MENGHADAPI MENOPAUSE

MENGHADAPI MENOPAUSE

Menopause merupakan peristiwa alami yang akan terjadi pada setiap wanita, tak jarang hal ini menimbulkan kekuatiran tersendiri karena sering dihubungkan dengan kondisi penuaan pada seorang wanita. Menjadi tua sering kali menjadi momok yang menakutkan bagi wanita. Kekuatiran ini mungkin berawal dari pemikiran bahwa dirinya menjadi tidak sehat, tidak bugar, dan tidak cantik lagi.

        Wanita sehat secara normal akan mengalami suatu proses degenerasi yang dinamakan menopause. Pada menopause, ovarium (indung telur) tidak lagi berfungsi sehingga tidak lagi memproduksi sel telur. Hal ini menyebabkan produksi hormon estrogen dalam tubuh menurun. Proses ini sering menimbulkan gejala-gejala yang dirasakan tidak menyenangkan. Oleh karena itu sangatlah penting bagi setiap wanita untuk benar-benar memahaminya.
      Di masa menopause tubuh akan mengalami perubahan organik dan hormonal sehingga kadang menimbulkan masalah kesehatan. Namun para wanita tidak perlu kuatir akan hal ini. Masalah kesehatan tersebut dapat kita cegah dengan pola hidup sehat dan olah raga.

Menstruasi
    Menstruasi adalah keluarnya darah dari jalan lahir yang normal terjadi pada wanita akibat rangsangan siklus hormonal yang terjadi setiap bulan. Aktifitas siklus hormonal ini membuat lapisan dalam dinding rahim yang disebut endometrium luruh sehingga muncul perdarahan yang biasa kita sebut haid atau menstruasi. Lama siklus menstruasi normal yaitu sekitar 25-35 hari sekali dan berlangsung sekitar 3-6 hari dengan jumlah yang cukup.
    Pada wanita menopause ditandai dengan berhentinya menstruasi secara permanen. Sekitar separuh wanita berhenti menstruasi antara usia 45 sampai 50 tahun, sekitar seperempat wanita berhenti sebelum umur 45 tahun, dan seperempat lainnya terus menstruasi sampai melewati umur 50 tahun.

Perubahan Hormon
    Menopause merupakan suatu tahap dimana wanita tidak lagi mendapatkan siklus menstruasi yang menunjukkan berakhirnya kemampuan wanita untuk bereproduksi. Pada saat menopause wanita akan mengalami perubahan-perubahan didalam organ tubuhnya. Perubahan terjadi secara peralahan-lahan yang disebabkan oleh berkurangnya hormon estrogen seiring dengan bertambahnya usia.
    Meskipun reproduksi tidak lagi merupakan tujuan, hormon tersebut tetap memegang peran yang penting untuk mempertahankan kesehatan. Hal ini dikarenakan reseptor hormon estrogen terdapat dalam hampir semua organ tubuh perempuan, misalnya untuk mempertahankan tulang yang kuat, mempertahankan jaringan vagina dan saluran kencing yang lentur. Estrogen juga berperan untuk mempertahankan lapisan kolagen pada kulit. Hormon estrogen meningkatkan aliran darah ke otak, mencegah atherosklerosis, mencegah radikal bebas dan degradasi DNA sehingga dapat mencegah demensia.
    Dua hingga delapan tahun sebelum menopause, kebanyakan wanita menjadi tak teratur ovulasinya. Selama tahun-tahun tersebut, folikel indung telur yang mematangkan telur setiap bulan akan mengalami tingkat kerusakan yang semakin cepat hingga pasokan folikel itu akhirnya habis. Estrogen dihasilkan oleh indung telur selama persediaan sel telur masih ada. Tugas estrogen sebenarnya ialah mematangkan sel telur sebelum dikeluarkan. Oleh karena itu selama sel telur masih ada, estrogen tetap akan diproduksi. Kemudian ketika persediaan sel telur habis, indung telur mulai menghentikan produksi estrogen akibatnya haid tidak muncul lagi. Pada wanita tersebut menginjak masa menopause, yang berarti berhentinya masa kesuburannya.

Tanda dan Gejala menopause
    Menopause ditandai dengan pola menstruasi yang mulai tidak teratur, jumlah darah menstruasi bisa banyak sekali atau cuma sedikit sehingga nampak seperti flek-flek saja. Menstruasi mulai jarang, yang dulu biasanya sebulan sekali kini mulai 2 bulan atau 6 bulan baru menstruasi. Dapat juga terjadi perdarahan banyak yang disebut menometroragi sehingga wanita jatuh pada kondisi anemia berat.
    Pada menopause mulai terjadi perubahan pola hormonal sehingga mengakibatkan seorang wanita sering berkeringat banyak, wajah terasa panas dan kemerahan. Juga terdapat gangguan perilaku dan emosional seperti sering merasa cemas, mudah gugup, sulit konsentrasi, tegang, mudah tersinggung dan sulit tidur. Selain itu wanita juga mengeluhkan sering sakit kepala, migrain, keluhan kardiovaskuler, nyeri otot dan panggul. Perubahan psikologis juga dapat berakibat stres dan bahkan mengalami depresi.

Efek menopause
    Pada menopause terjadi penurunan kadar estrogen yang menyebabkan gangguan metabolisme lemak sehingga menyebabkan deposit lemak pada tungkai, perut bagian bawah, dan lengan atas. Penurunan kadar estrogen menyebabkan peningkatan kolesterol dan tekanan darah (hipertensi) yang merupakan faktor resiko terjadinya atherosklerosis.
    Perubahan hormon ini juga berpengaruh pada mineralisasi pada tulang. Penurunan kadar estrogen pada wanita menopause akan menurunkan densitas tulang. Hal ini akan mengakibatkan tulang keropos dan mudah patah walau hanya dengan benturan ringan.
    Setelah wanita tidak haid lagi terjadi penipisan dinding vagina, lipatan-lipatan dalam vagina berkurang, secret menjadi encer sehingga sering keputihan, timbul gatal dan nyeri waktu senggama.


Penanganan Menopause
    Menopause umumnya tidak membutuhkan penanganan khusus. Gejala-gejalanya juga tidak bersifat permanen dan dapat dikurangi dengan melakukan perubahan gaya hidup. Biasanya seiring berjalannya waktu, keadaan fisik dan psikologis seorang wanita sudah dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan hormonalnya.
    Saat menopause, wanita sering mengeluhkan sensasi rasa panas, berkeringat, jantung berdebar dan sulit tidur. Gejala ini dapat dikurangi dengan mengenakan pakaian yang tidak terlalu tebal dengan bahan yang menyerap keringat. Para wanita dapat mengurangi konsumsi makanan pedas, minuman yang mengandung kafein dan alkohol. Selain itu mengelola stress dapat mengurangi keluhan di malam hari.
    Wanita menopause juga diharapkan menerapkan pola makan yang seimbang. Selain untuk mencegah kenaikan berat badan yang cenderung naik saat masa menopause, konsumsi makanan yang mengandung tinggi kalsium dan vitamin D untuk mencegah pengeroposan tulang lebih lanjut.
    Konsumsi makanan yang banyak mengandung fitoestrogen yang struktur kimianya mirip dengan hormon estrogen. Senyawa tersebut banyak terdapat pada kacang-kacangan misalnya kacang kedelai dan sereal. Ganti menu dengan pilihan yang lebih sehat seperti air mineral, sayuran dan buah-buahan segar, kurangi makanan manis dan yang mengandung lemak tinggi.
     Olahraga secara teratur seperti berjalan dan bersepeda akan menurunkan gejala-gejala menopause, mood lebih terjaga, dan membantu tidur lebih nyenyak. Olahraga mampu menguatkan tulang dan otot sehingga mengurangi pengeroposan tulang. Olahraga juga membantu mengatur tekanan darah dan menstabilkan kadar lemak darah.
    Para wanita dapat melakukan senam Kegel. Langkah ini berguna untuk menguatkan otot dasar panggul sehingga mengurangi gejala sulit menahan kencing. Istirahat yang cukup dan melakukan teknik relaksasi juga perlu, misalnya yoga untuk mengatur pernapasan. Teknik ini dapat membantu untuk mengurangi tingkat stres atau depresi.
    Lakukanlah check-up berkala untuk mengetahui kondisi tubuh secara umum. Lakukan pemeriksaan darah rutin untuk mengetahui profil kolesterol dan kesehatan jantung. Jangan lupa memperhatikan kesehatan organ reproduksi melalui skrining dengan pemeriksaan pap smear, ultrasonografi, dan mammografi secara teratur, mengingat risiko kanker meningkat pada usia menopause.

Pengobatan Menopause
    Tidak semua wanita dapat mengatasi gejala-gejala menopause dengan langkah sederhana. Jika gejala-gejala menopause yang dialami sangat mengganggu dan berat, dokter biasanya akan menganjurkan penggunaan obat-obatan untuk menguranginya. Penentuan jenis metode penanganan medis ini tergantung kepada gejala serta riwayat kesehatan seorang wanita.
    Obat tersebut bekerja dengan menggantikan hormon-hormon reproduksi alami yang menurun seiring proses menopause. Penggunaan obat-obatan dalam terapi ini dapat dihentikan secara bertahap setelah gejala-gejala menopause berakhir. Pada umumnya, durasi gejala menopause yang dialami oleh seorang wanita adalah sekitar 2-5 tahun.
    Terapi penggantian hormon merupakan langkah penanganan menopause yang paling sering digunakan karena tingkat keefektifannya. Selain untuk mengurangi gejala menopause, terapi penggantian hormon jangka panjang juga dapat mengurangi risiko osteoporosis.

 

Dibuat oleh : dr. Titi Somahita

*Dimuat dalam Majalah Kasih Edisi 47 ( Juli - September 2016 )

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar