Logo

THE POWER OF LOVE

Foto:CNTCD1 MSOffice
 THE POWER OF LOVE

 Sebuah keluarga terbentuk oleh karena pertemuan seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berproses untuk saling mengenal kemudian memutuskan untuk bersatu membentuk sebuah keluarga. Seorang laki-laki dengan latar belakang keluarga yang berbeda, pendidikan yang berbeda, kepribadian yang berbeda, fisik yang berbeda dan ada banyak perbedaan lainnya yang kemudian bertemu dengan seorang perempuan dengan latar belakang keluarga yang berbeda, pendidikan yang berbeda, kepribadian yang berbeda, fisik yang berbeda dan juga ada banyak perbedaan lainnya yang bisa muncul dimana keduanya ingin bersama mempertemukan perbedaan-perbedaan yang ada untuk disatukan . Penyatuan yang terjadi dipakai menjadi bagian untuk membentuk dan menciptakan keharmonisan dari perbedaan-perbedaan yang ada. Perbedaan-perbedaan yang muncul ketika dipertemukan dalam sebuah harmoni yang baik akan menghasilkan sesuatu yang lengkap, dalam perbedaan itu tercipta satu kondisi saling melengkapi. Demikianlah mereka tidak lagi dua melainkan menjadi satu daging dalam ikatan suami istri ( Kej. 1 : 24 ; Ef. 5 : 31 ).

    Cinta menjadi bagian penyatuan yang kuat antara seorang laki-laki dan perempuan ketika membentuk keluarga. Bahkan ada banyak kisah cinta yang melegenda yang menjadi contoh kekuatan cinta dalam relasi seorang laki-laki dan perempuan seperti kisah Romeo dan Juliet dari Eropa, kisah cinta Sam Pek Eng Tay dari Tiongkok, juga kisah cinta Pronocitro dan Roro Mendut di Jawa. Cinta yang mereka miliki membuat mereka kuat menghadapi pelbagai tantangan dan cintanya bersifat abadi. Cinta yang kuat menjadi dasar seorang laki-laki dan seorang perempuan membangun kesatuan.

    Hidup untuk saling melengkapi menjadi panggilan suami istri untuk menajalani hidup bersama, perbedaan tidak menjadi satu bagian yang membuat relasi suami istri rusak namun sebaliknya yang satu akan mencoba untuk menyatukan perbedaan itu menjadi sebuah energi yang mampu membangun kehidupan bersama. Seorang suami harus mampu mengasihi istri dan seorang istri mampu tunduk dan menghormati suami (  Ef. 5 : 22, 25 ). Mengasihi berarti bersedia menerima istri secara keseluruhan tanpa syarat , bersedia berkorban untuk istrinya, bersedia mengampuni untuk setiap kesalahan yang mungkin terjadi, sedangkan seorang istri harus bersedia dibimbing oleh suami terutama dalam hal iman karena suami adalah imam dalam sebuah keluarga, menerima suami secara keseluruhan, bersedia berkorban untuk suaminya dan bersedia mengampuni setiap kesalahan yang diperbuatnya. Lebih dari itu seorang suami harus menjadi teladan bagi istrinya dalam hal hidup spiritual, mental dan sosialnya, demikian juga hal yang sama harus dilakukan oleh seorang istri. Ketika apa yang menjadi firman Tuhan ini dilakukan oleh sepasang suami istri, maka berkat-berkat akan mengikuti kehidupan mereka.

    Berkat-berkat yang Allah sediakan menjadi bagian yang harus disyukuri, seperti berkat anak, kesehatan, pekerjaan, rejeki yang cukup, pendidikan dan masih banyak berkat lainnya . Tidak mudah sebuah keluarga menjaga berkat Tuhan untuk terus ada dalam hidup mereka. Namun yang harus dipahami adalah bahwa berkat itu diturunkan bagi orang-orang yang hidupnya benar di hadapan Allah, mengenal Allah dengan baik, taat, setia dan terus melakukan apa yang menjadi kehendaknya serta menjauhi perbuatan dosa. Allah menghendaki ketika berkat sudah hadir di tengah-tengah keluarga maka harus dikelola dengan baik. Janganlah berkat yang ada menghadirkan bencana dalam keberlangsungan hidup berkeluarga. Berkat yang Tuhan karuniakan sudah dirancangkan oleh Tuhan agar dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan dalam keluarga. Dengan terpenuhinya kebutuhan keluarga maka kehidupan seisi rumah tangga agar terpelihara. Anak-anak mampu terpenuhi apa yang menjadi kebutuhannya baik sandang, pangan maupun papan. Anak-anak dapat mendapatkan pendidikan yang layak, bertumbuh secara fisik, mental , spiritual dan sosial dengan baik. Anak-anak tidak hanya tercukupi secara materi namun lebih dari itu mendapatkan kasih sayang, didikan iman yang benar dan berbudi pekerti luhur, karena orang tua boleh memberikan didikan secara terus menerus dalam hidup bersama. Kasih dari orang tua menjadi kekuatan bagi anak-anak untuk dapat menjalani kehidupannya di luar . Anak-anak akan menjadi anak-anak yang peduli, senang berbagi, ringan tangan, empati, bersedia berkorban dan banyak hal positif lainnya yang dapat dibagikan oleh anak karena kekuatan cinta yang diterima dari orang tuanya. Seperti halnya Tuhan mengajarkan tentang kasih yaitu mengasihi Tuhan, namun lebih dari itu wujudkanlah kasih itu dalam kehidupan sehari hari kepada sesama kita.  

   Kasih yang benar-benar hadir dan tumbuh dalam kehidupan sebuah keluarga menjadi energi positif yang memberikan dampak positif bagi siapapun orang yang bergaul dengan mereka. Kasih mampu membuat seseorang tetap memiliki kesetiaan, sukacita, kesabaran, kemurahan, kelemahlembutan , penguasaan diri sehingga tercipta damai sejahtera dalam kebersamaan. Seorang suami yang tetap menaruh kasih di dalam hati dan pikirannya selalu akan menjaga ikatan kehidupan bersama dengan istri dan anak-anaknya. Kasih yang benar menghambat orang berbuat dosa. Seorang istri yang terus menjaga rasa kasihnya tetap hidup akan membuat ia terus menempatkan suami di dalam hati dan pikirannya. Orang tua yang terus menggantungkan rasa kasih di hati dan dahinya akan terus menjaga, melindungi dan mendidik anak-anaknya utnuk terus hidup benar di hadapan Allah. Anak-anak yang terus meneladan kasih dari orang tuanya akan hidup bermanfaat bagi siapapun.

    Pujian yang berjudul Kasih biarlah mengajar kepada kita sebagai suami atau istri, sebagai orang tua atau anak, mampu menjadikan kasih perilaku dan warna hidup kita sehari-hari.

Kasih tak sekedar kata-kata semata, ia nyata dalam perbuatan sehari-hari
Kasih lebih dari segala ilmu dan harta, ia menolong mereka yang lemah dan tak berdaya
Walau seluruh dunia engkau miliki, tanpa kasih tiadalah berarti
Walau seluruh ilmu engkau dapati, tanpa kasih tiadalah berarti
Kasih bagaikan pelita di malam hari, menunjukkan jalan bagi mreka yang tersesat
Kasih bagaikan mata air yang jernih, menyegarkan mereka yang penat dan dahaga

 

Oleh : Kartika Purwandari, SSi

 

Dimuat di Majalah Kasih Edisi 54

 

Tentang Penulis

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next HARTA YANG BERHARGA

Tinggalkan Komentar