Logo

TIGA KEBIJAKSANAAN HIDUP YANG SEDERHANA BERPIKIR, BERKATA, DAN BERTINDAK

TIGA KEBIJAKSANAAN HIDUP YANG SEDERHANA BERPIKIR, BERKATA, DAN BERTINDAK

1.  Berpikiran Yang Baik


Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. (Filipi 4:8)
    James Vuocolo mengatakan, “Beberapa menjalani kehidupan dan puas bahwa gelas itu setengah penuh. Yang lainnya menghabiskan seluruh hidupnya dengan penyesalan bahwa gelas itu setengah kosong. Kebenarannya adalah: ada sebuah gelas dengan sejumlah air di dalamnya. Setelah itu, terserah Anda.” Pilihlah cara pandang yang baik untuk mendukungmu berkembang dan berhasil. Orang mengalami kegagalan awal karena memiliki cara pandang yang salah. Ketika menghadapi tantangan mereka tidak pernah memiliki cara pandang yang bijak. Antara tantangan dan kesempatan tidak ada bedanya. Di balik tantangan pasti ada kesempatan, dan di balik kesempatan pasti ada tantangan. Cara pandang yang buruk akan membawa kita pada kegagalan lebih awal sebelum kita mempunyai kesempatan bertindak.
    Berpikirlah positif. Daripada mengeluh bahwa mawar itu penuh duri, bergembiralah bahwa semak duri itu memiliki bunga mawar yang indah dan harum. Berpikirlah positif pula. Dari pada mengeluh sepanjang hidup dihajar dan disesah dengan berbagai tantangan, permasalahan dan ujian, bersyukurlah karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.
Berpikilah positif. Bahwa segala sesuatu yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita selalu mendatangkan kebaikan. Tantangan ada supaya kita lebih kuat. Permasalahan ada supaya kita semakin dewasa dan bijaksana. Ujian ada supaya kita semakin dimurnikan sebagai umat kepunyaan Allah. Yakobus menguatkan, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.” Sebab dalam berpikir positif ada pancaran kegembiraan yang datang dari hati. Dan dalam hati yang penuh kegembiraan ada kekuatan untuk melihat janji Tuhan. “Dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu”. Mzm 37:4.
    Bentuklah pola pikir dan tujuan hidup yang benar. Kita pasti mempunyai sikap hidup yang baik. Jadi apa yang perlu kita pikirkan: semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji.
“Pikiran-pikiran positif terhadap kehidupan akan menumbuhkan semangat baru. Pikiran-pikiran yang negatif terhadap kehidupan akan merapuhkan semangat”.

2. Berkata-kata Yang Positif


Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya." (Lukas  6:45)
Dosa yang keluar dari mulut penuh fitnah, kebohongan dan kata-kata yang tidak benar seumpama bulu-bulu yang diterbangkan angin ke setiap penjuru. Untuk menebusnya kita harus mencari ke mana bulu-bulu itu di bawa angin dan mengumpulkannya satu persatu. Satu kata fitnah dan kebohongan akan menyebar lebih cepat dari bulu yang tertiup angin. Menyebar luas ditelinga orang, diucapkan lagi oleh orang lain dan menyebar lebih luas dan akhirnya tanpa batas. Bahkan, penyebaran kata-kata fitnah dan kebohongan akan menyebar “ada dan tidak ada angin”, “ikut ataupun melawan tiupan angin”.
Minta ampun saja tidak cukup sebab apa yang telah kita katakan mungkin saja sudah tertanam dalam hati dan pikiran mereka yang mendengar. Kemungkinan juga menimbulkan banyak korban yang lebih besar dari pada yang kita pikirkan. Orang bisa kehilangan pekerjaannya karena perkataan kita. Keluarganya jadi menderita dan hidup dalam kemiskinan. Orang mungkin juga kehilangan nama baiknya yang telah ia perjuangkan selama puluhan tahun hanya karena fitnah dan kebohongan yang kita ucapkan.
Hubungan cinta yang suci dan tulus putus karena perkataan kita. Kasihan dan disayangkan. Untuk mengembalikan pada keadaan semula lebih sulit daripada kita mengumpulkan bulu-bulu yang tertiup angin.
Ernest Hemingway merasa kesulitan dalam mengontrol kata-kata, sehingga ia mengatakan: “Orang memerlukan dua tahun untuk berbicara, tetapi lima puluh tahun untuk belajar tutup mulut”.  Ada hal yang mudah yang bisa kita kerjakan untuk menjaga kata-kata kita. Pertama, “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati”. Tatalah hati supaya darinya keluar perkataan yang baik dan bijak. Jauh dari fitnah dan kebohongan. Kedua, Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Mulutmu adalah sumber keselamatan. Jangan kau jadikan sumber kehancuran dan maut.

3. Bertindak Untuk Kebaikan


Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Matuis 7:21)
Ada sebuah batu besar yang menghalangi jalan. Seorang petani melintas. Ketika ia melihat sebongkah batu menghalangi jalannya, ia langsung mengomel. Setelah itu, lewatlah seorang prajurit, karena jalan kurang hati-hati, si prajurit tersandung batu penghalang dan marah-marah. Seorang pemuda miskin berjalan melewati jalan itu. Ketika melihat batu penghalang tadi, dia berkata dalam hati, "Hari sudah mulai gelap. Bila orang melintas di jalan ini dan tidak berhati-hati, pasti akan tersandung. Batu ini bisa mencelakai orang."
Walaupun letih karena telah bekerja keras seharian, pemuda ini berusaha memindahkan batu penghalang ke pinggir jalan. Setelah batu berhasil dipindahkan, pemuda itu terkejut melihat sebuah benda tertanam di bawah batu yang dipindahkannya. Di situ terdapat sebuah kotak dan sepucuk surat, yang isinya berbunyi, "Untuk rakyatku yang rela memindahkan batu penghalang ini. Karena engkau telah menunjukkan kerajinan dan kepedulianmu kepada orang lain, maka terimalah lima keping emas yang ada dalam kotak ini sebagai hadiah dari rajamu."
    Energi kita akan habis untuk berbicara, mengkritik dan ngomel-ngomel tidak karuhan. Hasilnya, tidak ada sejengkalpun yang bisa dirasakan hasilnya. Kritik hanya berakhir pada perselisihan. Ngomel-ngomel tak karuhan hanya berakhir pada kejengkelan. Energi habis tak lakukan apapun. Tak ada perubahan yang tampak. Kekecewaan dan keputusasaan yang dihasilkan.
    Lakukanlah tindakan nyata. Tuhan Yesus mengajarkan pada kita bahwa kerajaanNya tidak diberikan kepada mereka yang berteriak-teriak Tuhan, Tuhan. Tetapi pada orang yang melakukan setiap kebaikan yang telah Ia ajarkan. Melakukan kebaikan sekecil apapun akan lebih baik dari pada mereka yang berteriak tentang kebaikan-kebaikan tapi sama sekali tidak melakukannya. Tuhan maha hadir dan maha tahu, sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan pasti tidak luput dari pengetahuanNya. Kita akan mendapat balasan dari Tuhan. Jadi tetap lakukan hal-hal baik; besar ataupun kecil itu semua indah di mata Tuhan. Amin.

 

{oleh : Pdt. Yohanes Setyanto, S. Th}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 38 (APRIL-JUNI 2014)

Tentang Penulis

Patricia Putri

patricia putri

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next MEMULIAKAN SANG PENCIPTA ALAM

Tinggalkan Komentar