MENGENAL GANGGUAN PSIKOLOGIS

MENGENAL GANGGUAN PSIKOLOGIS

Apakah anda merasa:
sering mudah lemah dan letih,
jantung berdebar-debar,
perasaan sesak tanpa sebab yang jelas,
mudah sekali cemas dan sulit tidur?
Mari kita kenal lebih jauh tentang gangguan psikologis.

 

    Penyakit atau gangguan psikologis pada hakikatnya berbeda dengan penyakit fisik. Penyakit psikologis sendiri pada saat ini sudah termasuk dalam 10 masalah kesehatan utama yang menyebabkan disabilitas. Disabilitas dapat diartikan sebagai penurunan produktivitas kerja atau sehari - hari, hubungan sosial, dan penurunan kualitas hidup.
    Sering kali gangguan psikologis dipandang enteng dan dianggap sebagai suatu masalah sepele. Padahal cukup banyak keluhan – keluhan fisik (seperti perut tidak enak, nyeri kepala, otot – otot kaku, kesemutan, dada tidak enak) ternyata memiliki latar belakang gangguan psikologis. Kadang gangguan psikologis ini tidak disadari oleh pasien maupun tenaga medis sekalipun sehingga keluhan pasien tidak kunjung hilang. Akibatnya pasien terpaksa melakukan “shopping dokter” atau berpindah – pindah dari satu dokter ke dokter lain untuk mencari solusi tepat atas penyakitnya. Karena itu mari kita kenali gangguan ini lebih dalam agar tidak salah dalam memilih langkah. Terdapat berbagai jenis gangguan psikologis:

Gangguan Cemas
    Kecemasan pada kondisi dan situasi yang wajar adalah normal bagi setiap orang. Namun pada individu tertentu dapat terjadi suatu kecemasan yang berlebihan. Kecemasan yang berlebihan ini ditandai dengan adanya gangguan aktivitas diakibatkan karena kecemasannya itu.
Ada beberapa bentuk dari gangguan cemas:

  1. Gangguan Cemas Menyeluruh.
    Gangguan ini membuat penderitanya mengalami kecemasan berlebihan sepanjang hari tanpa adanya penyebab yang jelas. Si penderita berusaha mengantisipasi bencana yang belum terjadi dan terlalu memikirkan masalah dalam kehidupannya. Biasanya disertai dengan gangguan konsentrasi, gangguan tidur dan penderita merasa tidak tenang.
  2. Gangguan Panik:
    Ditandai dengan adanya serangan panik yang berulang dan sering. Serangan panik muncul ketika menghadapi situasi atau hal yang sebenarnya tidak membahayakan disertai dengan munculnya gejala seperti jantung berdebar, rasa dingin atau baal pada tangan dan kaki, keringat dingin, mual, pusing, nyeri dada, rasa seperti dicekik, dan pada saat serangan merasa sangat takut akan kehilangan kontrol terhadap situasi sekitarnya.
  3. Gangguan Obsesif Kompulsif:
    Gangguan ini ditandai dengan ketakutan, kekhawatiran, atau kecemasan yang tidak beralasan akan sesuatu hal (obsesif) yang berbuntut pada tindakan yang dilakukan berulang kali (kompulsif). Biasanya muncul gejala – gejala khas seperti penderita sering kali khawatir apakah pintu rumah sudah dikunci sehingga perlu berkali – kali mengecek, merasa selalu ingin tangan, lantai, atau mejanya bersih sampai dalam sehari harus mencuci atau merapikannya berulang-ulang.
  4. Stress Pasca trauma
    Kecemasan yang dipicu oleh peristiwa traumatis (kejadian mengerikan atau mengancam nyawa). Penderita dapat terlihat menghindari ingatan dan dapat pula tampak cemas atau menunjukkan reaksi emosi yang hebat (sedih, tidak stabil, marah, takut, sulit berkonsentrasi, gangguan memori) saat berhadapan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kejadian.
  5. Fobia
    Ketakutan berlebihan dan tidak masuk akal akan suatu hal, baik itu benda atau situasi yang tidak berbahaya, sehingga mengganggu kegiatan sehari – hari.
  6. Fobia sosial
    penderita gangguan ini mengalami ketakutan hebat dalam berinteraksi sosial. Misalnya saat berhadapan dengan orang yang tidak dikenal atau situasi yang mengharuskan muncul di tengah publik. Bahkan ketika harus memesan makanan di restoran atau pergi ke WC umum sekalipun.


