METODE RICE UNTUK CEDERA JARINGAN AKUT

METODE RICE UNTUK CEDERA JARINGAN AKUT

 Seringkali kita sbg masyarakat awam mendengar kata keseleo, terkilir, kecethit, salah urat atau apapun juga istilahnya. Berbagai istilah tersebut sebenarnya dalam bahasa medis dinamai cedera jaringan lunak.

 

     Seringkali kita sbg masyarakat awam mendengar kata keseleo, terkilir, kecethit, salah urat atau apapun juga istilahnya. Berbagai istilah tersebut sebenarnya dalam bahasa medis dinamai cedera jaringan lunak.
    Jika kita mengalami cedera jaringan lunak, sebenarnya ada sebuah tindakan awal yang efektif dan murah, serta dapat dilakukan sendiri secara sederhana di rumah, sebelum berobat ke medis. Masyarakat awam sering keliru pada kasus terjadinya cedera jaringan ini. Sering terjadi dan dilakukan masyarakat awam pada umumnya, saat terjadi keseleo pada anggota gerak baik tangan ataupun kaki, mereka akan segera mengambil minyak atau balsam urut yg panas dan segera diurutkan sebisanya, dan kalau belum mereda nyerinya mereka akan cari tukang urut atau tukang pijat….
     Mengapa cedera akut pada jaringan tidak boleh diberikan balsam panas dan dipijat ?
      Setiap cedara jaringan akut selalu ditandai dengan adanya pembengkakan, suhu yg meningkat, kemerah-merahan serta ditandai dengan fungsi yg menurun. Cedera jaringan yg masih akut terjadi vasodilatasi atau pelebaran pembuluh darah dan selalu disertai dgn peningkatan suhu jaringan. Prinsip pengobatan pada cedera jaringan akut adalah meminimalkan pelebaran pembuluh darah, menurunkan suhu jaringan. Pada saat kita memberi balsam atau minyak urut panas ke jaringan yg cedera, ditambah dgn pijatan daerah yg cedera, justru akan menambah bengkak, akibat efek pijatan dan efek panas tersebut….dan tindakan ini tidak tepat !!!
     RICE merupakan singkatan dari Rest, Ice, Compression dan Elevation. Metode pengobatan ini biasanya dilakukan untuk cedera akut, khususnya cedera jaringan lunak (sprain maupun strain) Metode terapi RICE ini dilakukan secepat mungkin sesaat setelah terjadinya cedera, yaitu antara 48 sampai 72 jam segera setelah cedera terjadi. Penting artinya buat masyarakat untuk mengetahui langkah-langkah ini, supaya penanganannya cedera  tidak salah kaprah. Metode RICE dapat membantu peyembuhan jaringan setelah mengalami cedera akut. Semakin cepat metode ini diterapkan pada pasien atau orang yang mengalami cedera, akan semakin efektif manfaat hasil yang akan diperoleh.
     REST artinya mengistirahatkan bagian tubuh yang cedera, bagian tubuh yang tidak cedera boleh tetap melakukan aktivitas. Tujuan mengistirahatkan bagian tubuh yang cedera adalah untuk mencegah cedera lebih lanjut dan membantu proses penyembuhan luka bisa lebih optimal. Segera setelah cedera sebaiknya jangan gunakan bagian cedera sama sekali atau istirahatkan total sekitar 15 menit. Kemudian, istirahatkan sampai nyeri pada cedera hilang, atau hingga 48 jam.
      ICE artinya memberikan efek dingin utk membantu menurunkan suhu di sekitar jaringan yg mengalami cedera, scara umum tujuan pemberian es pada jaringan yg cedera adalah mengatasi pembengkakan dgn membuat vasokontriksi pembuluh darah, mengurangi nyeri, melalui efek sedative dingin dan akibat selanjutnya mengurangi spasme otot
    Pemberian es dilakukan dengan memasukkan pecahan es ke dalam kantung plastik seluas area cedera atau lebih. Setelah itu bungkus plastik dengan handuk yang sudah dibasahi, kemudian ditempelkan pada area cedera. Kemudian tutup dengan elastic verban melebihi permukaan dari kantung es tadi. Pemberian es sebaiknya dilakukan dalam waktu 10 menit atau sesegera mungkin setelah cedera selama 15 – 20 menit, kemudian diulang setiap 2-4 jam. Pemberian es secara berkala ini dilakukan selama 24 jam pertama setelah cedera.
      COMPRESSION adalah pemberian penekanan kepada  jaringan yg mengalmi cedera. Kompresi dilakukan bersama-sama dengan pemberian metode ice (kompres dingin). Tujuan utama pemberian penekanan pada jaringan dikombinasi dgn efek dingin ini adalah utk mengatasi pembengkakan berkelanjutan. Metode penekanan ini dilakukan dengan melilitkan elastic verban pada bagian cedera, yaitu dengan meregangkan verban hingga 75% panjangnya. Perlu diperhatikan saat melakukan penekanan atau pembebatan ini, jangan terlalu ketat karena dapat menyebabkan gangguan sirkulasi dengan gejala-gejala seperti rasa baal, kesemutan, dan meningkatnya nyeri.
     Pembebatan meliputi seluruh area cedera dan dilakukan terus-menerus selama 24 jam pertama sesudah kejadian cedera. Pada kasus terjadinya perdarahan jaringan, pembebatan juga dapat membantu mengurangi atau menghentikan perdarahan.
     ELEVASI adalah meninggikan bagian yang mengalami cedera melebihi ketinggian jantung sehingga dapat membantu mendorong cairan keluar dari daerah pembengkakan. Pada tindakan elevasi, pasien sebisa mungkin harus mengangkat bagian cedera lebih tinggi di atas jantung, misalnya jika yang cedera pergelangan kaki,  upayakan pasien dalam posisi tidur kemudian pergelangan kaki diangkat atau ditopang dengan alat supaya posisinya lebih tinggi dari jantung.
    Teknik ini menggunakan hukum fisika yaitu teknik bejana berhubungan dan berguna untuk mengurangi pembengkakan pada bagian cedera. Bagian yang mengalami cedera diangkat sehingga berada 15-25 cm di atas ketinggian jantung. Elevasi sebaiknya dilakukan hingga pembengkakan menghilang.
    Demikian artikel ini kami tulis kembali (dari berbagai sumber) semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca Majalah Kasih. Perlu digaris bawahi penanganan yg tepat sejak dini, membantu proses penyembuhan yang optimal, sedangkan penanganan yg keliru dari awal, terkadang menimbulkan sequele atau gejala sisa yg menetap pada jaringan yg mengalami cedera.

 

{oleh : Budi Setiawan, S.St.FT}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 42 (APRIL-JUNI 2015)

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar