MENGENAL ULAH PENYAKIT KAWASAKI

MENGENAL ULAH PENYAKIT KAWASAKI

kawasaki

Penyakit kawasaki ditemukan pertama kali di Indonesia sekitar 3 tahun lalu, dan kini semakin giat mencari mangsa. Jika tidak ditangani segera, dapat menyebabkan kematian.

 

     Penyakit ini didominasi oleh anak-anak. 80% pasien berusia dibawah 5 tahun (balita) dan menyerang lebih kepada anak laki-laki daripada perempuan. Sindrom Kawasaki atau penyakit Kawasaki, ditemukan Pertama kali oleh Dr. Tomisaku Kawasaki pada tahun 1967 di Jepang, yang saat itu dikenal sebagai mucocutaneous Ivmphnode syndrome.
    Di Indonesia, penyakit kawasaki mulai banyak ditemui. Meski demikian kasus yang ditemukan tersebut hanyalah sebagian kecil dari yang sebenamya ada. Hal yang paling ditakuti dari penyakit ini adalah kerusakan pada pembuluh koroner jantung (pada 20­-40% kasus yang tidak diobati). Komplikasi ke jantung biasanya mulai terjadi setelah hari ke 1-8 sejak awal timbulnya demam. Awalnya berupa penyempitan atau sumbatan bagian dalam pembuluh koroner.
   Sebagian penderita Penyakit Kawasaki akan sembuh, namun sebagian lagi terpaksa menjalani hidup dengan jantung yang cacat akibat aliran darah koroner yang terganggu dan sebagian kecil akan meninggal akibat kerusakan jantung.
Penyebab penyakit ini masih belum diketahui dengan pasti, namun diduga kuat penyakit ini adalah suatu infeksi. Meski demikian, belum ada bukti-bukti yang cukup meyakinkan. Karena itu pula cara pencegahannyapun belum diketahui secara pasti.
    Berdasarkan Harvard Medical School diinformasikan beberapa penelitian menemukan hubungan terjadinya penyakit Kawasaki dengan paparan langsung pembersih karpet akan tetapi penyebabnya belum dapat ditegakan. Adanya hubungan dengan SNP dalam ITPKC gene, yang menandai enzim negative pada aktivasi T-cell regulasi. Sehingga adanya FC genetic juga berpengaruh. Serotipe HLA - B51 ditemukan berhubungan dengan penyakit ini.

Kriteria Diagnostik
Dibagi menjadi 3 fase, yaitu:
Fase Akut (10 hari pertama)
A. Terdapat 6 gejala yang bersifat diagnostik
1.    Penyakit timbul mendadak dengan gejala awal demam tinggi (bisa mencapai 41° C) dan bersifat remiten. Demam ini tidak menunjukkan respon terhadap antibiotik. Pada kasus yang tidak diobati, demam dapat berlangsung selama 1-2 minggu, bahkan 3-4 minggu. Dalam 2-5 hari setelah demam, gejala lain akan muncul.
2.    Kedua mata merah tetapi tanpa kotoran dan tanpa cairan.
3.    Perubahan pada mulut, bibir mesh terang, kemudian menjadi pecah dan berdarah, lidah rongga mulut dan faring kemerahan.
4.    Perubahan pada tangan dan kaki: telapak tangan dan kaki merah, serta agak bengkak.
5.    Eksantema berbagai bentuk pada anak yang sama dengan warna kemerahan. Distribusi bervariasi, terdapat di wajah atau di badan, sering menyerupai urtikaria dan gatal, kadangkala menyerupai campak. Eksantema dapat hilang di satu tempat, kemudian muncul di tempat lain.
6.    Pembesaran kelenjar getah bening leher yang dijumpai hanya pada sekitar 50% penderita, dengan ukuran 15 milimeter.

B. Gejala lain yang dijumpai
1.    Gangguan fungsi hepar.
2.    Artritis sendi besar.
3.    Meningitis aseptic.
4.    Nyeri perut dan diare.
5.    Hidrops kandung empedu dengan ikterus.

C. Kelainan Kardiovaskuler
Berupa takikardi, irama derap, bising jantung, kardiomegali, efusi pericardium, gangguan fungsi ventrikel kiri, perubahan pada elektrokardiografi (EKG). Kelainan arteri koroner mulai timbul pada akhir minggu pertama hingga minggu kedua dan dapat berlangsung terus selama penyakit masih aktif.

Kelainan lain yang dapat dijumpai, namun tidak termasuk kriteria diagnostic, tetapi
membantu diagnosis, sebagai berikut:
1. Kardiovaskular : Irama derap, perubahan EKG, angina pectoris atau infarkmiokard.
2. Gastrointestinal : Diare, muntah, ikterus ringan, peningkatan enzim transaminase.
3.   Darah : LED meningkat, lekositosis dengan pergeseran ke kiri, hipo­albuminemia, anemia ringan, trombositopenia.
4.    Urin : Proteinttria, lekosit meningkat.
5.   Kulit : Kemerahan pada bekas suntikan BCG, kulit jari mengelupas pada  face subakut.
6.    Respirasi : Batuk, pilek, infiltrat paru.
7.    Sendi : Artitis dan artralgia.
8. Neurologik    : Kejang, tidak radar, rewel, peningkatan sel pada cairan serebrospinal.
Differential Diagnosis Scarlet fever, toxic shock syndrome & Juvenile Idiopathic Arthritis.

Pengobatan dan Penyembuhan.
    Penderita penyakit Kawasaki harus menjalani rawat inap di rumah sakit dengan mendapat pengawasan dari dokter ahli jantung anak, karena ditakutkan akan lari ke jantung. Pemeriksaan jantung, yaitu EKG dan Ekokardiografi, CT-Scan, Magnetic Resonance Angiography maupun kateterisasi jantung diperlukan pada kasus berat. Obat yang mutlak harus diberikan adalah :
1.    Imunoglobulin secara infus (IVIG) selama 10-12 jam. Obat yang didapat dari plasma donor darah ini ampuh untuk meredakan gejala penyakit Kawasaki maupun untuk menekan resiko kerusakan iantung. Imunoglobulin yang diperlukan 2 gram/kg berat badannya (harga 1 gram obat +/- 900.000 rupiah).
2.    Asam salisilat juga diberikan untuk mencegah kerusakan jantung dan sumbatan pembuluh koroner.
3.    Costicosteroid sebaiknya juga digunakan, terutama jika pengobatan gagal atau gejala bertambah.
    Jika tidak ada komplikasi, anak dapat dipulangkan dalam beberapa hari. Tetapi jika penanganan terlambat dan jika sudah terjadi kerusakan pembuluh koroner, maka perlu rawat inap lebih lama, disertai pengobatan intensif guna mencegah kerusakan jantung lebih lanjut. Jika dengan obat-obatan tidak berhasil, kadang diperlukan operasi pintas koroner (coronary by pass) atau transplantasi jantung.
Kematian dapat terjadi 1-5% penderita yang umumnya terlambat ditangani dan puncaknya terjadi 15-45 hari setelah awal timbulnya demam. Namun demikian, kematian mendadak dapat terjadi bertahun-tahun setelah fase akut. Penyakit Kawasaki dapat pula merusak katup jantung (terutama katup mitral) yang mengakibatkan kematian mendadak beberapa tahun kemudian.

Kemungkinan kambuh +/- 3 % dari penyakit ini.
    Penderita yang dinyatakan sembuh total sekalipun, pembuluh koronernya akan mengalami kelainan pada lapisan dalam yang memicu penyakit jantung koroner di usia dewasa kelak: Sehingga bila ditemukan serangan jantung koroner akut pada usia dewasa, perlu dipikirkan kemungkinan pernah terkena Kawasaki.
Oleh karena beratnya dampak pada penyakit ini, maka jika anak demam lebih dari 5 hari, kemudian di hari ke-2 mata merah tanpa cairan dan tanpa kotoran, maka pastikan terlebih dahulu bahwa anak itu memiliki tanda-tanda terkena Kawasaki.***

 

{oleh : Dr. Indrayati Handoyo}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 16 (OKTOBER-DESEMBER 2008)

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar