PHACO-EMULSIFICATION : HABIS BURAM, TERBITLAH TERANG BYE-BYE KATARAK

PHACO-EMULSIFICATION : HABIS BURAM, TERBITLAH TERANG BYE-BYE KATARAK

 Ketika pandangan mulai rabun dan kaca mata pun tetap tidak membantu lebih jelas, kita sudah harus waspada. Karena gejala yang disebut di awal, adalah tanda-tanda kita terkena katarak. Pada penderita katarak, cahaya yang memasuki mata, terhalang oleh lensa mata yang keruh sehingga pandangan mata terganggu. Biasanya operasi jadi solusi, meski banyak yang enggan karena “ketakutan”  terjadi apa-apa dengan matanya pasca operasi.

 

    Dunia kedokteran yang berkembang, memunculkan banyak inovasi baru. Salah satu yang bakal menyenangkan penderita katarak adalah teknik phaco-emulsification. Kalau Anda pusing dengan bahasa 'aneh' itu, kami akan jelaskan dengan sederhana. Kira-kira begini: teknik itu adalah operasi pengangkatan katarak dengan menggunakan alat yang menghasilkan gelombang ultrasound untuk menghancurkan [atau emulsifikasi] dan mengeluarkan lensa katarak pada saat yang bersamaan. Masih terbaca nggegirisi?  Rileks saja, karena setelah operasi, Anda dapat beraktifitas kembali tanpa penutup mata.
    Sebelum masuk lebih jauh, baiklah kita pahami dulu apa sebenarnya katarak itu. Dari banyak sumber, katarak adalah lensa mata yang menjadi keruh, sehingga cahaya tidak dapat menembusnya. Kekeruhan pada katarak bervariasi sesuai tingkatannya dari sedikit sampai keburaman total. Katarak sangat berkaitan dengan usia. Ketika usia seseorang memasuki usia 40 tahun, lensa mata mulai mengeras, mencembung dan buram. Hal inilah yang mengakibatkan penderita katarak awal mengalami rabun jauh (myopia), mudah silau dan persepsi warna biru berkurang. Katarak yang diakibatkan proses penuaan biasanya berlangsung perlahan. Hilangnya penglihatan akan timbul sedikit demi sedikit sampai akhirnya jika katarak sangat tebal akan mengakibatkan kebutaan. Kondisi ini biasanya mempengaruhi kedua mata, tapi hampir selalu satu mata dipengaruhi lebih awal dari yang lain.
    Kata katarak berasal dari bahasa Latin – cataracta yang berarti air terjun, karena orang yang menderita katarak mempunyai penglihatan yang kabur seolah-olah dibatasi oleh air terjun. Kekeruhan lensa ini biasanya mengenai salah satu atau kedua mata dan tampak kekeruhan lensa yang mengakibatkan lensa tidak transparan, sehingga pupil akan berwarna putih. Walau demikian, jika katarak telah mengenai satu mata tidak berarti akan menularkan ke mata yang lain. Selain karena proses usia, katarak dapat diakibatkan oleh paparan sinar UV (Ultra Violet-red) berlebihan, penggunaan obat-obatan terlalu lama, infeksi mata, komplikasi diabetes mellitus ataupun benturan (trauma) pada mata. Oleh karena itu, katarak tidak hanya diderita orang tua, tetapi dapat juga mengenai usia muda bahkan bayi baru lahir. Meski bukan penyakit yang membahayakan jiwa, tapi katarak dapat mengakibatkan komplikasi glaukoma yang berakibat nyeri pada mata.
    Dari beberapa data literatur yang berhasil Majalah KASIH kumpulkan, katarak merupakan penyebab utama kebutaan di dunia.Di Indonesia, katarak menjadi penyebab kebutaan tertinggi kedua. Dan yang paling menyedihkan, Indonesia adalah negara nomor dua dengan tingkat kebutaan tertinggi di dunia setelah Ethiopia. Padahal, dengan penanganan yang benar, katarak adalah penyebab kebutaan yang dapat diatasi, berbeda dengan penyebab kebutaan yang lain.    
    Penanganan penyakit karatak ini dapat dilakukan dengan tindakan operasi atau pembedahan. Namun, jangan takut, tindakan operasi yang dilakukan termasuk tindakaan operasi ringan atau sederhana. Apalagi saat ini ada metode operasi yang terbaru dengan menggunakan alat phaco-emulsifisation.

“Prinsip kerja phaco-emulsification, adalah
mengembalikan penglihatan karena katarak dengan cara yang nyaman dan aman.”

    Lahirnya teknik phaco-emulsification tentu jadi angin segar untuk penderita katarak. Di RS Panti Wilasa “Dr.Cipto” teknik ini sudah digunakan dengan alat yang canggih.     Menurut dr. Santi Wuriyani Sp.M, salah satu dokter mata di RS Panti Wilasa “Dr. Cipto”, prinsip kerja phaco-emulsification adalah menghancurkan lensa melalui ultrasonic probe yang mempunyai jarum yang mampu bergetar dengan frekuensi sangat tinggi yaitu setara dengan frekuensi gelombang ultrasound. Energi ultrasound akan digunakan untuk mengemulsifikasi katarak pada lensa yang berukuran 10 mm sehingga dapat diaspirasi melalui luka operasi sepanjang 2,2 mm - 2,7 mm.
    Getaran ini dikendalikan oleh sebuah mesin yang mengontrol masuknya aliran cairan ke mata. Keseluruhan sistem ini penting untuk membuat mata stabil dan cukup tekanannya sehingga dokter bisa membedah dengan aman dan efisien.  Setelah lensa dihancurkan dengan getaran ultrasound 40-60 ribu/menit, maka lensa akan diaspirasi atau disedot ke dalam kaset. Sehingga, lensa akan bersih dengan irisan yang cukup kecil antarra 2.2 mm hingga 2.75 mm.
    “Dengan metode operasi ini, mata tidak perlu dijahit, sehingga pasien bakal merasa nyaman, proses penyembuhan cepat, risiko infeksi minimal, bahkan ada kemungkinan mereka yang tadinya menggunakan kacamata tidak perlu lagi memakainya,” Selama proses operasi, pasien akan diberi bius lokal pada mata. Selain itu, pasien harus berada dalam kondisi tenang, tidak boleh gelisah atau ketakutan. Sehingga dibutuhkan sikap kooperatif dari pasien,” terang dr. Santi
    Teknik operasi ini juga terus berkembang, artinya tidak berhenti hanya kepada “kenyamanan” pasien saja, tapi juga menjadikan pasien lebih percaya diri dengan kesembuhan seperti yang diinginkan. Ada beberapa kelebihan dari operasi phaco-emulsification ini.  Pertama, sayatan sangat kecil [± 2,2 mm]. Kedua, proses cepat [± 15 menit]. Ketiga, tanpa jahitan. Keempat, dapat langsung pulang setelah operasi. Kelima, perawatan dan pemulihan lebih cepat [sekitar 2-5 hari]. Keenam, dapat dilakukan pada semua tingkatan katarak. Ketujuh, mengurangi rasa nyeri, ngeres dan ketidaknyamanan setelah operasi.
    Alhasil, kini para penderita katarak boleh punya harapan baru untuk melihat dunia lebih terang. Meminjam istilah beken RA Kartini, “habis buram, terbitlah terang!” Apabila ingin membuktikannya, segera konsultasikan mata Anda di klinik mata RS Panti Wilasa “Dr. Cipto”.

 

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 46 (APRIL-JUNI 2016)

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar