SUPER BAKTERI SUDAH SIAPKAH ANDA

SUPER BAKTERI  SUDAH SIAPKAH ANDA

Saat ini, penyakit kanker menjadi salah satu momok bagi manusia. Sementara penyakit-penyakit seperti malaria dan sakit perut akibat bakteri E. coli masih dipandang sebelah mata karena sudah ada obat untuk menangkalnya.

 

    Namun, tahun 2050 diperkirakan akan muncul bakteri-bakteri super yang efeknya lebih mematikan ketimbang kanker. Bakteri-bakteri super itu adalah bakteri yang ada saat ini kemudian bermutasi sehingga resisten terhadap obat-obatan yang ada saat ini.
    Bakteri penyebab penyakit yang kebal terhadap pengobatan antibiotik sekarang telah tersebar luas di setiap penjuru dunia dan telah mencapai” tingkat yang mengkhawatirkan ” di banyak daerah, menurut laporan global pertama mengenai masalah ini dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
    Dikutip dari laman BBC, analis Jim O'Neill mengungkapkan, infeksi akibat bakteri super itu bisa membunuh sampai 10 juta orang per tahun di seluruh dunia. Jim O'Neill ditunjuk Perdana Menteri Inggris David Cameron, Juli lalu, untuk memimpin review soal resistensi anti mikroba ini. Tim ini menemukan bahwa resistensi bakteri E coli, malaria, dan tuberculosis (TB) akan menyebabkan dampak yang sangat besar.


    Antibiotik - Membunuh Bakteri Saat Ini Dan Menciptakan Super Bakteri Kemudian
    Semakin kita bergantung kepada antibiotik, maka akan semakin banyak tercipta secara alami strain (turunan) baru dari bakteri yang kebal terhadap antibiotik tersebut. inilah yang disebut superbug. Perang antara perusahaan obat dengan virus dan bakteri adalah perang yang tiada akhir dan hanya membuat situasi bertambah buruk dari waktu ke waktu

Carbapenem-Resistance Klebsiella Pneumonia
    Carbapenem-Resistance Klebsiella Pneumonia atau CRKP adalah turunan dari pneumonia yang diperoleh di rumah sakit yang telah menjadi resisten terhadap hampir semua antibiotik yang saat ini digunakan untuk mengobati kondisi tersebut. Jika itu tidak cukup buruk, bakteri Klebsiella menghasilkan enzim yang mendegradasi antibiotik kuat dan menganugerahkan resistansi tingkat rendah kepada yang lain. Dan yang membuatnya lebih buruk lagi, enzim ini dapat dikirimkan ke bakteri lain dalam tubuh.

Methicillin Resistant Staphylococcus  Aureus (MRSA)
    Mungkin ini salah satu superbug yang paling terkenal, bakteri ini selalu menjadi headline surat kabar lokal ketika muncul di rumah sakit-rumah sakit di seluruh dunia. Staphylococcus Aureus adalah lebih umum daripada yang diperkirakan, yang terbawa pada kulit atau di dalam lubang hidung atau tenggorokan. Dalam bentuk ini, bakteri ini menyebabkan infeksi kulit ringan yang mudah diobati jika masuk ke luka pada kulit, bagaimanapun, hal-hal yang jauh lebih buruk bisa terjadi.
    Jika - strain MRSA Staphylococcus aureus - masuk ke aliran darah dapat mencapai dan menginfeksi hampir setiap bagian tubuh. Keracunan darah, paru-paru dan jantung infeksi dan abses di dalam tubuh, semua adalah komplikasi umum setelah seseorang terinfeksi.
    Apa yang membuat bakteri ini begitu berbahaya adalah fakta bahwa bakteri ini kebal terhadap hampir semua antibiotik. Menyebar dengan mudah lewat kontak fisik, dan baru-baru ini wabah MRSA di masyarakat jauh dari rumah sakit telah terjadi. Hal ini dapat disebabkan oleh fakta bahwa sejumlah besar penduduk, sekitar 2%, membawa strain Staphylococcus Aureus yang resisten terhadap antibiotik. Angka kematian tiga puluh hari telah terlihat setinggi 30%.

E. coli Resistent  
    Sebuah demam ringan, mual, muntah dan diare adalah gejala utama yang terjadi ketika tubuh terinfeksi E. Coli. Meskipun tidak enak jika anda mengalaminya, tapi hal ini tidak berbahaya kecuali jika Anda sangat tua atau sangat muda. Strain  virulen resisten  E. Coli pada tahun 2014 melanda Jerman. Sebelas negara terkena, 2.000 orang terinfeksi dan ada 18 kematian akibat infeksi ini.
    Meskipun tingkat kematian yang tidak buruk dibandingkan dengan superbug lainnya (yang kurang lebih sama dengan angka kematian yang normal), apa yang membuat strain baru ini begitu berbahaya adalah risiko yang terkait sindrom uremik hemolitik atau HUS sebagai komplikasi. Biasanya pasien akan menjadi kuning dan atau anemia.
    Tekanan darah tinggi, kencing berdarah dan gejala sistem saraf juga dapat berkembang. Lebih dari 500 kasus telah dilaporkan di Jerman sejauh ini, yang merupakan 25% dari tingkat infeksi sekunder. Dalam 25% dari kasus orang dengan HUS akan menderita kerusakan ginjal dan tekanan darah tinggi.
 
Resistant Acinetobacter Baumannii
    Bakteri ini dianggap sebagai penerus MRSA oleh beberapa dokter. Seperti banyak infeksi yang didapat di rumah sakit, Acinetobacter baumanii akan memasuki tubuh manusia melalui luka terbuka pada tubuh, dan dari sana akan mendatangkan malapetaka pada tubuh.
    Sebelum 2003 infeksinya relatif jarang, tetapi pada tahun 2003 sejumlah besar tentara yang terluka kembali dari Irak ditemukan memiliki infeksi Acinetobacter baumanii. diperkirakan bahwa infeksi terjadi dari tanah, di mana bakteri dapat tinggal, dan dibawa kembali ke rumah sakit dengan cedera. Hal ini mengakibatkan kontaminasi silang dalam cara yang mirip dengan MRSA, dan akhirnya muncul pada warga sipil.

    Lebih buruknya lagi, Lima puluh lima persen dari semua bakteri baumanii A. yang ditemukan di rumah sakit, menjadi resisten terhadap tiga jenis antibiotik, dan 17% ditemukan resisten terhadap empat jenis - yang bisa berarti bahwa resistensi bakteri masih bisa berkembang. Hal ini juga dua kali lebih mungkin mengotori pakaian kesehatan pekerja dan sarung tangan seperti MRSA, yang berarti menyebar lebih cepat dan lebih mudah. Bakteri ini juga memiliki tingkat kematian hingga 50%, membuat bakteri ini menjadi salah satu bakteri yang sangat menakutkan.

Apakah kita penyebabnya?
    Bakteri penyebab penyakit yang kebal terhadap pengobatan antibiotik sekarang telah tersebar luas di setiap penjuru dunia dan telah mencapai” tingkat yang mengkhawatirkan ” di banyak daerah, menurut laporan global pertama mengenai masalah ini dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
    Para dokter di Amerika Serikat, termasuk mereka yang bekerja di US Centers for Disease Control dan Prevention, telah menggunakan kata-kata serupa yang sama tajamnya seperti “super-bakteri” dan ”bakteri mimpi buruk”. Mereka menyambut baik tindakan WHO dalam menyerukan tanda bahaya tentang masalah ini yang setiap hari ditemukan di rumah sakit – rumah sakit dan klinik-klinik dokter di AS.
    Penggunaan antibiotika yang tidak rasional dan berlebihan tidak hanya berdanpak pada ekonomi tetapi ternyata menimbulkan masalah kesehatan yang lebih mengerikan. Pemberian antibiotika yang berlebihan dan tidak terkendali saat ini membuahkan akibatnya berupa bakteri “Super Bug”. Rumah sakit adalah salah satu tempat paling mudah untuk terkena bakteri super bug. Karena, rumah sakit adalah tempat berbagai penyakit berbahaya yang potensial untuk berkembang. Para ahli di Amerika di CDC memperkirakan bahwa hampir 100.000 orang meninggal akibat bakteri superbug di seluruh rumah sakit setiap tahun. Hampir 1.700.000 pasien di rumah sakit terjangkit infeksi yang tidak ada obatnya ini.
    Pada tahun 2009, peneliti di Turki menemukan bahwa 95 persen handphone dokter dan perawat memiliki setidaknya satu strain bakteri, dan 35 persen memiliki dua jenis bakteri bersamaan. Yang mengejutkan ternyata pada satu dari delapan ponsel ditemukan bakteri superbugs MRSA. Ponsel tersebut dapat menyebarkan penyakit yang sangat mematikan.
    Pemakaian antibiotika berlebihan atau irasional juga dapat membunuh kuman yang baik dan berguna yang ada didalam tubuh kita. Sehingga tempat yang semula ditempati oleh bakteri baik ini akan diisi oleh bakteri jahat atau oleh jamur atau disebut “superinfection”. Pemberian antibiotika yang berlebihan akan menyebabkan bakteri-bakteri yang tidak terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resisten atau disebut “superbugs”.
    Orangtua juga sering sebagai faktor terjadinya penggunaan antibiotika yang berlebihan. Pendapat umum tidak benar yang terus berkembang,  bahwa kalau tidak memakai antibiotika maka penyakitnya akan lama sembuh. Tidak jarang penggunaan antibiótika adalah permintaan dari orang tua. Yang lebih mengkawatirkan saat ini beberapa orang tua dengan tanpa beban membeli sendiri antibiotika tersebut tanpa pertimbangan dokter. Antibiotika yang merupakan golongan obat terbatas, obat yang harus diresepkan oleh dokter dapat diakses siapa saja.  Runyamnya ternyata obat antibiotika tersebut mudah didapatkan di apotik atau di toko obat meskipun tanpa resep dokter.
    Hal yang masih menjadi penelitian sekarang adalah tentang sabun dan antiseptic yang menggadang-gadang tulisan “ANTIBAKTERIA”. Penelitian meragukan keampuhan sabun antiseptik membunuh bakteri. Bahkan kandungan zat kimia dalam sabun antiseptik tersebut dinilai berisiko mengganggu hormon dan memicu bakteri yang resisten terhadap obat. Penelitian juga mendapatkan peningkatan risiko yang muncul dari penggunaan bahan kimia untuk sabun itu. Food and Drug Administration (FDA) mengatakan, saat ini mereka sedang meninjau kembali keamanan penggunaan bahan kimia semacam triclosan untuk sabun.
    Berdasarkan penelitian terbaru, zat-zat kimia itu justru mengganggu kadar hormon pemakainya dan memicu pertumbuhan bakteri yang resisten terhadap obat. Pernyataan awal FDA adalah mendukung hasil penelitian yang menyatakan bahwa penggunaan zat antiseptik -kemungkinan terbaiknya- tidak efektif dan -kemungkinan terburuknya- mengancam kesehatan masyarakat. Kabar baiknya adalah antibiotik yang kita miliki masih dapat menanggulangi sebagian besar infeksi pada umumnya, kabar buruknya adalah timbulnya strain resisten bakteri lebih cepat dibandingkan penemuan golongan antibiotik terbaru. Jadi rasionalkanlah pemberian antibiotik anda dan hentikan bakteri sebelum bakteri tak terhentikan kembali seperti zaman pra antibiotik.

 

{oleh : dr. Harry Pribadi}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 42 (APRIL-JUNI 2015)

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar