan 1500— 4000 mm/th.
Untuk memenuhi hasil bahan pengobatan yang baik, diperlukan hasil budidaya tanaman temulawak yang terstandar. Salah satunya adalah standarisas budidaya yang dilakukan oleh Badan Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor, seperti; kadar minyak atsiri (6,2-10,6%), kadar kurkumin (2,0-3,3%). Hasil tersebut didapatkan dan bahan tanaman, sehingga untuk benih harus tepat dan jelas jenis, varietas dan asal usulnya. Sebagai bahan tanaman untuk benih digunakan tanaman yang sehat berumur 12 bulan.
    Pada pengolahan pasca panen, bagian yang dipanen dan dipergunakan adalah rimpang yang beraroma tajam dengan daging rimpang berwarna kuning tua sampai jingga. Panen dapat dilakukan pada umur 7-12 bulan setelah tanam atau daun telah menguning dan gugur.

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih Edisi 37 ( JANUARI - MARET 2014 )

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar