TIGA PELAJARAN HIDUP SEDERHANA

TIGA PELAJARAN HIDUP SEDERHANA

Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel. Sungguh, mereka sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang.
Yehezkiel  37:11

 

  Jangan Kehilangan Harapan
"Harapan adalah tiang yang menyangga dunia". Tanpa harapan dunia akan runtuh. Jiwa yang hidup tanpa harapan akan menjadi layu dan kering. Tua dan muda tidak ditentukan tahun-tahun yang telah berlalu, tetapi oleh kekuatan pengharapan. Orang muda bisa menjadi tua ketika jiwanya kehilangan harapan. Orang tua akan menjadi lebih muda dengan harapan-harapan yang besar yang masih terpendam dalam dirinya. Sebab harapanlah yang membangkitkan semangat. Karena itu dalam segala hal, berharap lebih baik daripada putus asa.
    Diane Roger: "Harapan, mimpi dan aspirasi anda adalah sah-sah saja. Mereka akan membawa anda terbang melintasi badai, dan jika anda membiarkannya, mereka akan membawa anda di atas awan-awan". Harapan adalah kekuatan untuk bertahan melewati berbagai rintangan dan tantangan. Sebab Tuhan selalu memberi kita kekuatan untuk terus berjuang meraih harapan kita. Alangkah bodohnya kita bila kehilangan harapan. Selagi kita masih percaya akan kekuatan Tuhan, teruslah berharap. Kehilangan pengharapan seperti tulang-tulang kering yang tak berdaya. Inilah yang dialami oleh bangsa Israel. "Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel. Sungguh, mereka sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang". Yehezkiel ditugaskan untuk membangkitkan tulang-tulang yang kering, artinya membangkitkan pengharapan mereka supaya ada semangat yang menyegarkan kembali tulang-tulang kering itu. "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Amsal 17:22)".
Albert Einstein: "Belajar dari hari kemarin. Hidup untuk hari ini. Milikilah harapan untuk hari esok. Yang penting jangan pernah berhenti untuk berharap". Terus pegang pengharapan. Sebab dari Allahlah pengharapan kita. "Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku."

Tidak Menyepelekan Hal-Hal Kecil
Penakluk pertama Mount Everest. Puncak tertinggi dunia di Pegunungan Himalaya, Sir Edmund Hillary pernah ditanya wartawan apa yang paling ditakutinya dalam menjelajah alam. Dia lalu mengaku tidak takut pada binatang buas, jurang yang curam, bongkahan es raksasa, atau padang pasir yang luas dan gersang sekali pun! Lantas apa? "Sebutir pasir yang terselip di sela-sela jari kaki," kata Hillary. Wartawan heran, tetapi sang penjelajah melanjutkan kata-katanya, "Sebutir pasir yang masuk di sela-sela jari kaki sering sekali menjadi awal malapetaka, la bisa masuk ke kulit kaki atau menyelusup lewat kuku. Lama-lama jari kaki terkena infeksi, lalu membusuk. Tanpa sadar, kaki pun tak bisa digerakkan. Itulah malapetaka bagi seorang penjelajah sebab dia harus ditandu." Harimau, buaya, dan beruang, meski buas, adalah binatang yang secara naluriah takut menghadapi manusia. Sedang menghadapi jurang yang dalam dan ganasnya padang pasir, seorang penjelajah sudah punya persiapan memadai. Tetapi, jika menghadapi sebutir pasir yang akan masuk ke jari kaki. seorang penjelajah tak mempersiapkannya. Dia cenderung mengabaikannya.
    Eling lan waspada kerap kita dengarkan sebagai ajaran Jawa. Dengan eling dan waspada kita diajarkan untuk menanggalkan keangkuhan dan kesombongan. Ojo adigang, adigung lan adiguna.
Adigang adalah sifat sombong karena mengandalkan kekayaan dan pangkat. Sifat adigang ini dapat mencelakakan seseorang, bahkan bisa jadi ia akan dicemooh orang lain. Keyakinan akan kemampuan diri yang berlebihan menumbuhkan rasa sombong, dan takabur, tidak lagi sadar bahwa ada hariamau yang merunduk-runduk di semak belukar menanti kelengahannya.
Adigung adalah watak sombong karena mengandalkan kepandaian dan kepintaran, lantas meremehkan orang lain. Orang yang sebenarnya bodoh, untuk menutupi kebodohannya kadang ia memperbodoh orang lain.
Adiguna adalah watak sombong karena mengandalkan keberanian dan kepintaran bersilat lidah. Sebenarnya keberanian dan kepintaran bersilat lidah itu hanya umbar swara atau besar mulut saja. Bila ia dihadapkan kepada permasalahan yang sebenarnya, ternyata tidak mampu menyelesaikan dengan baik.
    Seyogyanya, dalam kehidupan jangan sampai memiliki ketiga watak itu. Sebaiknya, bersikaplah sabar, tenang, hati-hati, dan waspada terhadap tingkah-laku orang lain serta hal-hal yang kecil yang kadang kita sepelekan seperti perkataan dan sikap hidup. Banyak konflik besar yang di mulai dari perkataan kecil. "Krician dadi grojokan", hal yang kecil akhirnya menimbulkan perkara yang besar.
     Eling lan waspada, hal kecil akan menjatuhkan kita. Tuhan Yesus mengibaratkan ragi yang kadang tidak sebanding dengan tepung. Tapi pengaruhnya luar bisa. Berjaga-jagalah dan teruslah berdoa supaya kita diberi kekuatan dan kesabaran untuk menghadapi segala sesuatu di depan kita dengan ketenangan.

Berani Mencoba
Seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104.000 kali selama setahun?" "Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?"
"Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?" "Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan. "Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?" "Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya. Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?" "Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias. Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.
    "Biarkan tantangan membangkitkan semangat juang anda. Anda tidak kemana-mana tanpa semangat juang yang baik. Jadi, jalankan. Dengan api di dalam hati, anda dapat mengendalikan kekuatan-kekuatan terpendam dan mendorong diri anda bertindak (Norman Vincent Peale)". Kalau kita tidak pernah berani mencoba, kita tidak pernah tahu kekuatan-kekuatan yang terpendam dalam diri kita. Sebab tidak dibutuhkan kekuatan besar untuk melakukan sesuatu, tetapi dibutuhkan kekuatan besar untuk berani memutuskan apa yang akan dilakukan. Akhirnya, kitapun bisa melakukannya.
    Kekuatan-kekuatan besar yang kita miliki untuk menghadapi hidup ini adalah ketekunan dan pantang menyerah sebelum mencoba. Tak ada yang mustahil bagi orang yang terus mencoba. Sebab manusia diberi kekuatan untuk terus bertahan dalam proses perjuangan hidup. Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil. "Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin. Dengan mencoba sesuatu yang tidak mungkin, anda akan bisa mencapai yang terbaik dari yang mungkin anda capai."
    Janganlah takut mengambil satu langkah besar jika memang dibutuhkan. Kita tak dapat menyeberangi jurang hanya dengan dua langkah kecil. Begitulah gambaran pelayanan para Rasul. Mereka harus berani mengambil satu langkah yang besar untuk menjalani kehidupan pelayanan. Meminta pertolongan Tuhan untuk memampukan mereka terus menjalankan misi memberitakan kebenaran Firman Tuhan. "Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu". Bila dipikirkan memang berat. Seperti harus menghadapi tembok yang tebal. Menyebrangi sungai yang dalam dan lebar. Berbekalkan pertolongan Tuhan dan keberanian  mencoba menghadapi, maka apapun yang menghalangi keberhasilan kita pasti akan bisa kita lalui. Yosua dengan pertolongan Tuhan dan berani mencoba, tembok Yerikho pun sanggup diruntuhkan. Musa dan bangsanya, berbekal pertolongan Tuhan dan keberanian mencoba, Laut Tiberau pun diseberanginya. Ketegaran hati mencoba menjalani kehidupan seberat apapun akan menjadi modal untuk meraih keberhasilan. Ingat, kita punya Tuhan yang berkuasa menolong kita dalam setiap kesulitan hidup.

 

Dibuat oleh : Pdt. Yohanes Setyanto, S. Th

*Dimuat dalam Majalah Kasih Edisi 47 ( Juli - September 2016 )

Dipost Oleh Patricia Putri

patricia putri

Post Terkait

Tinggalkan Komentar