Logo

PENGARUH DIAPERS PADA BAYI

PENGARUH DIAPERS PADA BAYI

     Dok, mau tanya kalo anak saya dari lahir hingga 3 bulan ini memakai diapers apa ada pengaruh/efek sampingnya baik secara psikis atau kulit?

     Pemakaian diapers (popok sekali pakai) untuk bayi/anak memang saat ini sudah menjadi hal yang umum. Praktis, sekali pakai. Sekali basah atau kotor langsung dibuang, ganti baru. Masalah akan timbul apabila ketika diapers sudah basah oleh keringat, air kencing atau basah dan kotor oleh karena bayi buang air besar, tidak segera diganti. Maka akan berpotensi terjadinya ruam popok, yang merupakan pengaruh/efek samping pemakaian diapers pada kulit, khususnya yang tertutup oleh popok. Ruam popok ini bisa terjadi sebagai akibat dari beberapa keadaan yang saling berinteraksi. Keadaan atau kondisi-kondisi tersebut bisa berupa:
     Kelembaban kulit yang sangat meningkat. Ini karena pemakaian diapers akan menghambat penguapan air.  Apalagi bila memakainya terlalu ketat. Akibanya kulit mengalami maserasi (jawa: medhok), sehingga fungsi sawar kulit terganggu. Dalam keadaan meserasi, akan mempermudah terjadinya trauma (lecet karena gesekan antara kulit dan diapers). Gesekan-gesekan ini akan menyebabkan rusaknya lapisan terluar epidermis (stratum korneum), yang ditandai dengan warna kulit yang memerah dan nyeri bila tersentuh/waktu diceboki. Kerusakan stratum korneum ini akan memudahkan tumbuhnya mikroorganisme, yang akan memperparah ruam popok itu sendiri.
     Kerusakan kulit karena iritan. Bahan-bahan yang bisa menjadi iritan kulit bisa berasal dari feses, urin, atau bahan popok itu sendiri. Feses mengandung berbagai sisa enzim pencernaan dan enzim yang diproduksi oleh bakteri dalam usus. Enzim-enzim ini merupakan bahan iritan kuat pada kulit. Urin, selain meningkatkan hidrasi/kelembaban kulit, juga akan menyebabkan kerusakan karena peningkatan pH (derajat keasaman) sebagai hasil dari interaksi antara urine dan enzim-enzim dalam feses.
     Pengaruh psikis akibat pemakaian diapers tidak banyak diketahui; apalagi pada bayi umur 3 bulan. Tetapi pemakaian diapers yang dilakukan sepanjang hari ataupun dimalam hari, terutama sampai umur seorang anak seharusnya belajar untuk bisa menyampaikan keinginanya untuk buang air kecil atau buang air besar, maka akan menghambat masa “toilet trainning” pada anak. Sehingga pada saat seorang anak seharusnya sudah tidak ngompol atau ngobrok, masih ngompol dan ngobrok karena sudah terbiasa kalau pipis dan berak bisa langsung dalam diapers, tanpa perlu bilang kepada orang disekitarnya, atau minta pipis dan berak di toilet. Sementara  orang tua merasa “tenang”, toh kalau pipis atau berak tidak akan mengotori lantai atau kasur, karena sudah memakai diapers. Orang tua juga bisa tidur nyenyak, tidak perlu mengganti celana dan nyeboki ditengah malam, saat enak-enaknya tidur. Anak juga tenang-tenang saja kencing dan berak dengan cara seperti itu dari hari ke hari. Inilah satu dampak negatif dari pemakaian diapers. Maka sebaiknya pada saat anak sudah bisa diberi tahu untuk bisa bilang bila mau pipis atau berak (biasanya saat umur 18 – 24 bulan), ajarkan untuk berak dan pipis di toilet. Juga pada saat tidur malam, ketika ada rasa mau pipis, diajarkan untuk mau turun dari tempat tidur, dan pipis di toilet.

Selamat siang dok,
Saya mau tanya tentang anak saya yang berusia 2 tahun, terdapat luka di kaki akibat digaruk. Sampai 4 bulan ini luka tersebut tak kunjung sembuh. Sempat pula dikonsultasikan ke dokter kulit dan diberi salep, memang langsung kering lukanya, tapi muncul luka baru lagi karena digaruk; lebih-lebih pada waktu tidur secara tidak sadar menggaruk luka tersebut. Gimana cara mengatasinya dok. Terima kasih.

     Dalam proses penyembuhan luka pada kulit, diperlukan waktu yang cukup untuk memberi kesempatan sel-sel kulit beregenerasi, yang ditandai dengan ukuran luka yang semakin mengecil dan rasa sakit yang berkurang. Apabila luka yang baru dalam proses penyembuhan mengalami kerusakan lagi akibat trauma berulang (karena garukan, benturan, dll), maka akan menjadi luka kronis, yang akan semakin memperlama penyembuhannya. Untuk mengatasi masalah pada anak anda akibat kebiasaan menggaruknya, ada beberapa cara dan kebiasaan yang harus diperhatikan. (1). Biasakan sebelum tidur untuk cuci kaki dan tangan dengan sabun. Karena selama bermain, pasti ada banyak kotoran  yang menempel pada kaki anak yang akan menimbulkan rangsangan pada kulit yang menimbulkan rasa gatal. (2). Potong kuku tangan anak secara teratur, sehingga tidak panjang, dan tidak melukai kulitnya ketika dipakai untuk menggaruk. Penting untuk diperhatikan juga, setelah selesai dipotong, permukaan ujung kuku harus dihaluskan dengan kikir kuku, yang biasanya tersedia jadi satu dengan alat pemotong kuku, agar tepinya tidak tajam. (3). Mungkin diperlukan obat-obat penghilang gatal, agar anak tidak menggaruk-garuk ketika tidur, sebagai akibat rasa gatal yang mengganggunya.          Untuk ini anda perlu konsultasi ke dokter. (4). Bila perlu tutup luka dengan kasa, untuk mencegah trauma garukan selama tidur; sehingga bisa mencegah terjadinya luka berulang pada tempat luka yang dalam proses penyembuhan. **

 

{oleh : Dr. Sedyo Wahyudi, Sp.A}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 16 (OKTOBER-DESEMBER 2008)

Tentang Penulis

Patricia Putri

patricia putri

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next PENYEBAB SAKIT KEPALA DAN DM

Tinggalkan Komentar