Logo

SAKIT JANTUNG MENGINTAI USIA MUDA

SAKIT JANTUNG MENGINTAI USIA MUDA

Jantung merupakan organ vital di tubuh manusia. Detaknya yang pada orang normal dalam satu menit dapat mencapai 60-100x pada keadaan istirahat untuk memompa darah kurang lebih 5 Liter darah per menit menjadikannya organ yang sangat luar biasa di dalam tubuh manusia. Menurut dr. Hary Pribadi, dokter RS Panti Wilasa “Dr. Cipto” yang tengah mengambil studi lanjut spesialis, pada usia 50 tahun saja jantung kurang lebih sudah memompa darah sebanyak 2 tanker kapal laut seukuran Titanic. Bayangkan saja seluruh darah dalam tubuh seorang manusia dipastikan melewati jantung dalam 1 menit, dan bila jantung mengalami kerusakan suplai darah ke otak pastilah terhenti dan 4 menit saja otak tidak mendapatkan oksigen maka terjadi Brain Death atau kematian otak.

Kematian Mike Mohede yang notabene seorang artis terkenal di usia mudanya sempat membuat gempar seluruh Indonesia. Namun yang membuat para khalayak ramai adalah sakit jantung koroner yang menjadi kambing hitamnya. Benarkah sakit jantung di usia muda dapat terjadi? Bagaimana mekanismenya dan apakah hanya penyakit jantung koroner saja yang dapat mengakibatkan kematian?
Berdasarkan data American Heart Association (AHA), penyakit jantung merupakan penyebab utama kematian mendadak. Penyakit jantung mengambil porsi 70% dari keseluruhan kematian mendadak di Amerika. Dari 70% itu, sebagian besar merupakan orang yang sudah lanjut usia, ini bukan berarti golongan usia muda terlepas dari kematian mendadak. Dari 350.000 kematian mendadak di Amerika akibat penyakit jantung, 4.000 di antaranya adalah mereka yang berusia di bawah 35 tahun. Dari waktu ke waktu, angka ini terus bertambah.
Data World Heart Federation atau Yayasan Kesehatan Jantung Dunia menyebutkan penyakit kardiovaskular memakan 17,3 juta korban setiap tahunnya. Di Indonesia, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan pada 2013, penyakit jantung koroner mencapai angka 12,1% dari populasi. Bahkan tren penyakit itu semakin banyak diderita oleh kelompok usia muda, yakni 39% berusia kurang dari 44 tahun. Sebanyak 22% dari penderita jantung usia muda itu ada di kisaran 15–35 tahun.
“ Pada golongan usia lanjut, umumnya orang telah menyadari faktor-faktor penyebab penyakit jantung. Menjelang usia tua, sebisa mungkin mereka menghindari segala faktor tersebut. Bagaimana dengan golongan usia muda? Golongan usia muda kerap terlena dengan gaya hidup yang sebenarnya merusak kesehatan mereka”, jelas dr. Hary.
Beberapa faktor yang dapat mengakibatkan terjadinya henti jantung adalah penyakit jantung koroner, gangguan irama jantung, dan gangguan struktur jantung lainnya. Bila ada riwayat keluarga seperti ayah, ibu, adik atau kakak anda yang meninggal mendadak di usia muda akibat sakit jantung, hendaknya anda waspada karena ada beberapa faktor genetic yang berperan dalam terjadinya henti jantung tersebut dan dapat diturunkan.

Penyakit Jantung Koroner
Pembuluh darah jantung disebut pembuluh darah koroner karena bentuknya yang mengitari jantung seperti mahkota (coronaria dalam Bahasa latin). Sayangnya jantung hanya memiliki 2 pembuluh darah saja yang bila tersumbat total dapat mengakibatkan suplai darah ke otot jantung akan hilang dan mengakibatkan kerusakan otot jantung yang kerjanya sangat berat ini. Tersumbatnya pembuluh koroner ini lazim disebut penyakit jantung koroner di Indonesia dan terjadi akibat penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah yang bila diikuti tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya robekan pada dinding pembuluh darah. Robekan ini akan memicu terbentuknya sumbatan total pada pembuluh darah jantung yang berakibat terjadinya kematian otot jantung dan terjadi henti jantung.
Kerusakan pembuluh darah memang memerlukan waktu yang lama untuk menimbulkan gejala penyakit jantung, akan tetapi hal ini ternyata dapat menimpa anak-anak muda, dan juga remaja. Faktor resiko obesitas dan gaya hidup tidak sehat menjadi penyebab utamanya. Pada era ini kerusakan pembuluh darah sudah terjadi perlahan dan penyakit kardiovaskuler terjadi lebih cepat. Ada beberapa tanda perkembangan penyakit kardiovaskuler yang patut diwaspadai di usia muda, seperti tekanan darah tinggi atau kadar kolesterol. Penanda utama yang patut diwaspadai itu yakni tekanan darah tinggi (hipertensi), yang merupakan suatu gangguan yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler.  

Tekanan Darah
Mendeteksi hipertensi pada usia muda cenderung sulit karena dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, dan tinggi badan. Tekanan darah sistolik normal pada bayi dan balita sekitar 80-110, usia anak-anak sekitar 85-120 sedangkan pada usia remaja sekitar 95-140. Seorang anak dikatakan mengalami hipertensi jika konsisten memiliki tekanan darah mendekati batas atas atau lebih tinggi dari batas normal tersebut setelah tiga kali pengukuran dalam waktu yang berbeda.  
    Hipertensi primer sering ditemukan pada usia remaja dan memiliki faktor risiko yang sama pada umumnya; obesitas, pola konsumsi dan gaya hidup tidak sehat. Namun pada usia anak-anak atau lebih muda, terdapat kemungkinan penyebab hipertensi sekunder seperti gangguan endokrin, penyakit ginjal, kelainan jantung bawaan, tekanan intracranial, efek samping obat, dan racun.
Hipertensi pada usia muda sering kali tidak menimbulkan gejala akut, akan tetapi dapat menyebabkan sakit kepala, mimisan, serta penurunan kemampuan akademis dan olahraga. Jika tidak diatasi, baik hipertensi primer maupun sekunder dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pembuluh darah lebih cepat dan hal ini dapat berdampak terhadap sistem saraf pusat (stroke), gangguan fungsi jantung, dan gagal ginjal saat dewasa.

Hiperkolesterolemia
Penanda ke-dua yakni Hiperkolesterolemia atau tingginya kadar kolesterol dalam darah yang merupakan awal dari perkembangan penyakit jantung koroner dan hal ini, tanpa disadari, sudah dimulai sejak masa anak-anak.
Peningkatan kadar kolesterol sudah dapat terlihat saat anak akan memasuki usia remaja (9-11 tahun) dan biasanya kembali meningkat pada usia remaja akhir (17-21 tahun). Hiperkolesterolemia pada anak lebih mungkin terjadi jika terdapat riwayat penyakit jantung orangtua, mengalami kegemukan, tekanan darah di atas normal seusianya, memiliki diabetes, merokok dan terpapar asap rokok.
Penanganan kolesterol pada anak sangat diperlukan untuk mencegah penyakit jantung sejak dini. Oleh karena itu, jika anak sudah memiliki faktor risiko, disarankan untuk memeriksakan kadar kolesterol darah pada usia anak-anak (di bawah 10 tahun) serta awal dan akhir usia remaja.
Kadar Total Cholesterol (TC) yang aman pada anak sekitar kurang dari 170mg/dL. Jika kadar TC sekitar 170-199mg/dL diperlukan pemeriksaan berulang, sedangkan jika kadar TC >200mg/dL diperlukan pemeriksaan lanjut dan konsumsi obat bila diinstuksikan oleh dokter.
Meskipun demikian, utamakan perbaikan pola makan dan pola aktivitas jika anak Anda berisiko mengalami hiperkolesterolemia. Hal ini dilakukan dengan pengurangan asupan lemak, karbohidrat dan gula dari asupan harian. Sebagai gantinya, tingkatkan asupan protein, serat, vitamin dan mineral terutama dari sayur dan buah.  

Plaque Atherosklerosis (Sumbatan Pembuluh Darah)
Penanda ke-tiga yang patut diwaspadai adalah Atherosklerosis yang dapat terjadi jika kadar kolesterol darah tidak terkendali hingga menimbulkan plak pada pembuluh darah. Perkembangan arterosklerosis cenderung lama namun dapat dimulai pada masa anak-anak.
Faktor risiko arterosklerosis pada anak pada umumnya sama dengan faktor risiko hiperkolesterolemia pada  anak. Namun setiap faktor risiko seperti obesitas, hipertensi dan gaya hidup tidak sehat akan mempercepat kerusakan pembuluh darah. Arterosklerosis saat usia anak-anak adalah pemicu utama penyakit jantung dan stroke pada individu dewasa yang berusia 20-30 tahun.
Ada beberapa tindakan bertahap yang dapat dilakukan untuk penanganan arterosklerosis dan kadar kolesterol abnormal pada anak. Di antaranya yakni perubahan pola makan dan aktivitas, suplementasi, dan pemberian obat.
Perubahan pola makan dapat diawali dengan menekan konsumsi harian lemak, karbohidrat dan gula berlebih serta lebih banyak mengonsumsi protein ikan, sayur dan buah. Anak juga dianjurkan aktif 30-60 menit/hari dalam 4-6 hari/minggu. Upaya perbaikan sebaiknya dilakukan secara perlahan dan konsisten karena harus dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lama.
Sementara, suplementasi – dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi serat dan omega-3 yang bermanfaat dalam mengendalikan kadar kolesterol LDL. Anak juga tetap dianjurkan memperoleh serat dari sayur dan buah serta omega-3 dari ikan berminyak.
Upaya berikutnya, diiringi dengan pemberian obat. Pada umumnya dokter akan memberikan obat dengan jenis Statin namun upaya pengobatan tidak bertujuan untuk mengatasi arterosklerosis bukan untuk menghancurkan plaque melainkan hanya menstabilisasi plaque dan mengendalikan faktor risiko. Pemberian obat adalah langkah terakhir jika perbaikan gaya hidup dan suplementasi setelah 6-12 bulan tidak membantu menurunkan kadar kolesterol total atau kadar trigliserida yang terlalu tinggi.

Gejala dan Upaya Penilaian Risiko
    Gejala sakit jantung umumnya ditandai dengan rasa sakit di dada. Rasa sakit di bagian dada tersebut juga dilengkapi dengan rasa tidak nyaman di area belakang bahu. Bahkan, gejala penyakit jantung ini sering membuat penderitanya mengalami sesak napas, kehilangan nafsu makan, dan merasa mudah lelah. Tak sampai di situ saja, gejala sakit jantung seringkali juga ditandai dengan nyeri di bagian ulu hati yang sering disangka sebagai penyakit maag.
Coronary Angiography/ Kateterisasi
Saat ini pembuluh darah coroner yang menyempit atau tersumbat sudah dapat kita lihat secara langsung dengan metode angiografi coroner. Suatu selang (kateter) akan dimasukan melalui pembuluh darah paha, atau dapat juga pembuluh darah tangan menuju jantung. Ketika sudah mencapai jantung akan diberikan suatu zat yang disebut kontras dan dipindai menggunakan alat fluoroscopy untuk melihat pembuluh mana yang tersembut atau menyempit. Pemeriksaan ini dapat diteruskan dengan pemasangan stent yang oleh orang awam kerap disebut cincin jantung.
 
PENYAKIT JANTUNG ARRHYTHMIA
Jantung merupakan organ yang spesial karena dia dapat berdetak sendiri tanpa diperintahkan oleh otak. Detak jantung dapat terjadi dikarenakan adanya rangsangan listrik spontan dari suatu sel pemicu yang disebut pacemaker cell yang berkumpul di tempat yang dinamakan Sinoatrial Node atau lazim disingkat menjadi SA Node. Pada beberapa individu hantaran listrik jantung berjalan tidak normal sehingga denyut jantung menjadi tidak beraturan dan pergerakan jantung pun menjadi tidak efektif. Pada saat terjadi gangguan sistem listrik jantung inilah yang dinamakan Aritmia Jantung. Beberapa aritmia bersifat lethal dan dapat mengakibatkan kematian contohnya Ventricular Fibrilation dan Ventrikular Tachycardia tanpa nadi.
    Beberapa penyakit gangguan irama jantung yang dapat timbul pada usia muda jarang terdeteksi karena terkadang pasien tidak merasakan gejala apapun selain berdebar-debar. Beberapa gangguan irama jantung yang dapat mengakibatkan kematian mendadak tersering adalah berikut :

Long QT Syndrome
     Pasien dengan long QT syndrome nyaris tak bergejala apapun, biasanya pasien pun hanya terdiagnosis berdasarkan pemeriksaan elektrokardiogram saat medical check up. Pada gambaran rekam jantung (elektrokardiogram) biasanya didapatkan pemanjangan dari interval QT
    Terdapat 3 tipe dari Long QT Syndrome, namun masing-masing dari tipe tersebut dapat menimbulkan kematian mendadak diakibatkan berubahnya irama jantung mendadak yang dinamakan irama Torsades de Pointes. Irama ini berlangsung secara cepat dan mengakibatkan pasien mendadak pingsan, kejang dan berujung pada kematian mendadak hanya dalam kurun waktu kurang dari 15 menit.

Tipe Long QT Syndrome
Pada tipe 1 biasanya kematian terjadi saat pasien beraktifitas, pada tipe 2 terjadi pada saat pasien mengalami fase emosional seperti marah, stress berat, atau depresi berat. Khususnya pada tipe 3 kematian dapat terjadi pada saat pasien tertidur pulas, sehingga jarang terdeteksi dan biasanya ditemukan oleh keluarga pasien sudah tidak bernyawa di keesokan harinya. Long QT syndrome terjadi akibat mutase genetic, namun penyakit ini jarang sekali terjadi.

Brugada Syndrome
Satu lagi penyakit jantung yang mengakibatkan kematian mendadak adalah Brugada Syndrome. Sindrom Brugada adalah suatu jenis abnormalitas elektrik jantung bawaan yang secara tragis dapat merenggut nyawa laki-laki usia sekitar 30 saat terlelap tidur.
Seperti halnya sindrom QT panjang, penderita sindrom Brugada sebelumnya sehat-sehat saja bahkan faktor-faktor risiko penyakit jantung koroner mungkin tidak ditemukan dan struktur jantungnya juga normal. Penyebab dari sindrom ini akibat dari adanya mutasi gen channel natrium pada jantung atau biasa disebut natrium channelopati. Dikenalkan pertama kali oleh Pedro dan Joseph Brugada dan merupakan penyebab utama sudden unexplained death syndrome, atau kematian mendadak tanpa adanya penyakit struktural jantung sebelumnya. Satu-satunya penanganan untuk sindrom ini adalah pemasangan ICD - Implantable Cardioverter Defibrillator.
Hal yang masih menjadi pertanyaan adalah angka kejadian sindrom ini lebih banyak terjadi di kawasan Asia Tenggara dan lebih sering menyerang laki-laki dibandingkan dengan perempuan (8:1).Yang juga masih menjadi pertanyaan adalah walaupun sindrom Brugada mungkin saja terdapat pada berbagai lapisan usia, mengapa serangan kebanyakan terjadi di puncak kehidupan, yaitu pada usia dewasa muda?
Dalam rentang satu dekade, sindrom ini semakin luas dikenal seiring dengan bermunculannya laporan kasus dari berbagai negara di sejumlah jurnal kedokteran. Di Barat angka kejadian sindrom ini diperkirakan 1:10.000, sedangkan di Asia angka kasus ini empat kali lebih banyak.
Di Indonesia, sindrom maut ini dilaporkan pertama kali oleh Dr Muhammad Munawar SpJP tahun 2002, dimuat di Jurnal Kardiologi Indonesia. Sebenarnya sejak lama para ahli mempertanyakan misteri penyebab kematian mendadak saat tidur (sudden unexplained nocturnal death) yang terjadi terutama pada laki-laki Asia dewasa muda yang sebelumnya sehat-sehat saja.    
Literatur medis Filipina melaporkan kejadian yang dikenal sebagai bangungut ini pertama kali tahun 1917. Tiga dekade kemudian tim medis dari Honolulu melaporkan serial 81 kasus kematian orang laki-laki Filipina yang tinggal di Oahu County dengan pola yang serupa.
Misteri kematian ini ternyata juga dikenal di Thailand yang disebut sebagai lai tai, dan di Jepang dikenal dengan nama pokkuri, serta di Laos dengan sebutan noniaital.
Tahun 1983 Baron dan kawan-kawan melaporkan 51 kematian para pengungsi asal Asia yang berusia relatif muda dan sebelumnya tak ada gejala-gejala penyakit apa pun. Hampir semua korban adalah laki-laki (kecuali satu orang wanita) dan keseluruhan kematian terjadi saat mereka tertidur. Usia rata-rata korban adalah 33 tahun.
Akhirnya misteri kematian mendadak saat tidur itu mulai terkuak ketika Brugada bersaudara melaporkan hasil pengamatan mereka di Journal of the American College of Cardiology, 1992.
    Sindrom Brugada terjadi bila terdapat defek gen yang menyandi kanal sodium, yaitu gen SCN5A pada kromosom 3. Mutasi pada gen yang diturunkan ini menyebabkan pembukaan kanal ion terjadi lebih cepat dan berlangsung lebih lama. Keadaan ini dapat memicu timbulnya suatu aritmia ganas yang disebut fibrilasi ventrikel.
Fibrilasi ventrikel adalah kekacauan aktivitas elektrik di bilik jantung yang merupakan mesin pompa darah utama. Akibatnya otot-otot jantung berdenyut tidak karuan sehingga darah tak dapat terpompa ke seluruh tubuh termasuk otak. Bila situasi ini tak dikoreksi segera dengan alat kejut jantung (defibrilator), maka korban akan cedera otak karena kekurangan oksigen dan akhirnya dapat berakibat kematian. Sering kali fibrilasi ventrikel pada sindrom ini tercetus saat jantung dalam dominasi pengaruh saraf vagal, misalnya saat tidur.

Hal Yang Perlu Mendapat Perhatian !!
    Memang kematian akibat penyakit koroner secara literature mulai bergeser dari usia dewasa tua menjadi dewasa muda. Namun penyebab dari penyakit jantung koroner dapat diatasi dengan mengendalikan factor-faktor risiko seperti hipertensi, kolesterol tinggi, merokok, obesitas, dan pola hidup tidak sehat. Lain hal nya dengan kelainan irama jantung secara genetic yang telah dibahas di atas, hanya dapat terdeteksi melalui elektrokardiogram dan hanya dilakukan intervensi bila sudah terdiagnosis.
“Yang lebih penting lagi adalah tidak menyepelekan riwayat keluarga. Bila memiliki orang tua, anak, atau saudara dengan riwayat pingsan berulang atau bahkan mati mendadak di usia muda, sebaiknya memeriksakan diri untuk mencari potensi nahas itu pada diri sendiri sehingga dapat diantisipasi,” ungkap dr. Hary. *

 

*dr. Hary Pribadi, dokter umum RS Panti Wilasa  “Dr. Cipto”yang saat tengah menjalani studi lanjut dokter spesialis di Makasar

Dimuat di Majalah Kasih edisi 49

Tentang Penulis

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next KONSUMSI IKAN SALMON, TURUNKAN RISIKO SERANGAN JANTUNG

Tinggalkan Komentar