Logo

PLASTISITAS OTAK

plastisitas otak
PLASTISITAS OTAK

Sakit Stroke dengan kelemahan tubuh…..
Masihkah ada harapan untuk perbaikan …..
Plastisitas Otak memberikan secercah harapan untuk perbaikan kualitas hidup penderita pasca kerusakan otak ….

 

Otak Manusia
     Sampai saat ini pemahaman terhadap struktur dan fungsi otak masih banyak yang berdasarkan pada model kuno, di mana tiap-tiap bagian otak memiliki struktur tertentu dan memiliki fungsi tertentu pula. Pemahaman terhadap model ini tidaklah salah, tetapi dapat menyebabkan pemahaman terhadap struktur dan fungsi otak menjadi kaku. Seperti adanya pendapat bahwa kerusakan pada otak tidak akan pernah sembuh kembali, sehingga bagian otak yang rusak tersebut akan kehilangan fungsinya secara permanent.
      Seharusnyalah dipahami juga bahwa struktur dan fungsi otak adalah fleksibel terkait dengan berbagai sistem tubuh dan lingkungan. Adalah benar sel-sel otak yang mengalami kematian tidak bisa sembuh kembali, tetapi masih ada kemungkinan ruang dan waktu bahwa fungsi otak yang hilang akibat kerusakan tersebut diambil alih oleh bagian otak yang lain dengan cara atau mekanisme plastisitas yang sampai sekarang masih menjadi misteri.

Apa itu Plastisisitas ?
       Plastisitas (plasticity) bersal dari bahasa Yunani “Plaistikos” yang berarti to form (membentuk). Kemampuan untuk belajar, mengingat dan juga melupakan atau kapasitas otak untuk reoganisasi (mengatur kembali) dan recoveri (perbaikan kembali) dari cedera dan kerusakan.
    Kapasitas dari system saraf pusat untuk beradaptasi dan memodifikasi organisasi struktural dan fungsional terhadap kebutuhan, yang bisa berlangsung terus sesuai kebutuhan dan atau stimulasi. Mekanisme ini merupakan mekanisme kompleks yang melibatkan perubahan kimia dan kelistrikan  saraf, struktur neuron dan reorganisasi otak. Plastisitas tidak hanya terjadi pada kerusakan otak seperti stroke, trauma  kepala, tetapi juga terjadi pada degenerasi otak yang lain, misal Alzheimer dan Dementia (kepikunan)   
Beberapa asumsi dasar tentang struktur dan fungsi pada otak terkait dengan plastisitas, diantaranya:
         Otak memiliki struktur dan fungsi tertentu sesuai dengan penataannya
Otak yang normal akan berkembang sesuai dengan kebutuhan (apabila dibutuhkan/digunakan maka otak akan berkembang dan sebaliknya)
Pengaturan fungsi tertentu pada otak terdapat pada beberapa tingkat/area, sehingga bila ada satu rusak, masih ada yang mengatur fungsi yang rusak
Daerah yang tak memiliki fungsi khusus pada otak dapat belajar atau mengambil alih fungsi dari daerah yang mengalami kerusakan.
      Otak manusia terbukti sangat adaptif dan plastis serta dapat mengadakan perubahan struktural dan fungsional apabila diberikan stimulasi lingkungan Stimulasi lingkungan di sini berupa stimulasi baik sensoris maupun motoris,  diterima oleh individu sebagai sebuah pengalaman dan  respon tindakan  (sensorimotor) Diketahui juga  aktivitas di otak juga meningkat pada saat membayangkan gerakan (mental practice), tanpa harus melakukan aktivitas.

Kerusakan Otak dan Bagiannya
     Kerusakan dari sel otak yang aktual akibat dari lesinya disebut Umbra sedangkan gangguan fisiologis sekunder dari sel saraf lain di sekitar atau yang terkait dengan sel otak yang rusak disebut Penumbra (inhibisi atau diaschisis). Gangguan fisiologis sekunder ini dapat diakibatkan  oleh neural shock, odema, terputusnya aliran darah, atau denervasi sebagian neuron pasca regenerasi  pada sel-sel otak.
    Pada otak yang belum pernah berfungsi matang, tetapi mengalami deficit neurologis, misal Cerebral Palsy (Cacat Mental) dan Kelainan Tumbuh Kembang pada anak, dibandingkan dengan kelainan neurologis pada otak yang sudah berfungsi matang, misal Stroke dan Trauma Kepala pada orang dewasa, proporsi luas Zona Umbra dan Zona Penumbra bisa sangat bervariasi tergantung tipe kerusakan pada otak
     Demikian juga dengan jenis dan lama kejadian kerusakan sel syaraf di otak Kejadian mendadak, terlokalisisr (misal stroke) proporsi umbra dan penumbra hampir sama, kejadian yang lambat (misal tumor) mungkin umbra tidak disertai adanya penumbra, sedangkan suatu trauma (misal trauma kepala) mungkin penumbra lebih dominan daripada umbra.

