OBAT PENGHILANG RASA SAKIT

OBAT PENGHILANG RASA SAKIT

Obat penghilang rasa sakit biasa disebut analgetik, yaitu obat yang digunakan untuk menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri pada seseorang. Nyeri pada tubuh tidak boleh diremehkan. Pendeteksian penyebab nyeri harus dilakukan dengan cermat karena bebas nyeri adalah hak asasi manusia.

 

      Nyeri adalah suatu perasaan sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan, nyeri dapat timbul atau berhubungan dengan kerusakan organ tubuh. Nyeri adalah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan. Intensitas nyeri merupakan gambaran seberapa parah nyeri yang dirasakan seseorang. Pengukuran intensitas nyeri sangat subyektif dan individual, sebab perasaan nyeri antara seorang dengan yang lain berbeda dalam skala atau tingkatannya dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau melakukan evaluasi terhadap nyeri.
    Nyeri akut terjadi secara tiba-tiba dan umumnya berkaitan dengan cedera spesifik. Nyeri akut menandakan adanya kerusakan dan cedera yang telah terjadi. Hal ini menunjukan bahwa nyeri ini benar terjadi dan mengajarkan kepada kita untuk menghindari situasi serupa yang secara potensial menimbulkan nyeri. Jika kerusakan tidak lama terjadi dan tidak ada penyakit sistemik, nyeri akut biasanya menurun sejalan dengan terjadi penyembuhan. Nyeri akut terjadi tidak lebih dari enam bulan dan biasanya kurang dari satu bulan.
    Nyeri kronik adalah nyeri yang menetap sepanjang suatu periode waktu. Nyeri ini berlangsung di luar waktu penyembuhan yang diperkirakan dan sering tidak dapat dikaitkan dengan penyebab atau cedera spesifik. Nyeri kronis mempunyai awitan yang tidak jelas dan sering sulit untuk diobati karena biasanya nyeri ini tidak memberikan respon yang baik terhadap pengobatan pada penyebabnya.

Proses terjadinya nyeri
    Reseptor nyeri terletak pada ujung-ujung saraf yang ditemukan hampir pada setiap jaringan tubuh. Impuls nyeri dihantarkan ke sistem saraf pusat melalui serabut saraf. Impuls tersebut  menghasilkan persepsi nyeri yang jelas, tajam dan terlokalisasi atau dapat pula menghasilkan persepsi samar-samar, rasa pegal dan perasaan tidak enak.

Pengukuran nyeri
    Intensitas nyeri dapat diukur dari tanda-tanda karakteristik yang ditimbulkan, pada nyeri ringan umumnya memiliki gejala yang tidak dapat terdeteksi, biasanya diungkapkan oleh pasien. Nyeri sedang dapat memiliki tanda meningkatnya frekuensi pernafasan, peningkatan tekanan darah, dan dilatasi pupil. Pada nyeri berat, wajah pasien dapat berubah pucat, keringat dingin, otot mengeras, penurunan frekuensi nafas, perubahan tekanan darah, kelelahan dan keletihan.
    Penilaian nyeri meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pengukuran nyeri secara obyektif dengan menggunakan perangkat khusus. Pada anamnesis, pasien diminta menjelaskan daerah mana yang paling nyeri, berlangsung terus menerus atau hilang timbul. Bagaimana intensitas rasa nyeri dan kualitas nyeri apakah seperti terbakar, perih atau tertusuk. Kapan awitan terjadinya nyeri serta faktor yang memperberat dan memperingan nyeri. Selain itu juga perlu ditanyakan dampak nyeri terhadap aktivitas sehari-hari atau keluhan lain yang menyertai nyeri.
    Pemeriksaan fisik dilakukan dengan perhatian khusus pada sistem otot dan saraf serta lokasi nyeri. Sementara untuk pengukuran nyeri secara obyektif diperlukan untuk mendeteksi perubahan intensitas nyeri secara kuantitatif dengan tepat sehingga dapat dipakai sebagai pedoman dalam memberikan terapi. Pengukuran intensitas nyeri dilakukan dengan tingkatan nyeri secara skala verbal yaitu tidak nyeri, sedikit nyeri, nyeri sedang dan nyeri berat dengan skala 0 sampai 10.

Faktor yang mempengaruhi nyeri
    Nyeri dipengaruhi oleh banyak hal, pengalaman nyeri pada seseorang membentuk persepsi yang sangat subyektif, dapat memiliki arti negatif dan reaksi seseorang terhadap nyeri tersebut dapat berupa perasaan takut, gelisah, cemas atau menangis. Toleransi terhadap nyeri berhubungan dengan adanya intensitas nyeri dan kemampuan seseorang menahan nyeri, beberapa faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan toleransi nyeri seperti alkohol, obat-obatan, hipnosis, dan pengalihan perhatian.
Faktor yang memperberat dan memperingan nyeri seperti gerakan, posisi dan pengerahan tenaga. Efek nyeri terhadap aktivitas kehidupan sehari-hari dapat mengganggu tidur, bergerak, dan berpengaruh terhadap nafsu makan.

Menghilangkan rasa nyeri
    Salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk menghilangkan nyeri adalah dengan meminum obat. Analgetik yaitu obat yang dapat meredakan rasa sakit. Obat ini banyak sekali macamnya, secara garis besar dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu analgetik narkotik dan analgetik non narkotik.
    Analgetik narkotik merupakan obat yang memiliki sifat opium. Bentuk sediannya ada yang berupa tablet ataupun injeksi, misalnya morfin. Analgetik ini digunakan untuk menghilangkan nyeri hebat, misalnya pada serangan jantung akut atau pada penyakit kronis seperti kanker stadium lanjut. Obat ini mungkin dapat menimbulkan ketergantungan namun apabila diberikan sesuai anjuran dokter, ketergantungan bisa dihindarkan.
    Analgetik non narkotik sering dikenal dengan istilah analgetik perifer, dimana pada kelompok ini terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan dapat menghilangkan nyeri ringan ataupun sedang. Penggunaan obat ini mampu meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem saraf pusat dan tidak menurunkan tingkat kesadaran. Obat analgetik non narkotik ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna apabila digunakan dengan bijaksana. Yang termasuk obat golongan ini misalnya paracetamol, asam mefenamat, natrium diclofenak dan antalgin. Obat tersebut bekerja dengan memblokir pelepasan mediator nyeri sehingga reseptor nyeri tidak menerima rangsang nyeri.
    Setiap obat belum tentu bebas dari efek samping, obat analgetik dapat menimbulkan efek samping apabila digunakan secara berlebihan atau tidak sesuai dengan anjuran dokter. Efek yang muncul bisa ringan seperti mual dan gangguan pencernaan, efek yang berat bila digunakan dalam waktu lama dan dosis yang besar dapat menyebabkan perdarahan lambung, kerusakan hati dan ginjal. Untuk mengurangi efek samping dari masing-masing obat terkadang dokter mengkombinasikan dua macam obat dengan dosis yang kecil, misalnya kombinasi paracetamol dengan kofein, kodein atau dengan tramadol. Sebaiknya konsultasikan kepada dokter apabila minum obat anti nyeri, bagaimana memilih obat anti nyeri yang sesuai dengan kondisi penyakit pasien.
    Selain obat adalagi jenis terapi yang dapat mengurangi nyeri yaitu TENS (Transcutaneous Electric Nerve Stimulation). TENS merupakan modalitas untuk mengurangi nyeri dengan menggunakan terapi listrik. Sasaran utama penggunaan TENS adalah mengurangi nyeri sehingga maksud dan tujuan terapi ini harus dijelaskan kepada pasien sebelum memberikan terapi. TENS dapat mengurangi nyeri melalui pelepasan opioid endogen di susunan saraf pusat. TENS menunjukkan hasil yang cukup baik dan aman. Terapi ini dapat dilakukan di RS. Panti Wilasa         “Dr. Cipto” di bagian fisioterapi dan rehabilitasi medik. Untuk meningkatkan efektifitas dari penggunaan modalitas TENS ini perlu kerjasama antara fisioterapis dan pasien. Sebelum melakukan terapi ini anda dapat berkonsultasi dengan dokter atau fisioterapis di RS. Panti Wilasa “Dr. Cipto”.
    Pendekatan psikologis untuk pengendalian nyeri seringkali menjadi modalitas yang penting ketika modalitas terapi dan obat tidak banyak membantu misalnya pada pasien yang telah diberikan berbagai macam obat nyeri tetapi tidak ada perubahan. Psikoterapi dinilai sangat membantu pasien-pasien dengan gangguan nyeri non-organik dengan melakukan perubahan kognitif tentang rasa nyeri yang dialami pasien. Psikoterapi sangat membantu apalagi pada pasien dengan gangguan nyeri yang terkait dengan somatoform dimana persepsi nyeri pasien yang sering kali berlebihan dan tidak sesuai dengan kondisi organiknya.

 

{oleh : dr. Titi Somahita}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 46 (APRIL-JUNI 2016)

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar