Logo

PENDAMPINGAN SPIRITUAL BAGI PENDERITA STROKE

pendamping stroke
PENDAMPINGAN SPIRITUAL BAGI PENDERITA STROKE

Penderita stroke mengalami beban hidup yang berat, baik secara fisik maupun mental.  Beban fisik karena penderita mengalami rasa sakit dan ketidakseimbangan tubuh,  yang membuat aktifitas  dan rutinitas mengalami kendala bahkan terhenti. Beban mental disebabkan penderita merasa  hidupnya tidak berarti.  Ketidak- mampuan penderita dalam melakukan aktivitas mengakibatkan adanya perasaan putus asa bahkan kehilangan harapan hidup.

 

     Seorang penderita stroke tentunya harus mengikuti terapi, menjaga pola makan, olah raga dan pemeriksaan medis secara teratur, untuk mengantisipasi agar penyakit yang diderita tidak semakin parah, dan diharapkan mencapai kesembuhan / perkembangan kesehatan yang lebih baik. Selain itu penting sekali kita perhatikan bahwa pendampingan spiritual bagi para penderita stroke sangat diperlukan. Melalui tahap ini diharapkan terjadi  proses kesembuhan dari dalam batin si penderita.
    Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pendampingan spiritual.

  1. Menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan melalui doa.
        Pendekatan yang harmonis dan kepasrahan kepada Tuhan sangat diperlukan bagi penderita. Keyakinan  dan kepercayaan bahwa Tuhan sangat mengasihi mereka  perlu ditanamkan dalam diri penderita. Melalui doa setiap manusia dapat mencurahkan segala isi hati dan kerinduannya kepada Tuhan sehingga tumbuh iman dan harapan yang baru yang senantiasa dihidupkan dalam diri penderita. Doa melampaui kemustahilan dalam diri manusia “Tiada yang mustahil bagi Tuhan” dan membiarkan kehedakNya terjadi dalam hidup kita.     
  2. Ciptakan perasaan gembira dalam diri penderita
        “Hati yang gembira adalah obat”,  perasaan gembira / senang dapat menjadi obat bagi penderita stroke,  karena dengan perasaan ini membuat semangat dan kekuatan dari dalam penderita untuk bangkit dari penderitaan. Perasaan ketidakmampuan dan tidak berguna dapat dikikis dengan suatu suasana yang mendatangkan penderita merasa bahagia. Hargailah dan pujilah setiap apapun yang dapat dilakukan oleh pasien sekalipun itu masalah yang sepele, sebab dari penghargaan yang didapatkan penderita akan berusaha untuk dapat melakukan sesuatu yang lebih.
        Berikan pemahaman kepada  penderita saat mereka gagal melakukan satu tindakan,  bahwa orang yang sehat saja juga dapat melakukan kegagalan dan jangan mencela  kegagalan yang terjadi pada diri penderita, tetapi berikan motivasi secara terus menerus sehingga timbul perasaan bahagia dalam diri penderita. Disini peran dan kesabaran dari seorang pendamping sangat diperlukan.
  3. Mengucap syukur.
        “Mengucap syukurlah senantiasa di dalam Tuhan” rasa syukur atas setiap keadaan yang dialami oleh penderita mendatangkan ketabahan dan keikhlasan untuk menghadapi semua persoalan yang terjadi dalam diri penderita. Banyak hal yang dapat disyukuri dalam hidup ini sekalipun dalam keadaan sakit dimana Tuhan masih mengijinkan kita untuk menjalani kehidupan dan  menjadi berkat dengan apa yang dapat kita lakukan (berdoa untuk sesama dll).  Rasa syukur menepis perasaan putus asa.
  4. Bersosialisasi dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar
        Bersosialisasi dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar sangat dibutuhkan bagi penderita sehingga penderita tidak merasa diasingkan tetapi penderita dapat menjalankan kehidupannya secara wajar. Peran keluarga disini sangat menolong penderita untuk menjalankan rutinitas kehidupan sehari-hari, ajaklah penderita untuk mendiskusikan masalah-masalah yang ringan dalam keluarga dan hargailah apapun yang menjadi ide-ide atau gagasannya. Hal ini diperlukan untuk mengasah kemampuan bersosialisasi dan berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya, terutama keluarga.      Untuk keperluan kerohanian, sekiranya penderita sudah tidak dapat bepergian mintalah tolong kepada pendeta / hamba Tuhan untuk memberikan pelayanan secara rutin (sharing, melakukan pelayanan yang lain seperti yang biasa diterima dalam peribadahan).
        Hindari keadaan yang membuat penderita terasing, misalkan  dengan menempatkan dikamar yang paling sepi jauh dari aktifitas kehidupan sehari-hari. Hal tersebut akan membuat penderita semakin menderita dan memperparah penyakit yang dialami.  
  5. Refreshing
        Untuk menghilangkan kejenuhan , penderita dapat diajak untuk refreshing agar penderita dapat melepaskan segala kejenuhan yang terjadi dalam rutinitasnya sehari-hari.  Ajaklah ke tempat-tempat yang meneduhkan dan melegakan penderita.
  6. Semangat menatap hidup
        Sikap optimisme dalam diri penderita untuk menghadapi kehidupan sangat diperlukan dalam proses kesembuhan, “semangat yang padam dalam menghadapi kehidupan akan mengeringkan tulang”.   Keinginan untuk tetap dapat hidup membangkitkan semangat untuk menggapai kesembuhan, ajarlah penderita untuk berpikir yang positif dalam keadaan apapun dan kurangilah keluhan-keluhan dalam hidup.    “PERBANYAK SYUKUR DAN KURANGI KELUHAN” .


Kiranya Tuhan memberkati kita semua.
kunjungi kami di Rumah Pendampingan Penderita Stroke(RPPS).blogspot.com

 


{oleh : Ninik Wahyuningrum, S.Th}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 24 (OKTOBER-DESEMBER 2010)

Tentang Penulis

Patricia Putri

patricia putri

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next FORIL MEDIS : PROBIOTIK PADA GENIKOLOGI

Tinggalkan Komentar