Proses Recoveri dan Plastisitas Otak
    Fase Diaschisis dikategorikan sbg pemulihan spontan dan reorganisasi mekanisme neural (perbaikan neurologis). Gangguan laten dari aktivitas neuronal di dekat area kerusakan, di mana  terjadi penurunan suplai darah dan metabolisme Biasanya pasien menunjukkan gejala flaccid, setelah itu terjadi pemulihan dini (3-4 minggu setelah lesi/kerusakan) biasanya disebabkan oleh resolusi dari diaschisis, hilangnya edema serebri, perbaikan fungsi sel saraf daerah penumbra, serta adanya kolateral dapat terjadi dalam waktu yang tidak lama.
    Plastisitas Otak terjadi setelah fase diaschisis apabila dibutuhkan melalui mekanisme regeneration yang disebut Silent Synapsis Recruitment, Denervation Supersensitivity, Axonal Regeneration dan Collateral sprouting.
     Silent Synapsis Recruitment [pengefektifan sinapsis laten] : Pembukaan jalur yang sebelumnya telah ada tetapi secara fungsional terdepres melalui proses belajar dapat dipanggil ketika sistem yang biasa telah gagal
    Denervation Supersensitivity (peningkatan sensitivitas hubungan saraf) : pasca sinapsis menjadi sangat sensitif sehingga impuls saraf minimal mampu diterima, perubahan dalam konduksi dendrit termasuk peningkatan pengeluaran transmitter dan  disinhibisi terminal eksitatoris
    Axonal Regeneration terjadi regenerasi pada serabut saraf dimulai dari proksimal menuju ke distal.
    Collateral Sprouting [pertunasan kolateral] merupakan pertunasan dari sel yang utuh / tidak rusak yang berdekatan dengan jaringan saraf yang rusak, ke daerah denervasi setelah sebagian/semua input normalnya rusak. Pertunasan meningkatkan efektivitas sinaptik dan menggantikan sinaps yang rusak sinaptogenesis dinamis yang terus menerus terjadi dalam keadaan normal

Kesimpulan
    Pemulihan sebenarnya (true recovery) pada otak mungkin terjadi pada situasi tertentu. Kompensasi mungkin bisa lebih menonjol dibanding dengan pemulihan sebenarnya bila kompensasi dikedepankan maka pemulihan sebenarnya tidak akan terjadi. Pasien harus tahu kapan mengembangkan pemulihan sebenarnya atau kompensasi, karena pemulihan sebenarnya memungkinkan gerakan fungsional yang efektif dan efisien walaupun akan terjadi kelambatan kemajuan gerak fungsional.
    Proses pembelajaran dan latihan dini lebih efektif daripada intervensi yang terlambat, semakin intens latihan menghasilkan outcome yang lebih baik, semakin spesifik jenis latihan, semakin baik hasil fungsionalnya. Pemulihan maksimal terjadi pada masa-masa awal (golden period) tetapi pemulihan dapat terus berlangsung hingga beberapa tahun (jangka panjang). Study pada otak hewan, latihan motorik memperkuat hubungan neuron yang ada dan menciptakan hubungan yang baru. Pada manusia, latihan motorik menghasilkan perubahan fungsional di dalam otak.
    Informasi yang masuk dan diterima memori jangka pendek hanya merupakan fenomena biolistrik yang berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam. Keberhasilan pembelajaran dan latihan terjadi, bila informasi ditransfer ke memori jangka panjang sehingga dapat diingat lebih lama Proses transfer informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang  melalui strategi latihan, ulangan, perhatian dan asosiasi
    Orang dengan pengangkatan satu belahan otak (hemispherectomy) ternyata menunjukkan relokasi fungsi dan melatih otak yang tersisa untuk melakukan aktivitas yang dulunya dikerjakan oleh hemisfer yang sudah diangkat. Otak bisa dianalogikan dengan otot, dimana semakin diaktifkan semakin baik hasil yang diperoleh. Neural Plasticity dapat terjadi tidak hanya pada pemulihan kemampuan motorik dan sensorik,  tetapi juga pada kemampuan memori, penglihatan ataupun bicara, bahkan beberapa tahun setelah stroke, plastisitas otak  dapat terus terjadi sepanjang kehidupan.
    Masih ada harapan untuk lebih baik,  bagi penderita pasca kerusakan otak, asal ada kemauan exercise (latihan) rutin dalam keseharian hidup kita…………

 

{oleh : Budi Setyawan S.St.Fis}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 18 (APRIL-JUNI 2009)

Tentang Penulis

Patricia Putri

patricia putri

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next PENGELOLAAN PREEKLAMPSIA DAN EKLAMPSIA

Tinggalkan Komentar