SOLUSI MENGATASI ALERGI KARENA ULAT BULU

SOLUSI MENGATASI ALERGI KARENA ULAT BULU

ulat bulu

     Ulat bulu mulai merambah sejumlah daerah di Jawa Tengah dan menyerang pohon buah di Kabupaten Demak, Kudus, Pati, Rembang, Blora, Kendal, Ungaran, Kebumen, Purworejo, Pekalongan, Batang, Pemalang, dan Kota Semarang. Daerah yang sudah cukup berat diserang ulat yakni di Kecamatan Bantarpolang, Pemalang. Bila menengok sejarah, maka serangan ulat bulu sebenarnya pernah melanda Probolinggo pada tahun 1936. Berulang kali, setiap tahun terjadi. Namun kejadian kali ini memang teramat parah, melanda banyak wilayah, hingga boleh dikatakan "mengukir sejarah".
    Serangan ulat bulu dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Diawali dari Kabupaten Probolinggo (30/3/2011), ulat bulu kini telah merambah 58 desa di 9 kecamatan. Lalu ulat bulu menyerbu sejumlah wilayah di Banyuwangi, Bali, Nusa Tenggara Barat, Medan, Semarang, Kendal, Bantul, Yogyakarta, dan Jakarta.
Serangan ulat bulu sungguh ganas. Di Probolinggo, ulat bulu menyerbu 14.779 pohon mangga. Di Desa Candiroto Brangsong, Kendal, Jawa Tengah, ulat bulu mampu menyantap habis dedaunan satu pohon mangga dalam 5-6 hari. Di Bali, serangan ulat bulu mengancam sektor pertanian, pariwisata, dan perekonomian sehingga ditetapkan status waspada. Di Jakarta Barat, tepatnya di Kelurahan Tanjung Duren Utara, Grogol, radius serbuan ulat bulu mencapai 1 Km. Tentunya serangan ulat bulu ini perlu diwaspadai dan diantisipasi karena dapat meluas serta merata hingga ke seluruh penjuru Nusantara.
     Ulat bulu memakan banyak dedaunan sebagai bekalnya sebelum berubah menjadi kepompong. Dari kepompong, menjelma ngengat. Ngengat menjadi dewasa, menghasilkan telur. Telur menetas menjadi ulat bulu.
Penyebaran ulat bulu mulanya bersifat sporadis (merambat), lama-kelamaan invasif (menyerbu), masif (menyebar), bahkan dapat menjadi eksplosif (meledak).

Penyebab
    Wabah-alergi ulat bulu muncul dan berkembang karena berbagai faktor. Ketidakseimbangan ekosistem, polusi, migrasi, berkurang/musnahnya predator alami ulat, seperti: semut rangrang (api), kelelawar, kepik, laba-laba, lebah, burung membuat habitat ulat berkembang pesat. Populasi burung pemakan ulat, seperti: ciblek (Trinia familiaris), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), burung cerukcuk, kian hari kian menurun. Disertai perubahan iklim, anomali musim, cuaca yang ekstrem, udara lembab, curah hujan tinggi, dan hujan berkepanjangan kian mempercepat siklus metamorfosis ulat.
      Masyarakat menyebut ulat bulu sebagai ulat gendong tempe, ulat jaran, uler kirik, ulat matahari, ulat serit, ulat tahu. Spesies ulat bulu di Probolinggo merupakan spesies Lymantria marginata (L.), termasuk genus Lymantria, famili Erebidae/Lymantriidae, subfamili Lymantriinae, suku Lymantriini. Di dunia ada sekitar 215 spesies Lymantria. Durasi perkembangannya mencapai 65,5 hari. Spesies betina bertelur sekitar 300 butir. Adapun ulat bulu (Tussock Moth) di Banyuwangi merupakan spesies Dasychira inclusa Walker.
      Hampir semua spesies ulat bulu menyebabkan alergi, terutama bila terkena rambut halus ulat. Alergi karena ulat bulu ditandai dengan urtikaria (biduran), kulit kemerahan, gatal-gatal, bengkak (bentol), menghitam jika digaruk. Dampak ulat bulu pada manusia umumnya ringan tidak sampai mematikan, menyerupai alergi. Menurut medis, terjadi reaksi hipersensitivitas tipe I yang bergantung pada Imunoglobulin E (IgE).
     Meskipun demikian, hendaklah tetap waspada. Sebab bulu-bulu ulat mudah menyebar bersama angin, lalu mengenai mata, kulit, terhirup, bahkan menempel di jemuran pakaian dan mengotori tempat penampungan/ persediaan air di rumah penduduk.


Solusi
    Mencegah ledakan populasi ulat bulu dengan menjaga keseimbangan ekosistem, menjaga kebersihan, dan sanitasi lingkungan. Menanam pohon jenis akar tunjang. Melepas burung, misalnya: kutilang dan peking. Mengembangbiakkan parasit alami ulat bulu (apanteles, braconid). Sampah dan dedaunan yang lembab segera disapu dan langsung dibakar, jangan dibiarkan menggunung di bawah pepohonan.
Dilakukan vaksinasi pada pohon yang disukai ulat bulu dengan insektisida fertilium dan obat organik. Bagi penyemprot insektisida, cek kadar kolinesterase darah minimal 1x tiap 6 bulan.
Secara tradisional, ramuan bawang putih, daun sereh, minyak atsiri, dapat sebagai insektisida alami. Atau ambillah kunyit yang berukuran besar, dipotong, campur dengan kapur sirih, lalu gosok perlahan di kulit yang kena ulat bulu, ulangi beberapa kali. Bengkak diatasi dengan mengoleskan minyak kelapa atau es batu. Jangan digaruk.
    Gatal akibat ulat bulu dapat dihilangkan dengan mengoleskan air atau getah batang labu. Gatal juga dapat dicegah dengan menghindari kontak langsung dengan ulat bulu. Mencuci tangan sebelum dan setelah beraktivitas. Memakai pelindung (payung, mantel, masker, dsb) bila melewati daerah atau pepohonan yang berulat bulu.
Tepat pestisida, tepat sasaran, tepat dosis, tepat waktu, saat membasmi ulat bulu. Pakailah pestisida ramah lingkungan, umumnya dari golongan piretroid sintetis. Saat menyemprot, pakailah pengaman. Setelah menyemprot, minum susu dan cuci tangan.
Bila gatal dan bengkak belum berkurang, maka segeralah ke dokter, Puskesmas, atau RS terdekat. (Dari berbagai referensi)


{oleh :  Dr. Dito Anurogo, ex-Researcher di Universitas Degli Studi di Torino Italia, dokter di RS. Keluarga Sehat, Pati, delegasi Indonesia AICST 2011, email: ditoanurogo@gmail.com}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 26 (APRIL-JUNI 2011)

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar