SISTEM DISTRIBUSI OBAT

SISTEM DISTRIBUSI OBAT

Pada Masa ini perkembangan pengetahuan, kepekaan masyarakat sungguh luar biasa. Perkembangan teknogi, informasi yang berubah dengan cepat didukung pula dengan era globalisasi yang harus diikuti. Semua itu juga berpengaruh dalam pelayanan kesehatan.

 

     Saat ini, tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas terus meningkat. Tingkat harapan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan berkualitas sangat tinggi. Oleh karenanya, pelaku-pelaku pelayanan kesehatanpun sudah seharusnya meningkatkan diri dan mengembangkan diri dalam upaya memenuhi harapan masyarakat ini.
    Salah satu upayanya dapat dilakukan melalui perbaikan sistem distribusi perbekalan farmasi (obat) di rumah sakit. Distribusi merupakan suatu kegiatan penyaluran perbekalan farmasi dari pedagang besar farmasi, instalasi farmasi sampai kepada konsumen (dalam hal ini adalah pasien). Dalam pelayanan perbekalan farmasi di rumah sakit, dikenal beberapa sistem distribusi perbekalan farmasi (untuk selanjutnya, yang dimaksud dengan perbekalan farmasi adalah obat):

  1. Individual Prescription.
    Pasien mendapatkan resep dari dokter dan instalasi farmasi melayani sesuai yang tertulis dalam resep untuk pasien tersebut. Keuntungan sistem ini adalah efisiensi dalam jumlah tenaga yang melayani, dapat diterapkan untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap dan mudah dalam mengontrol persediaan obatnya. Namun kelemahannya adalah waktu kontak dengan pasien/ keluarga terbatas serta asuhan kefarmasian kurang optimal.
  2. Ward Floor Stock (WFS)
    Dalam sistem ini, penyediaan obat dilayani dalam jumlah tertentu sebagai stok obat di ruang perawatan. Kebutuhan obat tiap dilayani dari stock obat ruang pelayanan ini. Kelebihan sistem ini adalah bahwa obat siap pakai oleh karena tersedia di ruang perawatan, efisiensi jumlah tenaga yang dibutuhkan. Namun kelemahannya adalah kemungkinan terjadinya kesalahan pemberian obat karena tidak ada pemeriksaan ulang, jumlah persediaan obat di ruang perawatan meningkat, kemungkinan kehilangan obat besar, resiko kerusakan obat dan jumlah obat ED (expired date-red) meningkat.
  3. One Day Dose Dispensing (ODDD).
    Penyediaan obat dalam sistem ini dilakukan oleh instalasi farmasi pada pasien rawat inap yang dikemas/disiapkan dalam dosis tunggal untuk pemakaian sehari (24 Jam). Kelebihan dari sistem ini adalah pasien lebih mudah mendapatkan obat, menghindari pemberian obat double, pasien membayar obat yang diminum saja. Sedangkan bagi instalasi farmasi, pelayanan yang diberikan  lebih berorientasi pada pasien, menurunkan biaya obat, mengurangi medical error serta pengelola stok obat secara sentralisasi sehingga pengendalian obat bisa ditingkatkan. Namun demikian sistem ini mempunyai kelemahan, yaitu: membutuhkan SDM lebih banyak, beban kerja Instalasi Farmasi menjadi berlipat ganda, terjadi pemborosan embalage, penulisan permintaan obat berulang-ulang, dapat terjadi keterlambatan pemberian obat atau lupa tidak dilanjutkan.

     Dari tiga sistem yang sudah diuraikan diatas, dapat dilihat bahwa apabila pelayanan yang dilakukan lebih berfokus atau berorientasi pada pasien maka system ketiga (ODDD) adalah pilihan yang tepat. Persiapan-persiapan memang perlu dilakukan apabila akan menerapkan sistem ini, termasuk apa yang menjadi kelemahan dari sistem ini pun perlu dicarikan solusi agar pelayanan yang diberikan dapat optimal. Rumah Sakit Panti Wilasa “Dr.Cipto” saat ini sedang mencoba untuk menerapkan sistem ODDD ini. Sistem ini mulai diterapkan pada bulan oktober 2007 dan dimulai dari pasien peserta askes lebih dulu. Pada masa yang akan datang, apabila sistem ini sudah berjalan dengan baik, direncanakan semua pasien rawat inap akan menggunakan sistem ODDD ini. 

 

 

{oleh : Sri Hari Wahyuni, S.Si., Apt.}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 12 (OKTOBER-DESEMBER 2007)

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar