Logo

ODHA, SIAPA TAKUT

aids
ODHA, SIAPA TAKUT

Di Indonesia pada umumnya dan di Semarang pada khususnya penderita HIV dan AIDS semakin lama semakin banyak kita  jumpai.

 

     Di antara kita masih banyak yang takut berdekatan dengan  penderita ini, takut kalau dekat bisa ketularan, bahkan di antara tenaga kesehatanpun masih banyak yang phobi terhadap pasien ini. Menurut pengalaman penulis penderita HIV-AIDS ini sangat beragam, mulai yang memang profesinya adalah PSK, sampai ibu rumah tangga yang tidak  ada faktor resiko kecuali ketularan dari suami, anak-anak ( paling kecil usia 2 th) yang ketularan dari orang tuanya, sampai ada yang berprofesi pegawai, guru, karyawan , aparat yang semuanya belum tentu karena kesalahan mereka tetapi bisa karena ketularan dari pasangannya. Orang cenderung untuk memvonis jelek bagi penderita HIV-AIDS sebagai kelompok yang berperilaku tidak  baik dan cenderung untuk menjauhi mereka. Penderita HIV yang ada disekitar kita memang sebagian besar penularannya adalah melalui perilaku seksual yang menyimpang termasuk yang suka  jajan, tetapi akhir-akhir ini cukup banyak yang terbukti penularannya melalui penderita ketergantungan obat lewat suntikan. Kelompok pecandu obat bius ini biasanya mereka memakai jarum suntik secara bergantian sehingga kalau ada yang terkena HIV, sangat mudah menularkan kepada sesama temannya.
    Seberapa mudah HIV ini menular?  Bagi yang menular lewat jarum diperkirakan 1 : 150 suntikan intra vena  artinya kalau ada seorang penderita HIV, dan memakai jarum suntik resiko menularkannya adalah  satu orang setiap 150 suntikan dari penderita yang ada HIV nya.  Bagi yang suntikan percutan ( intra muscular atau subkutis ), resiko penularannya 1 setiap 300 suntikan. Untuk yang berperilaku seksual menyimpang, resiko penularan 1 setiap 300 – 1000 receptive anal intercourse dan resiko penularan bagi receptive vaginal intercourse dan satu setiap 1000 – 3000 dengan insertive vaginal intercourse dan untuk insertive anal intercourse penularannya adalah satu setiap 3000. Resiko tersebut akan semakin meningkat dengan kandungan virus dalam darahnya. Kandungan virus dalam darah berbanding terbalik dengan kadar CD4 darah pasien.
   Hal tersebut diatas memberikan pemahaman bagi kita bahwa penderita HIV yang masih sehat berarti CD4 masih tinggi, artinya kandungan virus dalam darahnya tidak  terlalu tinggi, sehingga daya tularnya kurang kuat dibandingkan dengan pasien yang datang dirumah sakit dalam keadaan berat dimana CD4 nya rendah, yang berarti kandungan virusnya dalam darah juga tinggi, sehingga daya tularnya juga tinggi. Namun sekali lagi yang menular adalah darahnya, bukan keringatnya, bukan pakaiannya, bukan alat-alat makannya.  Semua cairan tubuh yang diduga mengandung darah perlu diwaspadai agar tidak menular.
   Pasien biasanya masuk  rumah sakit sudah masuk stadium IV  yang kita kenal dengan stadium AIDS. Pada stadium ini biasanya sudah berat, dengan infeksi yang berat seperti  radang paru, diare kronik, jamur rongga mulut sampai kerongkongan, infeksi toksoplamosis otak, TBC paru yang luas. Angka harapan hidup pada stadium ini adalah 1 – 2 th, dan biasanya pasien meninggal karena infeksi yang berat atau  radang otak karena toksoplasma. Penderita HIV dari stadium satu bisa mencapai stadium empat dibutuhkan waktu  5 – 10 tahun. Sehingga dengan obat anti virus yang ada saat ini, semestinya pasien HIV stadium satu dan dua kalau bisa menjaga kesehatannya bisa hidup lama, dan bahkan bisa sampai usia tua.
      Bagaimana agar kita yang bekerja di rumah sakit tidak sampai terpapar kuman HIV ini? Pada dasarnya kita perlu berhati-hati dengan darah pasien, atau  cairan tubuh yang mengandung darah. Untuk  itu setiap pasien yang dicurigai menderita  HIV harus  ada kesepakatan diantara tenaga medis yang sering berhubungan dengan darah dan cairan tubuh, seperti perawat, dokter yang merawat, petugas laborat, petugas kamar operasi, dokter gigi, dan petugas kamar jenasah,  bagaimana cara mengenali pasien ini tanpa orang lain tahu, misalnya dengan kode atau label  warna tertentu yang hanya diketahui oleh petugas bersangkutan. Diperlukan protap yang bisa melindungi petugas yang melayani pasien ini sehingga bisa memperlakukan pasiennya dengan tingkat keamanan yang tinggi. Kesepakatan internasional yang ada pada saat ini kita tidak diperkenankan melakukan diskriminasi terhadap pasien HIV-AIDS sehingga tidak boleh mengisolasi mereka. Yang kita perlukan adalah  kesamaan persepsi bagaimana kita memperlakukan pasien ini dengan tingkat kehati-hatian yang maksimal ( General Precaution ), sehingga virusnya tidak menular pada petugas. Protap juga diperlukan pada perawatan jenasah pasien, karena biasanya pasien yang meninggal karena AIDS, kandungan virus dalam darahnya sangat tinggi, sehingga dalam perawatan jenasah di rumah sakit diperlakukan secara khusus, jenasahnya dibungkus plastik  dan tidak  boleh dibuka lagi sampai pemakaman.  
       Pada dasarnya penderita HIV pada saat ini bisa hidup secara wajar kalau mau melaksanakan semua petunjuk dari dokter. Dia bisa berkeluarga , bisa mempunyai  anak tanpa menularkan penyakitnya pada isteri, suami dan anak-anaknya, kalau semua nasehat dokter ditaati. Obat anti virus yang ada saat ini, memang tidak bisa menyembuhkan 100%, tetapi bisa menekan pertumbuhan virus sampai serendah-rendahnya, sampai kandungan virus dalam darah tidak terdeteksi, tetapi obat ini harus diminum seumur hidup. Pemerintah melalui program  VCT telah menyalurkan obat-obat anti virus HIV tersebut secara cuma-cuma, bahkan tes darah untuk  HIV pun bisa diperoleh secara cuma-cuma di klinik VCT tersebut. Sehingga bagi setiap orang yang merasa was-was apakah dirinya mengandung virus HIV atau tidak baik karena pengalaman seksual yang tidak aman dimasa lalu, atau ada anggota keluarga yang tertular  virus  HIV bisa melakukan pemeriksaan dini di klinik VCT secara cuma-cuma.
       Bagi petugas rumah sakit memang diperlukan pemahaman yang lebih terhadap kasus ini, agar  tingkat pengetahuannya terhadap penyakit ini semakin meningkat, kemampuan melindungi diri semakin baik melalui gerakan General Precaution, dan bisa menolong penderita secara professional tanpa takut tertular penyakitnya.
       Pasien HIV-AIDS adalah  sesama kita, mereka  juga ciptaan Tuhan, dan belum tentu karena kesalahan mereka, mereka menderita penyakit ini. Namun apapun latar belakangnya, mereka berhak mendapatkan pelayanan yang baik, perawatan yang baik, bahkan pendampingan sampai ajal menjemput mereka. Mereka berhak mendapatkan pelayanan kasih kita, dan kita wajib mengasihi mereka dengan kasih yang tulus sesuai moto rumah sakit Kristen, sekaligus kita bisa melindungi diri kita sendiri jangan sampai kita tertular penyakit ini karena kecerobohan kita. Sekali lagi pasien HIV-AIDS  adalah obyek untuk pelayanan kasih kita.

 

{oleh : Dr. Subroto PH, Sp.PD., M.Kes.}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 20 (OKTOBER-DESEMBER 2009)

Tentang Penulis

Patricia Putri

patricia putri

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next BELAJAR MENJADI PASANGAN SAAT PERMASALAHAN MENGHANDANG

Tinggalkan Komentar