NUTRISI DAN KESEHATAN MULUT LANSIA

NUTRISI DAN KESEHATAN MULUT LANSIA

Pendahuluan
       Dengan meningkatnya angka rata-rata harapan hidup, maka perlu diberikan perhatian yang besar pada peningkatan kesehatan dan kualitas hidup lansia. Lansia adalah individu yang rentan karena masalah fisiologi dan psikososialnya. Penting untuk mendorong lansia agar dapat hidup mandiri karena tingginya biaya kesehatan dan layanan sosial untuk lansia saat ini. Nutrisi yang cukup merupakan faktor penting yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan lansia. Nutrisi yang tidak seimbang akan mempercepat kemerosotan fisik dan mental.
        Beberapa penelitian menunjukkan adanya kaitan antara kemampuan mastikasi, penuaan dan nutrisi.  Diet yang tepat akan mencegah malnutrisi, meningkatkan respon imun untuk mencegah infeksi dan penyakit kardiovaskuler serta osteoporosis. Malnutrisi pada lansia tidak hanya berupa kekurangan zat makanan, tetapi juga dapat berupa kelebihan zat makanan akibat faktor-faktor tertentu.
     Kondisi mulut yang tidak baik dapat menjadi faktor pengganggu status kesehatan dan nutrisi lansia. Sering kali penelitian mengenai pemilihan makanan mengabaikan status kesehatan mulut dan gigi. Kehilangan gigi berhubungan dengan perubahan pemilihan makanan dan defisiensi nutrisi, dimana lansia kehilangan nafsu makan, cenderung memilih makanan lunak dan mudah dikunyah yang rendah serat dan kepadatan nutrisi.
        Masalah nutrisi pada lansia dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain: faktor oral (keadaan dalam mulut), fisik, fungsional, dan psikososial. Pengaruh faktor oral adalah perubahan kemampuan mengunyah makanan yang dapat disebabkan oleh kehilangan gigi, sakit pada gigi, atau gigi tiruan yang tidak baik sehingga menyebabkan rasa sakit; perubahan rasa dan membaui; obat-obatan yang menyebabkan xerostomia. Jika terjadi malnutrisi, maka pertama-tama harus ditentukan apakah benar karena asupan makanan yang tidak cukup atau karena faktor sekunder, misalnya adanya malabsorbsi, penyakit, perubahan kemampuan mengunyah, dan lain sebagainya.
        Zat gizi atau disebut juga dengan zat makanan atau nutrient adalah satuan yang menyusun bahan makanan. Bahan makanan adalah apa yang kita beli, kita masak dan kita susun menjadi hidangan. Ada 5 zat gizi yang kita kenal menurut ilmu gizi dan nutrient yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Setelah dikonsumsi di dalam alat pencernaan, bahan makanan diuraikan menjadi berbagai zat gizi. Zat gizi ini akan diserap melalui dinding usus dan masuk ke dalam cairan tubuh. Di dalam jaringan zat-zat gizi memenuhi fungsinya masing-masing seperti sumberenergi, menyokong pertumbuhan badan, memelihara jaringan tubuh yang rusak atau aus terpakai, mengatur metabolisme, pertahanan tubuh terhadap penyakit.
        Penelitian mengenai status makanan dan nutrisi menunjukkan bahwa banyak individu diatas 65 tahun seringkali mengkonsumsi  makanan yang tidak adekuat dan beberapa makanan cenderung menyebabkan defisiensi nutrisi.  Pada zaman dahulu, malnutrisi merupakan penyebab utama kematian lansia.
        Kebutuhan kalori lansia biasanya berkurang karena basal metabolik rate (BMR) mereka menurun akibat penurunan massa otot dan penurunan aktifitas fisik.  Dengan berkurangnya asupan nutrisi maka kualitas makanan harus diperhatikan.  Berkurangnya asupan kalori menyebabkan konsumsi  kalsium, zat besi, dan zinc seringkali juga tidak cukup,  padahal terkadang terjadi peningkatan kebutuhan kalori dan protein akibat stress yang berhubungan dengan demam, trauma, pembedahan, atau penyakit. 
        Rendahnya kebutuhan energi pada lansia akibat aktifitas yang berkurang dan pola makan yang tidak berubah sering menyebabkan obesitas. Pasien perlu dimotivasi untuk meningkatkan aktifitas fisik agar memungkinkan peningkatan asupan kalori, dengan begitu dapat mengontrol keseimbangan nutrisi serta berat dan komposisi tubuh.
        Intake cairan yang tidak adekwat pada lansia dapat menyebabkan dehidrasi dan diasosiasikan pada masalah seperti hipotensi, peningkatan temperatur tubuh, mucosa yang kering, penurunan jumlah urine dan mental confusion. Hilangnya rasa haus sering timbul pada saat proses penuaan, karena itu intake cairan pada lansia harus dimonitor, terutama bila timbul gejala seperti demam, infeksi atau pada saat udara panas. Intake cairan setidaknya sebesar 30 ml per kg berat badan per hari.
         Status kesehatan gigi memegang peranan penting pada kesehatan dan asupan nutrisi lansia. Masalah pengunyahan akibat gangguan dalam rongga mulut atau kehilangan gigi yang menurunkan kemampuan mengunyah akan menurunkan selera makan. Penelitian membuktikan bahwa kehilangan gigi yang banyak akan menyebabkan pasien sedikit mengkonsumsi sayuran, serat, serta β - karotin dan lebih banyak mengkonsumsi kolesterol, kalori, dan lemak jenuh.
         Pada pasien dengan kehilangan gigi yang banyak, penggantian gigi yang hilang dengan gigi tiruan cekat atau gigi tiruan lepas bertujuan untuk meningkatkan fungsi pengunyahan. Gigi tiruan yang baik sangat berperan penting untuk mendapatkan status nutrisi yang optimal bagi lansia. Oleh karena itu, pembuatan gigi tiruan harus dengan perencanaan yang baik dan memperhatikan fungsi mastikasi. Instruksi mengenai pemilihan diet yang baik harus menjadi bagian dari rencana perawatan bagi pasien pengguna gigi tiruan. Untuk pasien yang baru memakai gigi tiruan, pasien dianjurkan untuk mengunyah melalui tiga tahap, yaitu mengigat dan memotong, mengunyah, kemudian menelan.  

Kesimpulan
       Dengan meningkatnya populasi lansia, dokter gigi harus dapat memahami kebutuhan-kebutuhan mereka. Kesehatan rongga mulut, sama halnya dengan kesehatan seluruh tubuh sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi. Resiko malnutrisi pada lansia dipengaruhi oleh intake makanan yang berkurang, perubahan fisiologik (proses penuaan), faktor ekonomi dan sosial, keadaan rongga mulut dan interaksi obat dengan nutrient. Lansia membutuhkan diet yang mencukupi kebutuhan nutrisi yang disarankan agar dapat menjaga atau meningkatkan status nutrisinya. Kesehatan rongga mulut dan gigi juga berpengaruh dalam menjaga status nutrisi lansia. Bagi lansia, dokter gigi sangat berperan dalam menjaga dan merawat kesehatan gigi dan mulut mereka sehingga didapatkan fungsi kunyah yang optimal. Dengan adanya fungsi kunyah yang optimal maka kebutuhan nutrisi dari pasien akan lebih mudah tercukupi. Dengan tercukupinya kebutuhan nutrisi maka kualitas hidup dari para lansia juga akan meningkat.

 

{oleh : drg. Albertus Fredi S.Sp.Pros}

 

*Dimuat oleh Majalah Kasih edisi 40 (OKTOBER_DESEMBER 2014)
 

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar