Logo

TINGGALKAN AMARAH

dok:dedy
TINGGALKAN AMARAH

       Kehidupan akan terasa hampa tanpa adanya emosi. Di dalam emosi terdapat cinta, kemarahan, kesenangan, ketakutan dan berbagai rasa yang dapat memberikan semangat yang mampu memberikan warna dalam kehidupan. Yang dimaksud dengan emosi adalah pola dari kesadaran, fisiologis dan tingkah laku yang terjadi karena diri merespon suatu keadaan yang sedang terjadi. Dalam diri manusia ada dua jenis emosi yaitu emosi positif dan negatif. Emosi positif meliputi kesenangan, kepuasan dan cinta, sedangkan emosi negatif meliputi sedih, amarah dan stres. Jika yang ada pada kita adalah emosi positif akan membuat hidup kita selalu bahagia namun jika yang sering menguasai hidup kita adalah emosi negatif maka hidup kita akan menderita dan kita menjadi kehilangan kebahagiaan.

            Telinga kita pasti tidak pernah asing dengan ayat firman Tuhan ini “ Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” ( Ams. 17:22 ) dan “ Hati yang gembira membuat muka berseri- seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” ( Ams. 15:13 ). Jelas sekali bahwa hati yang gembira adalah obat terbaik, sedangkan emosi atau amarah yang meluap-luap justru dapat mendatangkan sakit penyakit. Karena itu tidak baik emosi negatif kita pelihara dalam hidup kita.

            Namun faktanya banyak orang lebih senang dirinya dikuasai dengan emosi yang negatif, terutama marah. Marah dapat didefinisikan sebagai gejolak emosi yang diungkapkan dengan perbuatan atau ekspresi untuk memperoleh kepuasan dan mencapai sebuah tujuan. Kemarahan dapat menguasai siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, status sosial dan lain sebagainya. Orang menjadi marah ketika sisi sensitifnya terganggu, baik disengaja maupun tidak disengaja.

            Berbagai penelitian menyatakan adanya hubungan antara perilaku temperamental seseorang dengan tingginya kasus penyakit jantung, hipertensi, stroke dan sebagainya. Bagi orang yang bermasalah dalam mengontrol emosi negatif khususnya kemarahan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih dari penyakit yang dideritanya. Untuk itulah kemampuan mengelola emosi dibutuhkan agar seseorang bisa hidup sehat dan bahagia. Emosi yang tidak terkontrol sehingga memicu timbulnya kemarahan pada diri seseorang dapat memicu munculnya kejahatan, seperti dikatakan dalam Maz. 37 : 8 yaitu “ Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. Jelas sekali firman Tuhan katakan bahwa salah satu akar kejahatan adalah kemarahan yang diawali dengan panas hati.

            Kemarahan seringkali dijadikan celah oleh iblis untuk menabur benih kejahatan. Bukankah ada banyak tindak kejahatan terjadi bermula dari seseorang yang tersulut amarah. Contoh sederhana seseorang yang sedang berkendara dan tersenggol kendaraan yang lain tanpa sengaja bisa saja kemudian marah-marah karena merasa dirugikan , perjalanannya menjadi terganggu sehingga terlambat waktu untuk tiba di suatu tempat. Muncul keributan yang berkepanjangan karena saling menyalahkan. Hal itu dapat menjadi keributan yang berlangsung lama. Padahal jika senggolan itu tidak berakibat fatal, bukankah bisa saling minta maaf, keduanya tidak terlambat dan yang muncul adalah kata-kata yang baik, persoalan itu bisa selesai dengan cepat . Firman Tuhan dalam surat Efesus 4 : 26-27 mengingatkan agar kita mampu mengendalikan kemarahan “ Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa, janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada iblis.” Jelas sekali iblis senang ikut campur tangan kepada orang yang sedang marah. Dengan pikiran yang posistif sebenarnya seseorang diberi kemampuan untuk dapat mengendalikan kemarahan. Dari yang posistif inilah maka relasi yang baik dan kemampuan untuk saling menerima satu dengan yang lain dapat terwujud. Ketika orang mau menempatkan orang lain lebih tinggi dari kita maka orang diberi kemampuan untuk membagi maaf saat kesalahan itu muncul, tidak ada dendam dan amarah yang menguasai.

            Bagaimana cara kita mengelola kemarahan yang dapat muncul dengan tiba-tiba, ada beberapa langkah agar kita dapat mengelola amarah sehingga yang tercipta adalah kedamaian jiwa. Kemampuan mengelola kemarahan juga menjadi salah satu cara melepaskan kemarahan agar tidak meledak-ledak. Inilah beberapa langkah mengelola amarah :

  1. Tenangkan diri

Jika kita merasa ingin marah dan sudah tak tertahankan, coba tenangkan diri sambil tarik nafas berulang-ulang. Isi pikiran kita dengan hal yang positif sehingga apa yang keluar dari kita baik ucapan dan tingkah laku adalah yang baik yang tidak merugikan . ( Pkb. 7:9 : “ Janganlah lekas marah-marah dalam hati, karena amarah menetap dalam orang bodoh”)

  1. Kenali permasalahan yang kita hadapi

Telusuri akar permasalahan penyebab kemarahan secara perlahan-lahan dan hati-hati.

  1. Cari solusinya

Setelah menemukan akar permasalahannya, lalu pikirkan jalan keluarnya . Jika perlu cari orang yang tepat untuk kita ajak berdiskusi tentang permasalahan yang kita hadapi,

  1. Pilih solusi terbaik

Dari berbagai solusi yang kita temukan, pilih yang terbaik sesuai dengan persoalan yang kita hadapi dan tidak menimbulkan akibat yang merugikan. Penuhi pikiran kita dengan hal positif.

  1. Evaluasi solusi

Evaluasi solusi kita, apakah benar atau masih ada yang perlu kita perbaiki agar menjadi tepat

  1. Beri reward pada diri kita

Berikan penghargaan pada diri kita, karena kita mampu mengendalikan amarah , ternyata kita mampu memiliki emosi yang positif yang menghasilkan pikiran, ucapan dan perbuatan yang baik. Kita juga mampu mengontrol emosi.

  1. Buatlah perubahan bila perlu

Berubahlah jika memang diperlukan. Bukan hanya perubahan solusi namun juga perubahan sikap, jika memang itu adalah jalan yang terbaik. Tentunya perubahan ke arah yang lebih baik.

Langkah-langkah tersebut tidak sulit jika kita mau menjalaninya dengan keyakinan bahwa ada kuasa Tuhan yang lebih yang akan menolong kita untuk mampu mengelola kemarahan yang muncul dalam diri kita.

            Menjadi orang yang bahagia adalah orang yang di dalam hidupnya mampu mengendalikan emosi negatif yang mewarnai hidupnya adalah emosi yang positif yaitu kesenangan, kepuasan dan cinta.. Sakit penyakitpun akan jauh dari orang-orang yang selalu memiliki emosi positif. Mari buang amarah dari diri kita dan jadikan hidup kita terus menjadi ciptaan yang selalu mendatangkan kebaikan ( Ef. 2 : 10 “ Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamNya”).

 

Oleh : Kartika Purwandari, S.Si.Teol

*Dimuat dalam Majalah Kasih Edisi 57

 

 

Tentang Penulis

Dedy

luck life

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next Edisi 68 pdf

Tinggalkan Komentar