Gangguan Depresi
    Selama ini banyak yang salah mengerti akan  makna depresi yang sebenarnya. Depresi bukan berarti sekedar perasaan sedih, tapi lebih dari itu merupakan suatu bentuk gangguan medis. Perbedaan antara perasaan sedih “biasa” dengan depresi adalah bahwa pada depresi kesedihan itu kemudian mengganggu dalam melakukan aktivitas rutin sehari-hari. Misalnya tampak dari kinerja dan produktivitas yang menurun, kehilangan semangat dan tidak ada energi dalam melakukan kegiatan, pada derajat yang lebih berat dapat merasa diri tidak berharga dan muncul keinginan untuk mengakhiri hidup. Gejala lain yang lazim menyertai antara lain gangguan tidur baik terlalu banyak tidur atau tidak bisa tidur  (insomnia).
    Gejala gangguan depresi kerap kali berhubungan dengan suatu zat dalam otak yang dinamakan serotonin. Hormon ini mengalami penurunan pada orang – orang yang mengalami gangguan depresi.

Gangguan Bipolar
    Sesuai namanya: bipolar yang dapat diartikan dua buah kutub, penderita gangguan bipolar mengalami perubahan suasana perasaan yang ekstrim; pada waktu tertentu terjadi peninggian suasana yang sedemikian hebat (episode manik) dan di lain waktu terjadi penurunan suasana yang ekstrim (episode depresif). Istilah manik menggambarkan periode saat sesorang merasa sangat senang dan percaya diri. Perasaan-perasaan ini dapat dengan cepat berubah menjadi kebingungan, lekas marah, dan bahkan mengamuk. Sedangkan istilah episode depresif menggambarkan periode saat seseorang bisa merasa sangat sedih atau mengalami kesedihan yang mendalam sampai ingin mengakhiri hidupnya.
    Gambaran gejala manik dapat berupa perasaan bahagia, gembira yang berlebihan, perubahan mendadak dari merasa gembira ke lekas marah, tutur kata yang cepat dan konsentrasi kurang, boros dan kurang perhitungan dalam berbelanja, energi yang meningkat dan keinginan tidur kurang, dorongan seksual yang meningkat, muncul ide-ide besar yang sulit dicapai, dan mungkin disertai dengan keinginan untuk konsumsi narkoba.
    Sebaliknya, gambaran gejala depresi dapat berupa perasaan sedih yang dalam hampir sepanjang waktu, kehilangan minat / gairah, kehilangan energi, putus asa, hilang kegembiraan terhadap hal-hal yang tadinya disukai, sulit berkonsentrasi, sulit mengambil keputusan, sulit tidur, perubahan nafsu makan, sampai bisa pula muncul pikiran ingin bunuh diri. Gejala yang paling mudah dikenali adalah peralihan mood yang tinggi (dari ekstrim tinggi ke ekstrim rendah) yang tidak terpola. Informasi yang didapat dari keluarga atau teman terdekat juga sangat berguna untuk mengetahui apakah seseorang mengalami gangguan bipolar.

Skizophrenia
    Skizophrenia berasal dari dua kata, yaitu “schizo”  yang artinya retak atau pecah dan “frenia” yang artinya jiwa. Jadi seseorang yang mengalami schizophrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian. Pada penderita skizophrenia biasanya gejala yang muncul cukup berat, berlangsung lama dan ditandai oleh penyimpangan pikiran, kesalahan persepsi serta emosi.
    Gejala skizophrenia dapat muncul sebagai gejala negatif dan gejala positif. Gejala negatif artinya gejala di mana penderita akan mengalami keadaan yang menurun atau lebih pasif dari orang yang normal, antara lain: hilang emosi, ekspresi, dan pikiran, motivasi yang menurun, miskin bicara dan miskin isi pembicaraan, kebersihan dan perawatan diri yang kurang, penarikan sosial, merasa lelah. Sedangkan gejala positif justru sebaliknya, penderita mangalami delusi atau memiliki keyakinan yang tidak sesuai realita, halusinasi atau dapat melihat, mendengar, merasakan sesuatu yang tidak ada.     
    Demikianlah sebenarnya gangguan-gangguan psikologis tidaklah se-sepele yang selama ini diperkirakan. Apalagi akibat dari gangguan-gangguan ini menimbulkan kerugian besar terhadap produktivitas dan keseluruhan kehidupan si penderita. Sebenarnya gangguan-gangguan ini dapat dicegah dan diatasi secara lebih baik dengan deteksi dan penanganan dini. Selain itu dengan makin majunya perkembangan di bidang obat-obatan, saat ini berbagai gangguan psikologis bisa diobati dengan efektif dengan efek samping ringan. Oleh karena itu kenalilah gejala-gejala gangguan psikologis dan jangan takut atau ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anda sedini mungkin, karena penanganan yang lebih dini akan memberikan hasil akhir yang lebih memuaskan. n

Salam..
 
 
 {oleh : Dr. Yoseph Chandra, M.Kes}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 22 (APRIL-JUNI 2010)

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar