Logo

SEKILAS KEGIATAN UPKM

SEKILAS KEGIATAN UPKM

Pengobatan Gratis untuk balita di desa binaan.
    Sudah menjadi jadwal dua bulanan UPKM RS. Panti Wilasa “Dr. Cipto” memberikan pengobatan gratis di Kelurahan Karangroto, kegiatan tersebut jatuh pada tanggal 21 Desember 2005. Masyarakat terutama ibu-ibu balita menyambut dengan gembira kegiatan pengobatan yang secara rutin memantau kondisi kesehatan balita binaan UPKM RS. Panti Wilasa “Dr. Cipto” di Kelurahan Karangroto tersebut.
    Seperti telah diketahui bersama pada edisi sebelumnya bahwa balita binaan untuk Kelurahan Karangroto mencapai 207 balita yang dikategorikan perlu dipantau kesehatan dan konsumsi gizinya. Untuk itu disamping penyuluhan kesehatan yang secara rutin dilaksanakan juga perlu diberikan pengobatan gratis, agar kesehatan para balita bisa terpantau dengan baik. Rumah Sakit “berjalan” begitulah masyarakat kelurahan Karangroto menyebutnya, apabila petugas medis RS. Panti Wilasa “Dr. Cipto” yang terdiri dari perawat dan dokter yang lengkap dengan obat-obatannya tersebut berkunjung setiap dua bulan sekali. Keramahan dan kesabaran selalu di berikan oleh tim medis RS. Panti Wilasa “Dr. Cipto” dalam menangani pasien yang umumnya balita tersebut.

Penyuluhan Bahaya Formalin dan Borak Di Kelurahan Karangroto.
    Tanggal 21 Januari 2006 UPKM RS. Panti Wilasa “Dr. Cipto” mengadakan penyuluhan pada para kader binaan di Kelurahan Karangroto mengenai bahaya makanan yang mengandung Formalin dan Borak bagi tubuh yang akhir-akhir ini jadi bahan perbincangan publik. Tepat pukul 10.00 penyuluhan yang dihadiri oleh ibu-ibu kader dari 8 RW di Kelurahan Karangroto dimulai dengan terlebih dahulu mendengarkan sambutan dari Kepala Kelurahan Karangroto yang menghimbau agar masyarakat selalu hati-hati terhadap wabah penyakit seperti Demam berdarah dan efek samping dari mengkonsumsi makanan yang mengandung Formalin dan Borak. Selanjutnya petugas dari UPKM yaitu Drs. Danu Ismoyo yang selalu aktif mendampingi para kader juga menyampaikan beberapa saran dan nasehat. Dr. Probo Winarto yang ditugaskan oleh RS. Panti Wilasa “Dr. Cipto” untuk menyampaikan materi penyuluhan tersebut.
    Redaksi mencoba mengutip apa yang disampaikan oleh Dr. Probo untuk para pembaca sekalian sebagai informasi yang sangat berharga. Formalin menurut Dr. Probo adalah berupa cairan dalam suhu ruangan yang tidak berwarna dan mempunyai bau yang sangat menyengat. Formalin ini biasanya digunakan sebagai desinfektan, cairan pembalsem, pengawet mayat, pengawet jaringan, pembasmi serangga dan sering digunakan pada industri tekstil dan kayu lapis, jadi sangat tidak boleh jika digunakan untuk campuran pengawet makanan, mie, tahu, ikan asin, ikan segar dan sebagainya mengingat fungsi aslinya yang tidak bersinggungan dengan makanan. Formalin ini sangat berpengaruh buruk terhadap kesehatan, diantaranya jika terhirup akan menimbulkan rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan, sukar bernafas, sakit kepala dan efek lanjutnya adalah kanker dan paru-paru. Jika terkena kulit akan menimbulkan kemerahan, gatal dan kulit terbakar. Apabila terkena mata akan mengakibatkan kemerahan,gatal, mata berair, kerusakan mata, pandangan kabur dan kebutaan. Sedangkan apabila tertelan maka akan terjadi muntah, mual, perut perih diare, kepala pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan syaraf, kulit membiru, hilang pendengaran, kejang koma serta berakibat pada kematian. Dalam kesempatan tersebut Dr. Probo memberi saran untuk jauhi dan janganlah membeli makanan yang mengandung formalin karena efek yang diakibatkan sangat berbahaya bagi tubuh kita dalam jangka waktu yang panjang.
    Selain Formalin Dr. Probo juga menjelaskan efek negatif dari konsumsi Boraks yang biasanya terdapat pada bakso untuk memberi kesan kenyal. Borak sebenarnya berupa serbuk, kristal putih, tidak berbau, larut dalam air akan tetapi tidak larut dalam alkohol, PH nya mencapai 9,5. Boraks lazim digunakan sebagai pengawet kayu, antiseptik kayu dan pengontrol kecoa jadi jelas tidak diperbolehkan untuk makanan dan minuman. Pengaruh boraks sangat berbahaya bagi kesehatan yaitu akan terjadi muntah, diare, merah lendir, konvulsi dan depresi SSP sebagai tanda dan gejal akut. Sedangkan tanda dan gejala kronis mengakibatkan menurunnya nafsu makan, gangguan pencernaan, gangguan SSP, Anemia, rambut rontok dan jangka panjangnya adalah kanker. Untuk memutus jaringan rantai makanan yang mengandung boraks, saran dari Dr. Probo janganlah membelinya karena jika tidak terjadi proses jual beli terhadap makanan yang mengandung boraks maka rantai peredarannya akan terputus dengan sendirinya.
    Ada dua hal lagi yang disampaikan Dr. Probo dalam kesempatan tatap muka dengan para kader kelurahan Karangroto tersebut yang tidak kalah membahayakan yaitu Methanyl Yellow (Kuning Metanil) dan Rhodamin B. Methanyl Yellow atau Kuning metanil merupakan zat pewarna sintetis berbentuk sebuk, padat, berwarna kuning kecoklatan. Pada umumnya digunakan untuk pewarna tekstil atau cat. Oleh pihak yang tidak bertanggung jawab biasanya kuning metanil ini digunakan untuk pewarna makanan dan minuman, diakui memang warna kuning metanil ini sangat menarik dan terkesan segar. Paparan kuning metanil ini dalam waktu lama (kronis), dapat menyebabkan kanker pada saluran kemih dan kandung kemih.
    Satu lagi bahan berbahaya yang seringkali disalahgunakan adalah Rhodamin B yang merupakan zat warna sintetis berbentuk serbuk kristal, tidak berbau, berwarna merah keunguan, dan apabila diletakkan dalam larutan berwarna akan muncul cahaya terang berpencar (fluorescensi). Biasanya Rhodamin B ini digunakan untuk zat warna kertas, tekstil dan sebagai reagensia untuk pengujian antiman, cobalt, bishmut dan lain-lain. Seperti halnya dengan kuning metanil Rhodamin B ini oleh orang yang tidak bertanggungjawab biasanya digunkan untuk pewarna merah pada sirup, lipstik dan lain sebagainya. Dari semua zat yang berbahaya tersebut jika kita melihatnya dengan mata telanjang tidak bisa terdeteksi apakah makanan tersebut sudah tercampur atau belum, akan tetapi kita harus selalu hati-hati dan waspada.

 

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 5 (JANUARI-MARET 2006)

Tentang Penulis

Patricia Putri

patricia putri

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next SERTIFIKAT ISO 9001:2000, AKHIRNYA BISA DIRAIH

Tinggalkan Komentar