Logo

TUBERKULOSIS

TUBERKULOSIS

BATUK
    Batuk adalah respon “alami” dari tubuh, khususnya sistem saluran pernafasan untuk mengeluarkan benda asing yang masuk atau kotoran dari dalam paru dan salurannya. Batuk menjadi tidak “alami” apabila disertai dahak yang tidak normal, terus menerus, tidak sembuh dengan obat batuk biasa, dan berlangsung sampai 3 minggu atau lebih. Hal ini menjadi mencemaskan karena issue Flu Burung yang mematikan itu, karena salah satu gejalanyapun adalah batuk. Tetapi survey WHO mengatakan bahwa pada tahun 1995 diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar 9 juta penderita baru TBC (Tuberculosis) dengan kematian 3 juta orang. Di negara-negara berkembang kematian TBC merupakan 25% dari seluruh kematian, yang sebenarnya dapat dicegah. Diperkirakan 95% penderita TBC berada di negara berkembang, 75% penderita TBC adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). Tahun 1995, hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TBC merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia, dan nomor satu (1) dari golongan infeksi. TBC adalah penyakit infeksi, tersering pada paru dengan gejala utama batuk.

Hal-hal yang perlu diwaspadai bersamaan dengan batuk adalah sebagai berikut:
1.    Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih.
2.    Batuk dengan gejala tambahan, seperti:
a.    Dahak bercampur darah atau batuk darah
b.    Sesak nafas dan rasa nyeri dada
c.    Badan lemah, rasa kurang enak badan (malaise)
d.    Nafsu makan menurun, berat badan turun
e.    Berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan
f.    Demam meriang lebih dari sebulan.

Gejala-gejala tersebut di atas dijumpai pula pada penyakit paru selain TBC. Oleh sebab itu setiap orang yang datang ke Unit Pelayanan Kesehatan dengan gejala tersebut di atas, harus dianggap sebagai seorang ”suspek Tuberkulosis”  atau tersangka penderita TBC, dan perlu dilakukan pemeriksan dahak secara mikroskopis langsung. Selain itu, semua kontak penderita TBC Paru BTA (Basil Tahan Asam) positif dengan gejala sama, harus diperiksa dahaknya. Seorang petugas kesehatan diharapkan menemukan tersangka penderita sedini mungkin, mengingat TBC adalah penyakit menular yang dapat mengakibatkan kematian. Semua tersangka penderita harus diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari berturut-turut, yaitu sewaktu – pagi – sewaktu (SPS). Untuk menunjang kepastian diagnosis TBC, perlu juga dilakukan foto Rontgen paru.
    Setelah seseorang didiagnosis TBC, penderita perlu menaati pengobatan yang telah ditentukan. Pengobatan TBC diberikan dua tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan. Pengawasan ketat dalam tahap intensif sangat penting untuk mencegah terjadinya kekebalan obat, dilakukan selama kurang lebih 2 bulan. Tahap intensif ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua OAT (Obat Anti Tuberkulosis), terutama Rifampisin. Bila diberikan secara tepat, biasanya penderita menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita TBC BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) pada akhir pengobatan intensif.
    Pada tahap lanjutan, penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten (dorman) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan, berlangsung selama 4-6 bulan, ada yang diberikan hanya 3x seminggu, ada pula yang diberikan tiap hari, tergantung pada kategori penderita TBC tersebut.
    Kategori-kategori tersebut digolongkan oleh WHO untuk memilah dosis obat dengan tepat sesuai kriteria penderita berdasarkan tingkat keparahan sakit  penderita TBC. Pengobatan  TBC yang tidak teratur dan kombinasi obat yang tidak lengkap di masa lalu, diduga telah menimbulkan kekebalan ganda kuman TBC terhadap OAT atau Multi Drug Resistance (MDR). Hal ini dipersulit dengan masa pengobatan TBC yang membutuhkan waktu yang lama, seringkali membuat penderita bosan. Untuk menjamin kepatuhan penderita menelan obat, pengobatan perlu dilakukan dengan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).

TUBERKULOSIS
    Tuberculosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus, yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.
    Sumber penularan adalah penderita TBC BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan. Setelah kuman TBC masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman TBC tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.
    Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TBC ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TBC.
    Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus, dan terus berjalan sehingga sampai di alveolus dan menetap di sana. Infeksi dimulai saat kuman TBC berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru. Saluran limfe akan membawa kuman TBC ke kelenjar limfe di sekitar hillus paru, dan hal ini disebut sebagai kompleks primer Ghon. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah sekitar 4-6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas selular). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TBC. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persisten atau dormant (tidur).
    Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu menghentikan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita TBC. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan untuk mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan. Sedangkan Tuberkulosis pasca primer (Post Primary TBC), biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari Tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura.
    Komplikasi berikut sering terjadi pada stadium lanjut:

  1. Hemoptisis (batuk darah) berat
  2. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial
  3. Bronkiektasis dan fibrosis
  4. Pneumothorax
  5. Penyebaran infeksi ke organ lain
  6. Insufisiensi Kardio Pulmoner
    Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah sakit.   

     Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50% dari penderita TBC akan meninggal, 25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi, dan 25% sebagai ”kasus kronik” yang tetap menular (WHO, 1996).

PENUTUP
     TBC sangat mematikan, maka sangatlah bijaksana apabila Anda batuk seperti yang sudah dijelaskan di atas ataupun Anda menemukan orang-orang di sekitar Anda dengan gejala seperti yang telah disebutkan di atas, segeralah periksa di layanan kesehatan terdekat atau dokter Anda.



Sumber (Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Cetakan ke-8. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta: 2002, Laporan Kasus RSUD Dr. Soeselo. Seorang Wanita dengan TB Paru dan Diabetes Mellitus. Roger Leo. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. 2004, Laporan Kasus RSUD Dr. Soeselo. Seorang Anak dengan Tuberkulosis Milier dan Gizi Kurang (Riwayat Malnutrisi Kronik). Riana Yoseferta. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. 2006).***

{oleh : Dr. Mahabara Yang Putra}

 

*Dimuat dalam Majalah Kasih edisi 16 (OKTOBER-DESEMBER 2008)

Tentang Penulis

Patricia Putri

patricia putri

Prev Mengenal Penyakit Reumatik Lupus Eritematosus Sistemik
Next GIGI BAYI ANDA BELUM TUMBUH

Tinggalkan Komentar